
"Wah bagus sekali mommy, ramai sekali orang-orang di agensi aunty Chu," ucap baby.
"Hahah, baby nanti akan terkejut lagi setelah melihat perusahaan mommy baby," ujar Falensia memberhentikan mobil di parkiran khusus untuk geng's yang di sediakan aunty Chu.
"Benarkah mommy?" tanya baby penasaran dengan yang dikatakan Falensia.
"Aunty Airin berlebihan sayang. Perusahaan mommy hanya perusahaan kecil," elak mommy Jane memegang tangan baby setelah keluar dari mobil aunty Airin.
"Iya by, saking kecilnya terdiri dari 33 lantai," kata aunty Airin.
"Wah, itu sangat tinggi mommy. Apa boleh baby lain waktu ke perusahaan mommy?" tanya baby sembari mereka berjalan menuju lift untuk ke ruangan aunty Chu.
"Tentu, baby bisa kapan pun kepurusahaan baby sendiri, itu milik baby, mommy hanya bekerja saja disana," jawab mommy Jane, karena perusahaan itu nantinya toh akan menjadi milik anaknya.
"Tidak, itu milik mommy, mommy yang bekerja. Jadi itu milik mommy. Baby tidak mau kerja kantor, baby suka ambil-ambil foto saja mommy," tutur baby.
"Hahah, iya sayang. Apa pun cita-cita baby, akan mommy dukung," kata mommy Jane mengusap rambut anaknya yang saat ini mereka sedang berada di dalam lift.
"Baby suka mengambil gambar? Maksudnya ingin menjadi fotografer sayang?" tanya aunty Airin.
"Iya aunty, itu maksud baby. Baby suka melihat kecantikan dari setiap hal yang baby bisa abadikan di dalam kamera," jawab baby.
"Oh, baby tahu dari mana hal yang seperti itu?" tanya aunty Airin.
"Daddy. Daddy suka mengambil banyak gambar setiap kali kami menghabiskan waktu di luar. Tapi daddy bilang kalau objek favorit daddy adalah baby. Jadi kamera daddy kebanyakan foto baby aunty," jawab baby menjelaskan dengan senyum.
"Wah, baby punya kamera sendiri?" tanya aunty Airin.
"Tidak, waktu Mimi ingin membelikan baby kamera. Daddy bilang baby harus berusaha sendiri untuk mendapatkan sesuatu yang baby inginkan. Dan baby masih kecil untuk memiliki kamera," tutur baby.
"Nanti akan mommy belikan untuk baby," kata mommy Jane menyahuti obrolan baby dan aunty Airin.
"Tidak mommy, baby tidak memiliki uang. Nanti saja kalau baby sudah besar," tolak baby.
"Tak apa sayang, anggap saja kamera baby nanti adalah hadiah pertama dari mommy untuk baby, bagaimana sayang?" tanya mommy Jane.
"Benarkah mommy?" tanya baby balik, untuk memastikan penawaran mommynya.
"Tentu, ayo kita temui aunty's baby dulu," ajak mommy Jane, baby dan aunty Airin keluar dari lift menuju ruangan aunty Chu.
__ADS_1
Klik ... Pintu ruangan aunty Chu terbuka masuklah baby terlebih dahulu kemudian mommy Jane dan aunty Airin terakhir.
"Hai aunty's," sapa baby pada aunty's yang sedang duduk di sofa sembari memakan camilan.
"Hai baby," balas aunty's berhenti sejenak mengemil untuk membalas sapaan baby.
"Kemari duduk di pangkuan aunty, aunty merindukan baby," pinta aunty Chu sembari mengenyampingkan tangan kanannya yang sedang memegang chikin pedas. Baby menoleh pada mommy Jane, seperti berkata 'mommy bolehkah', dijawab anggukan dari mommy Jane. Melihat respon mommynya, baby langsung duduk di pangkuan auntynya, menyandarkan tubuhnya pada dada auntynya.
"Wah, sedang pesta ni," seru aunty Airin menghampiri mereka duduk di sebelah aunty Joy yang sedang makan chikin juga.
"Tidak unn, kami hanya ngemil saja sembari menunggu unnie, mommy Jane dan baby kemari," kata aunty Nayla yang di sebalahnya ada mommy Jane.
"Baby ingin chikin sayang?" tanya aunty Chu pada baby yang berada di pangkuannya.
"Terima kasih aunty, but baby masih kenyang. Aunty, aunty tahu tidak. Tadi baby diajak berkeliling dengan aunty Airin melihat perusahaan aunty Airin dan baby di berikan buku yang baru kemarin terbit," ucap baby cerita antusias.
Di antara aunty yang lainnya memang dengan aunty Chu, Baby lebih terbuka seperti memiliki teman bermain sebaya, karena aunty Chu menempatkan dirinya sebagai teman untuk baby.
"Wah, itu sangat keren. Baby suka membaca juga ternyata," puji aunty Chu menanggapi cerita baby, yang lainnya sesekali menyimak sambil berbincang.
"Sangat keren aunty, baby like dengan perusahaan aunty Airin. Baby cepat menyelesaikan buku yang aunty Airin berikan pada baby dan baby akan menceritakannya pada aunty, jadi aunty tunggu saja oke. Iya, baby suka membaca, kata daddy orang yang punya ilmu pengetahuan dari banyak membaca itu lebih baik dari pada memiliki banyak uang. Tapi tidak mengisi otaknya dengan ilmu aunty. Daddy dan mimi juga setiap hari akan membacakan baby buku, jadi baby terbiasa dan mencinta dengan buku," ungkap baby dengan semangatnya.
"Kalian tahu, selama aunty mengajak baby berkeliling kantor penerbitan. Baby banyak memberikan masukan yang menurut aunty itu masuk untuk di benahi untuk membuat karyawan lebih nyaman dan bekerja lebih maksimal lagi," imbuh aunty Airin ikut campur dalam obrolan aunty Chu dan baby.
"Baby jenius sekali, tidak seperti mommy baby seperti anak-anak," ledek aunty Nayla.
Padahal jelas-jelas di sampingnya ada mommy Jane yang sudah bersiap mengangkat tangan ingin memberikan sentuhan manja di lengan aunty Nayla.
"Yak, apa kau bilang hah!" pekik mommy Jane mengangkat tangan ingin menabok aunty Nayla.
"Tidak mommy, tidak!" pekik baby tiba-tiba berteriak di pangkuan aunty Chu dengan sangat keras, hingga membuat aunty's terkejut dan mommy Jane tidak jadi menabok aunty Nayla. Mereka semua terdiam, hingga mendengar lenguhan dari bibir baby.
"No paman no itu menyakitkan, cukup, cukup baby tidak sanggup itu sakit paman, no, no, no," pekik baby sembari menangis, traumanya kembali berputar melihat hal yang dilakukan mommynya.
"Oh, baby, maaf sayang mommyhanya bercanda sayang," sesal mommy Jane berjalan ke arah aunty Chu hendak
mengambil baby. Tapi baby malah membalikkan tubuhnya memeluk leher aunty Chu dan menangis tersedu-sedu di sana.
"Au-nty, tolong gen-dong ba-by, baby tak-ut mom-my. Mom-my ja-hat," pinta baby menangis tersedu-sedu di leher aunty Chu.
__ADS_1
"Iya sayang," kata aunty Chu langsung meletakkan ayamnya, mengelap tangannya dan menggendong baby membawa baby keluar dari ruangannya mengajak berkeliling agensinya untuk mengembalikan mood baby.
"Sayang, hei, maafkan mommy," bujuk mommy Jane berdiri hendak menyusul baby dan aunty Chu, tapi di tahan aunty Airin.
"Biarkan Jichu menenangkan baby terlebih dahulu," kata aunty Airin.
"Sepertinya trauma baby kembali unn," ujar aunty Joy.
"Maafkan aku Jane, aku hanya bercanda tadi. Tidak tahu kalau sampai membuat baby seperti itu," sesal aunty Nayla.
"Tidak, bukan salahmu Nay. Ini salahku yang tidak berhati-hati dalam menyikapi trauma baby. Baby sangat sensitif dengan hal-hal yang bisa membuat ingatannya kembali ke penyiksaan yang ia terima dari si berengsek itu. Harusnya aku lebih peka lagi dengan hal itu," sesal mommy Jane dengan wajah sendunya bersalah setelah melihat ingatan anaknya kembali.
"Si berengsek sudah di urus unn? Tolong katakan pada uncle buat dia lebih menderita lagi," pinta aunty Joy dengan emosi menggebu-gebu karena tak tega melihat kondisi keponakannya.
"Sudah, bahkan daddy mempercepat kepulangannya Korea. Setelah unnie menceritakan apa yang dilakukan
si berengsek itu pada baby," tutur mommy Jane dengan menitihkan air mata. Dia sangat bodoh, dia dulu begitu mati matian mencintai Hans, dan begitu mati-matian juga membenci anak dan suaminya sendiri. Karena ke bodohannya sendiri, anaknya ikut terkena imbasnya.
"Syukurlah, uncle benar-benar menyayangi cucunya," puji aunty Nayla.
"Itu lebih baik Jane, semakin cepat uncle pulang, semakin cepat juga berengsek itu mendapat hukuman. Aku tidak terima anak sebaik baby di perlakukan seperti itu," imbuh aunty Airin dengan emosinya berjalan ke arah mommy Jane dan memeluknya, aunty Joy dan aunty Nayla ikut juga memeluk mommy Jane.
"Kami akan menyayangi, melindungi dan ikut mengurus baby. Karena kami auntynya. Jangan merasa sendiri, berbagi pada kami," ucap aunty Airin dengan tulus dan diangguki ucapannya oleh aunty Joy dan aunty Nayla.
"Unnie mommy terthe best untuk baby," kata aunty Joy.
"Kau pasti bisa menjadi mommy terbaik untuk baby, Jane. Kami mendukungmu," sambung aunty Nayla. Mereka masih berada di kondisi saling berpelukan, hingga beberapa saat mereka melepaskannya.
"Ah, jam berapa Rose akan tiba di bandara?" tanya aunty Airin pada aunty Nayla dan aunty Joy.
"1 jam lagi unn, dia terakhir kali mengirim pesan padaku," ucap aunty Nayla.
"Ah, tak sabar melihat adik bungsu kita. Semakin bule saja, ditambah warna rambutnya," ujar aunty Joy.
"Iya, memang lain penyanyi internasional satu itu," ucap aunty Airin sembari melihat mommy Jane yang hanya diam menatap kosong, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Jane, jangan pikirkan tindakan baby tadi. Unnie yakin Jichu pasti bisa menangani baby," tutur aunty Airin memegang tangan mommy Jane mengelus nya untuk mengembalikan kesadaran mommy Jane.
"Iya unn," saut mommy Jane.
__ADS_1