
Tahun 2000
Aku Aldiansyah, pengawas pekerja sebuah perusahaan garment. Sudah 5 tahun aku bekerja di sini, dulu sebagai karyawan biasa, kini aku sudah diangkat menjadi pengawas, yang bisa berkeliling, bukan duduk di depan deru mesin seperti pertama kali aku datang kemari.
Aku hanya lulusan SMA dari kampung pinggiran, jauh dari kota Bandung. Aku nekat pergi merantau dan hingga kini belum memberi kabar ataupun berkirim surat. Mungkin keluargaku sudah menganggap aku hilang atau menjadi gelandangan dan tidak berani pulang.
Memang keterlaluan tapi itulah yang terjadi, aku enggan pulang sebelum sukses.
Disini aku tidak memiliki saudara, hanya teman yang dulu mengajakku bekerja di tempat ini, tapi dia sudah pindah ke Kalimantan. Tapi tak jadi masalah bagiku, dimana saja jika kita baik, maka akan memiliki teman dan saudara.
Suatu hari aku berkeliling mengamati kerja karyawan. Aku melihat seorang karyawan baru, gadis muda berambut lurus, dikepang satu ke belakang, mata indah, bulu mata lentik, beralis tebal.
"Jangan begitu memasangnya!" Aku tegur pekerjaannya yang tidak benar. Dia tampak kaget dan gugup, pipinya memerah, matanya tampak akan menangis. Aku merasa iba melihat wajahnya.
"Siapa namamu, anak baru ya!?" Tanyaku padanya.
"Nurmala Mas, eh Pak!" jawabnya.
Aku merasa matanya sangat indah menusuk hati saat sekilas mata kami bertemu.
"Begini cara mengerjakannya Nurma, perhatikan cara memegang kainnya!" Aku memberi contoh sambil sesekali melirik ekspresinya yang lugu. Sungguh, dia cantik sekali, atau hatiku yang sudah terpikat pada pandangan pertama?.
Sejak itu tanpa sepengetahuannya, aku mulai mencari informasi tentang Nurmala. Dia baru lulus SMA, dari sebuah desa terpencil di Jawa Barat. Berbekal kemampuan les menjahit di desanya Nurmala merantau ke kota Bandung, mencari pengalaman sekaligus mencari uang untuk membantu kehidupan orang tuanya.
Suatu pagi pukul 07: 30 WIB semua karyawan sudah berbaris apel sebelum masuk kerja, aku mencari sosok Nurmala, tapi tak tampak diantara barisan perempuan. Lima belas menit apel sudah berjalan, tiba-tiba dia berlari dari pintu gerbang.
Setelah apel selesai, semua berjalan teratur menuju mesin masing-masing.
"Nurmala, ke ruanganku!" Perintahku tegas, seperti orang marah. Dia tertunduk karena merasa bersalah.
Dia masuk, duduk di depanku sambil menunduk, "Mengapa kamu terlambat!?" tanyaku tegas.
"Maaf Pak Aldi, tadi malam saya tidak bisa tidur, pemadaman listrik dari pukul sepuluh hingga pukul dua dini hari, selama itu pula saya tidak bisa tidur. Jadi telat bangun" ucapnya polos.
__ADS_1
Hatiku merasa iba mendengarnya, tapi aku harus tetap tegas. " Hah, Alasan!..Apa kamu tidak punya lilin atau alat lain?, sehingga tetap terang dan kamu bisa terlelap?!"
"Nggak punya Pak, mau beli sudah larut malam toko pada tutup, jadi saya memejamkan mata tapi juga nggak bisa tidur." papar Nurmala.
Aku tertegun mendengar ceritanya, ternyata ada orang takut gelap sampai nggak bisa tidur, ini unik dan menyedihkan.
"Oke, silahkan kamu masuk kerja, jangan telat lagi!" kataku tetap memperingatkan. Nurmala mengangguk lemah, bulu lentik matanya berkedip-kedip membuatku iba.
Nurmala melangkah pergi menuju mejanya, aku ikut berdiri kemudian berkeliling mengecek pekerjaan karyawan. Aku melihat seorang pria di samping meja Nurmala. Aku mendekat.
"Soni, kembali ke pekerjaanmu!" perintahku. Merasa terpergok Soni clingukan menuju meja kerjanya yang berada di barisan seberang meja Nurmala
Saat pulang kerja, Soni sudah mengikuti langkah Nurmala menuju angkot langganan. Melihat bahasa tubuh dan pandangan matanya, Soni naksir Nurmala. Aku merasa tidak suka dengan sikapnya.
Sialnya, angkot langganan mereka juga kendaraan yang biasa aku tumpangi. Aku masuk paling akhir, sehingga duduk dekat pintu. Soni dan Nurmala duduk berdampingan di jok belakang menghadap ke depan.
Nurmala tampak kikuk melihatku ikut masuk angkot, aku pura-pura tak melihatnya. Angkot melaju diantara deru kendaraan kota, sebagian penumpang sudah turun, tinggal empat orang, Aku, Soni, Nurmala dan Niha teman kostnya.
Angkot kembali melaju, tinggal Aku dan Soni masih duduk berdua dalam angkot, dia diam tanpa kata, begitu juga aku hanya memandang jalanan. Sebentar kemudian aku sampai di kontrakan. "Mampir Son!" Basa basiku padanya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Soni masih melaju bersama angkot.
Saat itu Minggu pagi, aku biasa berjalan santai menikmati libur sambil berolahraga berkeliling kompleks, dan perkampungan bersama Rudi teman kostku. Aku sengaja memilih jalur yang tidak biasa, kali ini aku meminta Rudi untuk mengikuti ruteku, tujuanku agar bisa melewati tempat kost Nurmala.
Kami terus berjalan sambil berbincang, dalam hati aku berharap saat aku lewat, Nurmala sedang berada di depan kompleks, sehingga aku bisa melihat senyumnya. Aku tak mengerti sejak pertama, aku selalu ingin memandang wajah polosnya.
Hatiku berdebar ketika mendekati tempat Nurmala. Aku pelankan langkah saat tepat berada di depan tempat kostnya, "Ah, sayang pintu Nurmala tertutup rapat."
Kami terus berjalan hingga alun-alun kota. Dari kejauhan aku melihat sosok gadis yang ingin aku lihat. Nurmala dan Niha sedang duduk di sudut alun-alun, dan Soni ada bersamanya.
Aku memilih sudut lain untuk beristirahat, Aku membeli dua botol air mineral, untukku dan Rudi. "Bagaimana kantormu Rud?" tanyaku menghibur diri.
"Masih sama Al, sepertinya tinggal menunggu waktunya saja!, pemangku jabatan sendiri yang menjadi rayapnya!" kata Rudi. Dua tahun aku berteman satu kontrakan, dia bekerja di sebuah KSP yang tidak jauh tempatnya.
Aku melihat Nurmala, Niha dan Soni berjalan meninggalkan alun-alun. Aku pun mengajak Rudi untuk pulang.
__ADS_1
"Aku kok lemes ya Rud!, naik angkot yuk!" keluhku, Rudi mengikuti langkahku ke pinggir jalan menghentikan angkot.
Tak lama kemudian ada angkot lewat, menawari kami tumpangan,. Ketika kami masuk, ternyata tiga orang itu sudah ada di dalam.
"Sepertinya kalian tadi sudah pulang?" tanyaku.
"Masih muter-muter Pak!" jawab Niha, Nurmala hanya terdiam memandang keluar jendela.
Angkot terus melaju, pembahasan kecil untuk sekedar bisa berbincang terus kami ucap, Nurmala tetap diam, sesekali dia tersenyum mendengar gurauan kami, tapi matanya kembali memandang keluar.
"Sudah membeli lilin Nur?" tanyaku menyapa
"Oh, iya Pak, sudah!" jawabnya gugup.
"Akhir-akhir ini PLN sering pemadaman!" kata Rudi menimpali ucapanku.
"Aku juga heran, mengapa pejabat bilang PLN selalu merugi, padahal sudah perseroan yang memonopoli penerangan nasional?!" Nihaya menambahkan. Nurmala tetap diam, pandangannya jauh entah kemana, lebih tepatnya dia melamunkan sesuatu.
Apakah yang engkau pikirkan Nurmala? katakan padaku!. Batinku bertanya.
Tak lama kemudian angkot terhenti karena Niha memintanya. Tiga orang itu turun. Tempatku sedikit lebih jauh lagi.
"Niha itu satu pabrik denganmu Al?" tanya Rudi
"Iya, kenapa? Naksir ya?"
"Haha, boleh juga!" jawab Rudi pendek.
"Kiri Bang!" aku menghentikan angkot, kami turun.
Visualisasi Aldiansyah
__ADS_1