
Nurmala duduk sendirian memikirkan kata-kata ibunya, terutama mengenai permintaan uang.
"Niha, aku bingung!" kata Nurmala saat menelepon Nihaya yang sedang berada di rumah.
"Suamimu orang yang sabar dan pengertian Nurmala, bilang saja apa adanya!"
"Ini bukan sekali Nihaya, aku malu jika harus memintanya dari kang Aldi terus"
"Haah, aku jadi ikut mikir Nur, emak lu emang keterlaluan! Tunda saja daripada pusing. Bilang ke emak lu belum punya uang"
Akhirnya Nurmala menuruti saran Nihaya.
Aldi di kampus tampak sedang berbincang dengan sekelompok orang. "Kita nanti selesai kuliah diminta berkumpul di tempat Ustd Jamal!" kata Antok
Aldi selesai kuliah pukul 16:00 WIB, kemudian bersama teman-temannya dia pergi untuk berkumpul dengan teman-temannya. Hingga pukul 19.00 WIB Aldi belum pulang, Nurmala mulai gelisah.
"Akang dimana sih?" tanya Nurmala lewat telepon.
"Sebentar Nur, aku keluar dulu, ini lagi rapat!"
"Hemmh, kenapa nggak kasih kabar sih?!"
__ADS_1
"Sudah Nur, kita bicarakan di rumah, setelah ini Akang pulang nih!" Nurmala langsung menutup sambungan teleponnya. Pukul 21:15 Aldi tiba di rumah, Nurmala sudah mematikan sebagian besar lampu rumah.
Tok..tok.."Nurmala, Nur!"
Tok..tok.."Nur, tolong buka pintunya!" Nurmala tak menyahut, beberapa lama menunggu akhirnya terdengar kuncinya terbuka. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Nurmala. Selesai buka pintu, Nurmala kembali masuk dalam kamar.
Aldi faham Nurmala sedang kesal. Aldi mengunci pintu kemudian membersihkan dirinya ke kamar mandi. Nurmala berbaring menghadap tembok, matanya terpejam tapi sebenarnya dia belum tidur.
"Alhamdulillah!" Aldi membaringkan tubuhnya di samping Nurmala, dengan tangan di bawah kepala. Matanya melirik ke arah Nurmala yang masih tak mau berpaling dari tembok kamar.
"Nur, maafin Akang ya!" Aldi melingkarkan tangannya ke tubuh Nurmala. Namun istrinya tidak bergeming sedikitpun dari posisinya. Tanpa sepengetahuan Aldi air mata Nurmala yang menetes pelan di atas bantal.
Nurmala tak mengerti mengapa hatinya sangat sakit, rasa benci, cemburu, takut ditinggalkan karena tak kunjung memiliki keturunan menguasai hati Nurmala.
Nurmala membalikkan tubuhnya ke arah Aldi, ketika mendengar suaminya itu sudah mendengkur. "Terlalu besar cinta ini kepadamu Kang, hingga takut kehilanganmu"
Nurmala pun akhirnya ikut terlelap.
Keesokan paginya, Aldi sudah terbangun lebih awal, memanaskan air kemudian mengaduk secangkir kopi.
"Mau aku buatkan teh Nur?" tanya Aldi saat melihat istrinya itu keluar kamar. Nurmala tak menyambut tawaran Aldi. Selesai dari kamar mandi, dia masuk kembali dalam kamar.
__ADS_1
Aldi membiarkan sikap Nurmala, dia memilih membuat sarapannya sendiri, kemudian lanjut kerja di ruang koveksi.
Matahari mulai bergeser.
"Kemana mbak Nurmala mas, apa sakit?" tanya salah seorang karyawan.
"Iya, lagi kurang enak badan! Aku pulang dulu ya, sudah waktunya berangkat, tolong pesanan dari Jakarta segera dibereskan!"
"Siap mas, jangan hawatir!"
Aldi meninggalkan ruang koveksi, bergegas pulang untuk mempersiapkan diri berangkat kuliah. Nurmala masih berada di dalam kamar.
"Aku berangkat dulu Nur!" Aldi mengeluarkan mobilnya kemudian melaju ke kampus. Aldi tampak menikmati proses pendidikannya.
Bel istirahat berbunyi, Antok mendekati Aldi sambil menepuk bahunya.
"Bagaimana Al, apa kamu menikmatinya?" Aldi tersenyum lebar.
"Setelah kuliah kita kumpul lagi ya!" Aldi terdiam mendengar ajakan Antok, dia mengingat istrinya yang sedang ngambek di rumah karena terus saja pulang terlambat, disebabkan selain kuliah Aldi mengikuti komunitas dakwah.
"Bagaimana Al, bisa kan?" Antok kembali bertanya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku tidak bisa lama-lama ya, istriku lagi sakit!"