
Selsai mandi Aldi masuk kamar untuk berganti pakaian. Nurmala membantu Lila mempersiapkan makan malam. Refleks mata Aldi tertuju pada tempat sampah, foto itu masih tergolek disana. Aldi mengambil dan menatap senyum Anisa yang berada sangat dekat dengan wajah Aldi.
Aldi ikut tersenyum, sambil mengelap foto itu dari debu, lalu menyimpannya kembali di bawah tumpukan baju lama. Dia berdiri tertegun sejenak, lalu kembali mengambil foto itu. "Hemmh, biarlah semua menjadi masa lalu" batin Aldi bergejolak, lalu mengambil kembali foto itu. Pelan-pelan dia remas dan menjatuhkannya ke tong sampah.
Setelah merapikan diri, Aldi bergegas menuju dapur melihat Nurmala yang mencoba akrab dengan adiknya.
"Masak apa nih, harum sekali?!" Aldi mengendus dekat kompor menyala.
"Ikan mrenying santan pedas Mas!" Lila menjawab pertanyaan kakaknya, Nurmala hanya tersenyum melihat suaminya yang memegangi perutnya pertanda ingin makan.
"Tunggu di depan, nanti kalau sudah siap aku panggil Kang!" Kata Nurmala sambil menyiangi kangkung.
"Baik chef!" Aldi tersenyum melangkah ke ruang depan menemani Bapaknya.
Sepeninggal Aldi, Nurmala kembali berbincang dengan Lila. "Lila, Kamu kenal Anisa mantan Kang Aldi?" tanya Nurmala di sela aktivitasnya.
"Emm, kenal Kak! ada apa?" Lila sedikit heran dengan pertanyaan Nurmala.
"Pingin nanya saja, sedekat apa dulu hubungan Kang Aldi dengan Anisa?!" papar Nurmala. Lila menceritakan jika dulu Anisa memang sudah seperti keluarga, Bapak dan ibuk sudah merestuinya, tapi tidak dengan orang tua Anisa. Aldi belum punya pekerjaan mapan karena baru satu tahun tamat SMA.
Nurmala terdiam mendengar cerita Lila.
"Setelah itu Kang Aldi merantau ke Bandung?" tanyanya kemudian. Lila mengangguk, ekspresinya sedih, tapi bibirnya menyunggingkan senyuman. Beberapa lama suara mereka tak terdengar, hanya dentingan wajan dan pengaduknya kadang beradu.
"Apakah sekarang Anisa sudah menikah? tanya Nurmala. Kemudian Lila melanjutkan ceritanya, kalau Anisa sudah menikah, bahkan dua kali
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️
Dua hari di rumahnya, Aldi mengajak Nurmala bersilaturahmi ke sanak saudara dan beberapa teman dekatnya.
"Dimana rumah Anisa Kang?" tanya Nurmala saat berada di dalam mobil. Sejenak Aldi terdiam dengan pertanyaan Nurmala.
"Agak masuk ke dalam dusun!"
"Mampir yuk Kang!"
"Susah jalannya Nur, mobil tak bisa masuk!" jawab Aldi sambil berkonsentrasi ke arah jalanan. Nurmala tak ingin memaksa suaminya meskipun dalam hatinya sangat penasaran.
"Sudahlah Nur, jangan lagi memikirkan Anisa, dia itu hanya masa lalu dan setiap orang punya noktah hitam dalam hidupnya!" kata Aldi menasehati seakan tahu jalan pikiran Nurmala.
"Hemmh, teman lain kan banyak Nur, mengapa harus Anisa, kamu akan membuka kembali luka hati suamimu ini!" Aldi merasa tak nyaman dengan sikap istrinya. Nurmala tercekat karena mendengar jawaban Aldi bernada emosi.
"Bertahun-tahun aku berusaha melupakan dan membuka lembaran baru Nur, jadi tolong lupakan dia juga, fokus pada masa depan kita!" Aldi mempertegas ucapannya.
Nurmala hanya diam mendengarkan, menatap wajah suaminya yang tampak sedikit tegang. Nurmala akhirnya memilih diam, tak berani lagi membahas tentang Anisa, meskipun pikirannya masih memiliki banyak pertanyaan tentangnya.
Mobil terus melaju dan akhirnya kembali terparkir di depan rumah Aldi. Nurmala bergegas turun, di samping rumah tampak Pak Sardi dan Lila sedang menata hasil bumi seperti kelapa, ketela dan lain-lain.
"Al, masukkan ini dalam bagasi!" pinta Pak Sardi sambil menunjuk barang yang ada di depannya.
"Banyak sekali Pak, Kami cuma tinggal berdua, dan hanya kadang-kadang saja memasak!" kata Nurmala.
__ADS_1
"Bawa saja, bagikan kepada teman atau famili di sana untuk oleh-oleh!" Pak Sardi tak ingin pemberiannya ditolak, Aldi menurut memasukkan semua yang sudah disiapkan ayahnya.
Sore harinya mereka pamit.
"Kapan Bapak bisa ikut ke Bandung?" tanya Aldi kepada Ayahnya.
"Sebenarnya aku ingin tahu tempat tinggalmu, tapi kondisi kondisi Bapak masih belum terlalu fit untuk sebuah perjalanan jauh" Aldi bisa memaklumi kondisi orang tuanya.
Perjalanan malam Aldi dan Nurmala di mulai kembali, pelan tapi pasti Aldi mengemudikan mobilnya dengan penuh semangat untuk pulang dan kembali bekerja. Sesekali mereka beristirahat, sekedar makan camilan atau minuman teh panas di kedai untuk menghilangkan penat.
Sepanjang perjalanan mereka hanya membahas tentang bisnis, perkembangan target pemasaran, Nurmala tak berani lagi menyebut nama Anisa dalam percakapan.
"Target selanjutnya, kita membeli toko baru!" kata Aldi, mereka saling menatap dengan senyuman mengembang. Aldi bertekad menghempaskan sisa cinta di masa lalunya bersama Anisa, Nurmala bangga dengan pilihan suaminya.
Aldi terus memacu mobilnya, saat matahari mulai hilang teriknya, mobil Aldi baru memasuki kota Bandung. Mereka tidak langsung menuju rumahnya, tapi mampir ke kontrakan Nihaya untuk membagikan oleh-oleh.
"Hallo Asti?" sapa Nurmala saat melihat Asti menghadap ke depan gendongan Rudi. Gadis mungil itu terkekeh saat senyum ramah Nurmala tertuju padanya.
"Ciluuk, Ba! Ciluuk, Ba!" Nurmala menutup muka dengan sepuluh jari lalu membukanya di depan Asti. Suara tawanya membuat semua ikut gembira. "Iiih, gemees!" ucap Nurmala.
"Udah Nur, pulang yuk! Aku capek sekali!" pinta Aldi sambil menggoyangkan tubuh dan pantatnya. Nurmala mengikuti Aldi berjalan menuju mobil.
"Bye Asti!" kata Nurmala sambil melambaikan tangannya. Mobil mereka bergerak pelan menapaki jalanan, kemudian melaju kencang menuju rumahnya.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai di rumah!" ucap Aldi saat menginjak rem di garasi daruratnya.
__ADS_1