BABY ALUNA

BABY ALUNA
Tolong Sayang


__ADS_3

Aunty Airin dan aunty Chu tiba-tiba berdiri keluar dari ruangan baby. Mereka menuju ke kantin rumah sakit dan mengambil paket pesanan online aunty Airin yang berisi baju ganti untuk mommy Jane gunakan. Di sepanjang lorong rumah sakit aunty Airin dan aunty Chu berbincang.


"Unn, baby kuatkan?" tanya aunty Chu tiba-tiba menangis, karena dari tadi ia menahan tangisnya.


"Ya, baby kuat," jawab aunty Airin yang sedari tadi sudah menahan tangis.


"Aku tidak ingin Jane seperti dulu waktu di tinggalkan Laskar dan baby, unn," ucap aunty Chu mengingat kondisi mommy Jane dulu ketika di tinggal daddy dan baby.


"Tidak, baby akan kumpul bersama kita. Dia tidak akan kemana-mana," aunty Airin menguatkan dan menyakinkan, padahal dirinya sendiri takut. Mereka kembali keruangan baby.


"Ayo makan dulu, dan Jane ganti terlebih dahulu bajumu," ajak aunty Airin pada aunty's dan mommy Jane.


"Ya unn," saut mommy Jane menurut. Sementara aunty's membantu menyiapkan makanan mereka.


"Hah, cepat bangun sayang. Aunty merindukan mu," kata aunty Osi saat sedang menunggu mommy Jane mengganti baju di kamar mandi ruang VIP baby.


"Kita doakan yang terbaik untuk baby, ya," saut aunty Airin menenangkan aunty Osi.


Setelah beberapa saat mommy Jane keluar dari kamar mandi, mencium kepala baby dan barulah ia ikut bergabung untuk makan bersama aunty's baby.


"Selamat makan," seru aunty Joy, untuk membangun suasana yang tidak terkesan kaku.


"Berdoa dulu," tegusr mommy Jane mengingatkan.


Seketika aunty's teringat dengan kebiasaan baby yang selalu memperingatkan dan memimpin doa sebelum makan dan melakukan hal apapun itu, seketika suasana yang kaku menjadi sendu.


"Ya," saut aunty's.


Mommy Jane memimpin doa.


"Aamiin," Mommy J dan aunty's setelah berdoa.


***


Klik ... Pintu ruangan baby terbuka dan masuklah daddy Kim.


"Sayang," panggil daddy Kim menghampiri mommy Jane yang duduk menggenggam tangan baby dan sedari tadi memperhatikan baby yang belum juga sadar.


"Daddy," lirih mommy Jane berdiri dan memeluk daddy Kim. Dia menangis dan mengadu kesakitan hatinya pada daddy Kim.

__ADS_1


"Bunuh dia daddy, bunuh dia. Dia buat baby koma, baby di tusuk, badan baby di cambuk, darah dad, darah, darah baby kemana-mana. Daddy bunuh, daddy bunuh!" lirih mommy Jane pecah sudah tangisnya yang kesekian kalinya karena mengingat kejadian buruk yang menimpa baby.


Daddy Kim memeluk erat anaknya, mengusap punggung mommy Jane dan mencium rambut mommy Jane. Daddy Kim meneteskan air mata mendengar penuturan mommy Jane. Daddy Kim merasakan kesakitan hati yang sama dengan putrinya.


"Ya sayang, tenangkan dirimu, ya. Daddy akan membalas perlakuan Kelvin pada baby. Kamu harus kuat demi baby, sayang," ucap daddy Kim.


Mommy Jane hanya diam saja dia menikmati pelukan daddynya. Dia benar-benar butuh pelukan dan tempat berkeluh kesah dengan suasana hatinya saat ini.


Aunty's yang mendengar nama Kelvin sebagai pelaku dari penculikan baby mereka terkejut. Hanya karena hal sepele dimana mommy Jane dan aunty's menolak satu meja dengan Kelvin dia tega melakukan penculikan pada baby. Benar-benar di luar nalar mereka.


Setelah dirasa tenang, daddy Kim melepaskan pelukannya pada mommy Jane dan membisikkan sesuatu pada baby.


"Cucu kesayangan grandpa. Maaf, karna grandpa tidak mengantar baby sekolah di hari pertama. Padahal grandpa sudah berjanji pada baby. Maaf lagi-lagi grandpa gagal menjaga baby. Sayang, jangan tidur lama-lama, ya. Kalau pun baby tidur karna marah dengan grandpa, tolong marahnya jangan lama-lama sayang. Mommy, grandpa dan aunty's baby menunggu dan merindukan baby, sayang. Bangun sayang," tutur daddy Kim meneteskan air mata setelah mengatakan hal itu pada baby ditambah ia melihat luka bekas jahitan dan cambukan ditubuh cucu kesayangannya.


"Daddy keluar sebentar, ya. Tolong kabari perkembangan baby," pamit daddy Kim pada mommy Jane, raut wajah daddy Kim tidak bersahabat, seperti orang yang ingin berburu mangsa.


"Ya dad," saut mommy Jane.


"Uncle titip Jane dan baby," ucap daddy Kim pada aunty's.


"Ya uncle," jawab aunty's serentak.


***


"Mati kau, berani sekali kau lakukan itu pada cucuku hah!" bentak daddy Kim diruang bawah tanah sudah ada beberapa penjaga dan Stiff, tidak hanya itu disana juga sudah ada orang tua Kelvin.


"Hahah, bagaimana kabar cucu kesayangan mu tuan. Putrimu terlalu sombong dan angkuh. Dia menolak mentah-mentah diriku dan mempermalukan diriku di depan teman-temannya. Bukankah sudah seharusnya di berikan pelajaran agar dia sadar dari kesombongannya itu tuan," ucap Kelvin sombong.


Kelvin di ikat di kursi, dia belum menyadari kalau orang tua nya juga berada di ruang bawah tanah itu, mereka beda ruangan.


"Aku bangga dengan putriku, wajar saja dia sombong. Kau memang pantas di perlakukan seperti itu, dan syukurlah aku tidak mengiyakan ajakan orang tua mu untuk menerima perjodohan putriku dengan pria psikopat sepertimu!" tekan daddy Kim.


"Hahah, bocah itu sudah matikah? Ah, mana mungkin dia bertahan bukan, hahah, bagaimana putrimu yang sombong itu? Dia sudah gila kah karena melihat putrinya tak bernyawa lagi, hahah, aku turut bahagia," ledek Kelvin dengan percaya diri.


"Jaga ucapanmu, cucuku bernapas dengan baik. Kau akan menerima pembalasan atas perbuatan mu!" tekan daddy Kim memberikan kode pada Stiff untuk membawa masuk kedua orang tua Kelvin.


"Hahah, lihat bagaimana kalau orang tuamu mati terlebih dahulu!" ledek daddy Kim balik, memberikan kode pada Stiff untuk menembak kepala kedua orang tua Kelvin.


"Tidak, jangan sentuh mereka, mereka tidak salah!" pekik Kelvin menjerit melihat kedua orang tuanya yang sudah pingsan dan di todongi pistol di kedua kepala orang tuanya.

__ADS_1


"Hahah, maaf? Kau membuat cucuku yang jelas-jelas tidak bersalah menjadi korban dari sifat psikopatmu, sekarang rasakan bagaimana rasanya?" sarkas daddy Kim dengan suara besarnya.


"Tidak!" pekik Kelvin berteriak sembari menutup mata.


Dor ...


Dor ...


Dua peluru melayang tepat di kepala dan jantung Kelvin. Kelvin seketika mati di tempat dengan posisi duduk, kaki dan tangan masih terikat.


"Urus mayatnya dan asingkan orang tuanya!" perintah daddy Kim meninggalkan ruang bawah tanah.


Sementara Stiif dan anak buahnya mengurus perintah dari daddy Kim.


***


Hari demi hari sudah berlalu, tepat hari ke 5 baby masih belum sadar juga. Pagi ini mommy Jane tidak bisa menjaga baby. Karena mommy Jane menghadiri rapat yang memang mengharuskan untuk hadir sebagai CEO dari Kim Company. Baby sedang di jaga aunty Osi dan aunty Chu, karena diminta mommy Jane untuk mengganti dirinya sebentar.


"Hai kesayangan aunty, pagi ini aunty's yang menjaga baby. Mommy baby sedang rapat sayang. Baby cepat bangun, ya," ucap aunty Osi mencium kening baby.


"Unn, aku ke kamar mandi sebentar," pamit aunty Osi ke kamar mandi pada aunty Chu.


Aunty Chu menganggukkan kepala, ia bergeser menggantikan posisi aunty Osi.


"Sayang bangun, mommy dan aunty's merindukan baby. Baby tidak kasihan dengan mommy baby yang setiap hari menangis, merindukan baby. Bangun sayang, mommy baby seperti manusia tak bernyawa," ucap aunty Chu setelah selesai mengatakan itu, tiba-tiba tubuh baby kejang-kejang. Aunty Osi baru keluar dari kamar mandi.


Klik ...


"Unn, baby kenapa?" tanya aunty Osi cemas memegangi tubuh baby.


Aunty Chu belum menjawab, dia segera menekan tombol panggilan yang terhubung ke Dokter. Selang beberapa saat, Dokter dan Suster datang dengan tergesa-gesa.


"Miss tolong keluar, kami akan mengambil tindakan penanganan," ucap Suster.


Aunty Chu tanpa basa-basi langsung menyeret aunty Osi keluar dari ruangan, agar Dokter segera menangani baby.


"Unn, baby, baby unn," lirih aunty Osi menagis di pelukan aunty Chu. Sementara aunty Chu memeluk aunty Osi sembari mencoba menelepon mommy Jane.


"Ke rumah sakit sekarang!" ucap aunty Chu dengan nada tegas dan langsung mematikan panggilan telepon dengan mommy Jane.

__ADS_1


__ADS_2