
Nurmala meletakkan barang-barang di meja ruangan, Rasya tersenyum memandang setiap gerak Nurmala.
"Terima kasih Nur!" ucap Rasya.
"Aku belum berbuat apa-apa Kang Rasya dari tadi sudah bilang terima kasih terus!" jawab Nurmala sambil mendekat ke ranjang Rasya.
"Kamu mau datang kemari saja sudah membuat separuh dari sakit ini hilang Nur!" Rasya menyentuh tangan Nurmala, tapi pelan-pelan Nurmala menarik jemarinya.
"Hehe..Akang terlalu berlebihan, Nur bukan paranormal atuh Kang!" Nurmala tersipu. Rasya ikut tertawa, tapi kemudian meringis kesakitan di bagian perut akibat getaran tubuhnya.
"Waduuh, perlu saya panggilkan dokter?"
"Tidak usah Nur, aku baik-baik saja, duduklah!" cegah Rasya. Nurmala duduk di dipan, matanya menengok ke arah pintu karena Aldi tak kunjung kembali.
Aldi terus mengikuti langkah perawat menuju ruang perawatan. Aldi tidak dapat mengenali dengan jelas pasien yang dipindahkan, karena sebagian besar wajahnya tertutup perban, tapi jika melihat postur tubuh dan siluet wajahnya, Aldi yakin betul dia adalah orang yang pernah menjadi bagian kisah terdalam hidupnya.
Aldi memandangnya dari kejauhan. Selesai mengecek selang infus mereka keluar, Aldi kembali mendekat.
"Apakah identitas pasien sudah ditemukan suster?" tanya Aldi.
"Oh iya, Apakah Bapak mengenali saudara Anisa?"
Deg! Batin Aldi seperti tersentak.
"Iya Suster dia teman satu desa dengan saya!"
"Bisakah bapak menghubungkan dengan keluarganya?" tanya perawat itu.
"Tentu saja!" Aldi segera mengeluarkan ponsel Nokia miliknya, mencari nama Lila, adiknya. Dia berpesan agar Lila memberikan kabar kepada keluarga Anisa tentang kondisi mantannya itu. Aldi menatap kondisi Anisa yang terbaring dengan selang infus di lengan kirinya. Kepala dan matanya masih tertutup perban.
"Fadli!... Fadli" suara lirih Anisa memanggil sebuah nama, Aldi mendekat.
"Kamu sudah sadar Anisa?" ucap Aldi sambil berdiri di tepi ranjang. Anisa terdiam mendengar suara laki-laki di dekatnya.
"Aldi, kau kah itu?" tanya Anisa dengan mata tertutup perban.
"Aku sedang menjenguk seorang teman, dan aku melihatmu terluka parah!"
Anisa tak menanggapi cerita Aldi, hanya suara isak tangisnya yang terdengar. Rasa iba menyelimuti hati Aldi. Dulu setiap kali ada masalah Aldi lah tempat Anisa menumpahkan rasa sedihnya.
Aldi mengelus tangan Anisa.
__ADS_1
"Bersabarlah Anisa, dulu aku mengenalmu sebagai wanita yang kuat, semua pasti bisa kamu lalui!" Aldi menguatkan, Anisa mengangguk pelan sambil menahan tangisnya. Rasa sakit di sekujur tubuh, juga luka hatinya.
Aldi tak berani banyak bertanya, dia memilih duduk di samping dipan meskipun banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam otaknya.
"Istirahatlah! aku pergi dulu ya Anisa?!"
Anisa tak menjawab, pelan-pelan dia bangkit dari duduknya, tangannya meraba seperti mencari sesuatu.
"Minum!" ucap Anisa, Aldi segera mengambil botol minuman yang sudah tersedia di meja pasien. Suara tegukan air terdengar, Aldi memandangnya dengan iba.
"Pergilah, istrimu menunggu!" katanya kemudian.
"Kamu nggak apa-apa sendirian?"
"Ada perawat jaga, pergilah!"
Aldi berdiri, setengah tidak tega dia pergi meninggalkan Anisa, tapi dia tidak ingin Nurmala terlalu lama menunggu.
Di kamar Rasya Nurmala mulai gelisah, dia keluar melongok ke pintu, matanya mencari sosok suaminya yang tak kunjung datang.
"Kemana sih kamu Kang?" gumam Nurmala. Beberapa saat kemudian Aldi muncul dari kejauhan.
"Hemmmh, lama sekali sih Kang?" gerutu Nurmala saat suaminya sudah mendekat. Aldi tak menjawab, dia berjalan cepat menuju ruangan Rasya. Nurmala menatap wajah suaminya yang tampak gelisah.
"Nggak ada apa-apa Nur, duduklah! Bagaimana kondisi kamu Mas?" Aldi menutupi kegelisahannya dengan bertanya. Rasya tersenyum, tapi bisa terlihat dari wajahnya dia sedang tidak baik.
Malam semakin merambat mendekati larut, Nurmala sudah beberapa kali menguap.
"Tidurlah Nur!" pinta Rasya. Nurmala tersenyum memandang ke arah Aldi, suaminya mengangguk tanda setuju. Nurmala tampak sangat lelah, beberapa saat berbaring matanya sudah terlelap.
Rasya juga beristirahat. Aldi bangkit dari duduknya, berjalan keluar menuju ruangan Anisa. Wanita itu tampak tergolek sendirian. Aldi hanya memandangi dari kejauhan, kemudian kembali ke kamar Rasya. Dia memilih duduk dan menyandarkan diri di ranjang tempat Nurmala.
❤️❤️❤️❤️
Aldi tergagap saat mendengar adzan berkumandang, Rasya membuka mata lalu bangkit meraih selang infus.
"Mau kemana Mas?" tanya Aldi.
"Ke kamar mandi!"
Aldi membantu memegangi botol infus, dan mengantarkan Rasya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Nur, sudah pagi!"
Nurmala tergagap, kemudian segera merapikan diri.
"Apakah belum ada keluarga Rasya yang datang Kang?" tanya Nurmala. Aldi menggeleng.
Ceklek!
Rasya keluar dari kamar mandi. Aldi bergegas membantunya. "Terima Kasih Al!" Rasya melirik ke arah Nurmala yang baru turun dari ranjang.
"Dia tetap cantik meski baru bangun tidur!" batin Rasya.
"Kamu mandi saja dulu Nur!"
Aldi kembali keluar menuju ruangan Anisa saat Nurmala berada di kamar mandi. Wanita itu sudah duduk diatas ranjang, tapi tangannya meraba-raba seperti akan meraih botol infus. Aldi bergegas membantu.
"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Aldi, Anisa mengangguk pelan. Aldi merangkul tubuh Anisa dan membimbingnya masuk kamar mandi. Beberapa lama Aldi menunggu, hingga akhirnya Anisa bisa duduk kembali di ranjang.
"Aku sudah meminta Lila tentang kondisi kamu Anisa, mungkin pagi ini mereka akan datang!"
Anisa tersenyum getir, "Terima kasih sudah membantu Al!" Aldi hanya memandang iba, mengapa sampai pagi keluarga Anisa belum ada yang muncul, padahal jika mereka segera berangkat setelah mendengar kabar dari Lila mereka sudah sampai pagi itu di rumah sakit.
Aldi kembali keluar menuju kamar Rasya. Nurmala sudah duduk dengan wajahnya yang lebih segar. Matahari menerobos dari sela-sela jendela. Perawat dan petugas kebersihan tampak mondar mandir menjalankan tugasnya.
"Darimana Kang?" tanya Nurmala.
"Dari luar, cari angin!" Aldi belum mau berterus terang atas keberadaan Anisa. Dia ingin mengubur dalam-dalam nama Anisa dalam hidupnya dengan Nurmala, tapi kondisi takdir menghadirkannya kembali dalam sebuah kondisi yang berbeda.
"Selamat pagi Pak Rasya, bagaimana tidur anda semalam?" seorang perawat datang bersama Dokter memeriksa. Rasya menjawab tenang bahwa tidurnya kurang nyenyak. Aldi dan Nurmala keluar ruangan.
"Kok belum ada yang datang ya Kang?"
"Maksudmu dari keluarga Mas Rasya?" Aldi meyakinkan diri, karena dalam pikirannya, dia juga menunggu keluarga Anisa.
"Pak Aldi?" perawat memanggil dari ruangan Rasya. Aldi bergegas masuk.
"Pak Rasya akan dioperasi nanti pukul 10:00, kami butuh darah, golongan darah dengan rhesus yang cocok, hanya sedikit tersedia di rumah sakit ini" papar Dokter. Aldi bingung.
"Jika memang cocok, ambil saja darah kami dokter, karena keluarganya belum ada yang datang!" Kata Aldi, Rasya mendengar percakapan mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu orang baik Al!" batin Rasya.
__ADS_1
Perawat meminta Aldi dan Nurmala ke ruang pemeriksaan darah, karena mereka berdua belum pernah mengetahui golongan darahnya.