Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Pelanggan Baru


__ADS_3

Aldi memegang gagang telepon, mencoba menghubungi kembali nomor yang tadi menelepon tapi hanya terdengar nada sambung saja. Beberapa lama mencoba, tapi tak ada yang mengangkat, akhirnya Aldi kembali meletakkan pesawatnya.


"Ah sudahlah, kalau penting dia akan menghubungiku lagi" gumam Aldi


Beberapa langkah Aldi meninggalkan meja, pesawat telepon itu kembali berdering.


"Assalamualaikum, iya Hallo?"


"Ooh, iya Pak saya akan kesana sekarang!"


Komunikasi Aldi dengan orang di seberang telepon.


"Dari siapa Kang?" tanya Nurmala yang ikut keluar kamar.


"Kemarin aku tertarik dengan sebuah ruko di pertigaan dekat pasar, ada tulisan 'DIJUAL' jadi aku coba tawar menawar dengan pemiliknya, hari ini dia minta bertemu kembali untuk membuat kesepakatan" papar Aldi.


"Bagus itu Kang, mudah-mudahan orangnya setuju dan deal Kang!" dukung Nurmala.


"Amiin, Akang pergi dulu yah, Cup!" Aldi mengecup kening istrinya, lalu bergegas mengambil kunci motor.


"Kang Aldi nggak mandi dulu?!" teriak Nurmala


"Iya, nanti saja!" Aldi mengeluarkan motor dan langsung melaju menuju jalan raya. Cita-cita memiliki otlet untuk produk buatannya sangat bersemangat. Aldi terus menggeber motornya untuk menemui pemilik Ruko.


Sementara Nurmala masuk ke ruang pekerja, memeriksa beberapa pesanan pelanggan. Mengemas lalu mengirimkan menggunakan jasa pos atau mengantarkan langsung kepada pemesan.


Dua jam berlalu, Aldi datang bersama motornya dengan ekspresi datar. Nurmala mendekati suami.


"Bagaimana Kang?" Sesaat Aldi tak menjawab pertanyaan, dia masih memikirkannya sesuatu, Nurmala paham jika demikian dia memilih untuk menunggu atau akan memberi mood buruk pada suaminya.


"Dia minta tambahan harga, aku setuju, tapi setelahnya aku bingung darimana mendapatkan uangnya lagi!" Kata Aldi sambil melepaskan jaket diberikan kepada Nurmala.


"Emm begitu, Akang nggak minta tambahan waktu lagi?"


"Sudah, aku minta waktu satu minggu untuk pelunasan, tapi berat juga Nur. Kita harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang dalam waktu yang pendek" Aldi bimbang.


"Kang, kita usahakan dulu, percaya deh Kang kalau memang ruko itu rezeki kita, pasti akan jatuh ke tangan kita dan tidak akan terbeli oleh orang lain!" support Nurmala.

__ADS_1


"Betul juga itu Nur, terima kasih, kamu selalu menjadi penyemangat hidupku sayang!" Aldi mengelus pipi Nurmala, kemudian berjalan menuju ruang karyawan.


"Kang, mandi dulu!" tegur Nurmala


"Iya, sebentar saja melihat mereka bekerja!" Aldi mengecek beberapa pesanan yang sudah terkirim dia manggut-manggut karena puas dengan pekerjaan istrinya. Aldi mengecek persediaan bahan produksi. Kepalanya bermunculan model-model tas baru yang ingin dia buat. Dia ambil pencil dan merancangnya.


"Kang Aldi!" teriak Nurmala dari ruang sebelahnya, Aldi tak menggubris karena sedang asik mencurahkan idenya. Nurmala muncul di pintu sambil berkacak pinggang memandang Aldi yang tak peduli.


"Hemmmh!" Nurmala kesal, kemudian berjalan menuju meja suaminya.


"Syuuut! Hey!" panggil Nurmala, tapi Aldi tetap berkonsentrasi dengan gambarnya.


"Kang, mandi sholat dulu, jangan lupa daratan!" bisik Nurmala yang tak ingin didengar karyawan lainnya. Dia ambil buku dan pencil dari tangan Aldi lalu mendorongnya untuk berdiri.


"Astaghfirullah, iya! hampir lupa!" Aldi segera berdiri, dan bergegas menuju rumahnya. Nurmala kini yang duduk di kursi suaminya. Mencoba merancang tas wanita. Tiga puluh menit berlalu, Aldi kembali masuk ke ruang produksi.


"Nur, ini gambaranmu?" Aldi terkejut melihat rancangan Nurmala.


"Aku ada ide baru Nur, kita produksi tas wanita!" papar Aldi percaya diri.


"Akang yakin ini akan laku?" Nurmala ragu.


"Nur nggak terlalu banyak tahu Kang, sepertinya itu bagus, aku percaya ke Akang saja deh!" Aldi tersenyum penuh percaya diri, dia mulai merancang kemudian mencari bahan ke toko langganan.


Keesokan harinya, Aldi membuat sampel lengkap dengan aksesorisnya. Dia hanya membuat sepuluh buah. Bersama mengantarkan pesanan, Aldi menawarkan produk barunya. Tak semudah yang dibayangkan, dari sepuluh hanya laku 4 buah saja. Pemilik otlet lebih menyukai tas sekolah buatan Aldi.


"Sabar Kang, besok biar aku yang menawarkan ke toko lain!" Nurmala memberi kekuatan. Aldi tersenyum menerima ide istrinya.


Pagi itu matahari bersinar cerah, Nurmala sudah selesai menyiapkan sarapan.


"Kamu jadi pergi Nur?" tanya Aldi saat melihat istrinya sudah berpakaian rapi.


"Jadi Kang!" jawab Nurmala sambil merapikan kerudungnya.


"Oke deh, hati-hati ya, titipkan saja jika tidak ada yang mau bayar kontan!"


"Siap Kang! bismillah semoga laku semua dan ada yang akan memesan banyak produk kita!"

__ADS_1


"Aamiin!" jawab Aldi. Nurmala bergegas menuju motor yang sudah terparkir di emperan. Sebuah tas box yang biasa digunakan untuk mengirim barang terpasang di belakang Nurmala. Aldi memandangi istrinya dari pintu.


"Lindungilah dia selalu ya Allah" batin Aldi melepas kepergian Nurmala.


Nurmala berpindah dari toko tas satu ke outlet lain, dari luar pasar hingga masuk dalam pasar. Kaos yang dia kenakan tampak basah oleh keringat. Dia berhenti di salah satu rumah makan. Membeli satu teh botol Sosro, sambil mengipasi tubuhnya dengan potongan kardus.


"Gerah ya Mbak?" seorang laki-laki yang duduk di salah satu sudut warung menyapa Nurmala.


"Eh, hehe..Iya Kang, panas pisan!"


"Jual apa sih, sepertinya menarik!" kata pria muda itu.


Nurmala mengambil dagangannya, dan menunjukkan pada pria itu. Pria itu membolak-balik, memeriksa isi detail tas buatan suami Nurmala.


"Bagus katanya kemudian!"


"Beli ya Kang?" rayu Nurmala tanpa ragu.


"Oke, aku beli 40 biji dengan warna dan aksesoris yang berbeda!, kenalkan namaku Rasya, pemilik otlet daerah Kemang, ini kartu namaku!"


Nurmala terbelalak dengan jumlah pesanan yang disebutkan oleh pria itu. Padahal sebelumnya sangat sulit menjual tasnya walaupun hanya satu biji saja.


"Ini beneran Kang, Akang tidak bergurau bukan?" Nurmala meyakinkan diri


"Iya Mbak, masak saya berbohong, kalau tidak percaya cek saja alamat yang aku berikan. Saya juga pedagang, kesini sedang mengantar barang!" kata Rasya meyakinkan Nurmala.


"Oke, oke saya percaya Kang!" kata Nurmala sambil menjabat tangan tanda setuju akan bisnis yang mereka buat. Rezeki kadang datang tanpa duga bagi mereka yang berusaha.


Nurmala pulang dengan wajah sumringah, kartu milik Rasya dia simpan baik-baik untuk menjaga amanah pesanannya.


Sampai di rumah Aldi menyambut kedatangan istrinya, belum turun dari motor Nurmala sudah memanggil nama suaminya.


"Kang Aldi, Kang!" teriak Nurmala dengan ekspresi sangat gembira.


"Ada apa Nur, sepertinya kamu mendapatkan sebuah emas permata!" tanya Aldi heran.


"Ini Kang, aku mendapatkan pesanan 40 biji tas wanita yang kemarin Akang jahit!" kata Nurmala sambil mengeluarkan kartun nama dari dompetnya.

__ADS_1


"Ini beneran Nur?" Aldi masih belum yakin.


"Kita cek dulu lah Kang!" Nurmala memberi ide. Aldi manggut-manggut, sambil memikirkan sesuatu.


__ADS_2