
Aldi dan Nurmala sudah sampai di rumah praktek Mbah Darmi lebih awal dari jam buka.
"Masih sepi Nur?"
"Justru ini yang kita cari Kang!"
Satu jam kemudian Mbah Darmi memanggil. Di sebuah dipan kecil dengan seprei putih yang sudah tidak putih lagi, lebih ke putih tulang Nurmala diminta duduk
"Silahkan nduk!"
Nurmala berbaring. Mbah Darmi memulai ritualnya dengan komat-kamit membaca doa atau mantra.
"Sudah lama ingin punya anak?" tanyanya sambil terus memijit.
"Enam tahun Mbah!" Mbah Darmi manggut-manggut mendengar jawaban Nurmala sambil meraba dan memijat-mijat, meremas bagian perutnya.
"Kamu bisa segera punya anak jika diobati!"
"Oh ya Mbah, obat apa itu?"
Mbah Darmi mengeluarkan bungkusan dari dalam laci, "Habiskan ini!" satu kresek serbuk ramuan tradisional dia letakkan di meja. Nurmala bisa merasakan lidahnya pahit jamu sebelum meminumnya, tapi keinginannya untuk memiliki keturunan lebih kuat. Tak ada kata lain selai bilang "Ya Mbah!"
"Bulan depan datanglah lagi kemari!"
Nurmala pamit, tak lupa salam tempel amplop yang sudah dia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
*****
Nurmala terpaku memandangi gelas yang berisi jamu. Aldi menunggui istrinya untuk memberi semangat Rasa mual memenuhi perutnya.
"Huek...huek.., sudah ya Kang, aku pingin muntah!"
"Baru juga dua hari Nur, baru dua bungkus!"
Nurmala hanya bisa memegangi hidungnya sambil meringis. Aldi terus memberikan support agar Nurmala bisa meminum jamunya. Akhirnya Nurmala menenggak habis isi gelas itu.
"Huek...!" Nurmala berlari ke kamar mandi dan menumpahkan semua isi perutnya.
"Aduh Nur, kok kamu keluarkan semua?" kata Aldi sambil memijit punggung istrinya itu.
"Huek...huek, aduh...perutku sakit Kang, keluarlah. Nurmala menutup dengan membanting pintu, tak tahan lagi panggilan alam di perutnya. Aldi menunggu di ruang dapur.
"Ceklek!"
Nurmala terhuyung keluar kamar mandi. Aldi bergegas membimbing istrinya berbaring di ruang tengah. Nurmala mengeluhkan kepalanya pusing, Aldi memijit kepala Nurmala.
"Aku carikan obat ya?"
"Nggak usah kang, aku sudah enek banget dengan obat! Apa sih isinya jamu itu kang, perutku seperti diaduk-aduk setiap kali meminumnya?"
"Mana aku tahu Nur, atau kita ke dokter saja ya, biar dokter memeriksa kesehatanmu?"
__ADS_1
"Nanti ke dokter juga diberi obat lagi Kang, nggak mau ah! belikan saja aku bubur ayam, perutku lapar lagi!" Nurmala meringis memegangi perutnya.
Mendengar permintaan istrinya Aldi bergegas menghampiri motor yang terparkir di teras rumah. Tampak Nihaya berjalan bersama dua orang anaknya.
"Hallo Asti?"
"Bagaimana kabar Nurmala?" Aldi menceritakan kondisi Nurmala yang lemah akibat muntah-muntah kadang juga berak.
"Apa nggak sebaiknya dibawa ke dokter?'
Nihaya ikut hawatir.
"Kamu bujuk dia deh, aku maunya juga begitu, tapi dia trauma sama obat." Nihaya kemudian masuk ke rumah Aldi.
"Apa kamu masih ingin kesana lagi Nur?"
Mendengar pertanyaan Nihaya Nurmala hanya menggeleng pelan.
"Tubuhmu terlihat sangat lemah, kamu dehidrasi, kita ke rumah sakit saja ya?" Nurmala sudah tak bisa menjawab pertanyaan Nihaya.
"Waduh... Nur, Nur!" Nurmala tak sadarkan diri. Nihaya langsung menelpon Aldi.
Mereka bergegas membawa Nurmala ke rumah sakit.
"Harus rawat inap, Bu Nurmala mengalami dehidrasi dan keracunan" kata dokter. Aldi bisa menebak ini akibat minum jamu dari Mbah Dukun.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa menyalahkan Mbah dukunnya Al, perut Nurmala memang tidak kuat dengan ramuan-ramuan seperti itu" papar Nihaya.