
Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar dari masjid tak jauh dari rumah Aldi. Pak Sardi bangun paling awal disusul Pak Samsudin dan yang lainnya.
Tok..tok..tok "Assalamualaikum Mbak Nur!" Mpok Jum datang mengetuk pintu untuk menjalankan tugasnya. Aldi bergegas membuka pintu samping. Nurmala belum tampak keluar kamarnya.
Aldi kembali masuk kamar, Nurmala masih tergolek diatas kasur. Aldi duduk di samping Nurmala.
"Nur, kamu nggak bangun sayang?"
"Kepalaku pusing sekali Kang!" keluhannya.
"Sepertinya kamu juga demam Nur!" kata Aldi saat menyentuh kening Nurmala.
"Oke, istirahatlah! ada Mpok Jum di dapur" Nurmala mengangguk. Aldi kembali keluar menemui keluarga besarnya. Mereka duduk bersama di ruang tamu dengan cangkir-cangkir teh panas dan camilan yang sudah disiapkan Mpok Jum.
Bu Samira menanyakan keberadaan Nurmala.
"Nurmala sakit Buk!" jawab Aldi dengan ekspresi sedih.
"Bukannya semalam dia baik-baik saja?" ucap Bu Samira.
"Iya Buk, tapi pagi ini dia demam dan sakit kepala" bela Aldi.
"Aku boleh masuk ke kamarnya?" tanya Bu Samira. Aldi mengantarkannya menuju kamar Nurmala. Bu Samira mendekati putrinya.
Menyentuh lembut tubuhnya.
"Nur?" ucapnya lirih. Nurmala berusaha membuka matanya.
"Ibuk!" Nurmala berusaha bangkit, tapi Bu Samira menahannya untuk tetap berbaring.
"Nanti siang aku pulang Nur, kamu baik-baik saja?"
"Nggak apa-apa Buk, cuma sedikit pusing dan gak enak badan! ucap Nurmala sambil meringis menahan sakitnya.
"Emm syukurlah jika begitu, Nur...Kamu punya simpanan uang tidak, jika ada ibuk mau pinjam dulu, entar kalau sudah panen kopi aku kembalikan!"
"Ada, tapi untuk keperluan apa sih Buk?"
"Untuk bayar arisan indeks Nur, sebenarnya sudah dikasih bapakmu waktu panen kemarin, tapi Mpok Lela ngajak ke pasar terus ada baju geliiis pisan! jadi uangnya aku buat beli itu! Jangan bilang-bilang Bapak ya!" kata Bu Samira.
Nurmala terdiam sambil memejamkan mata, merasakan kepalanya yang nyut-nyutan, badannya terasa remuk tak bertenaga. Bu Samira masih duduk menunggu.
__ADS_1
"Ehem.. Nurmala, bangunlah!" bisik Bu Samira
"Iya Buk, tunggu sebentar!" jawab Nurmala dengan suara serak nan parau. Perlahan dia bangkit turun dari ranjang, Bu Samira memegangi tubuh putrinya itu agar tidak tumbang saat berjalan menuju almari.
"Ibuk minta berapa?"
"Emm satu juta ada?" jawab Bu Samira bersemangat.
"Lima ratus ribu saja ya Buk, Nur masih banyak keperluan!"
"Emmm..iya deh gak apa-apa!" Nurmala menarik lembaran uang dari dompetnya, kemudian mengulurkan ke tangan ibunya. Setelah itu dia kembali membaringkan dirinya.
"Terima Kasih Nur, aku ambilkan makan ya?"
"Nggak usah Buk, mulutku pahit tak berselera" Mendengar jawaban Nurmala Bu Samira akhirnya keluar bergabung dengan keluarga.
"Bagaimana kondisi Nurmala Buk?" tanya Pak Samsudin.
"Nggak apa-apa kok Pak, anakmu cuma pusing, mungkin kecapekan jadi butuh istirahat!" jawab Bu Samira dengan ekspresi santai.
"Pak Sardi sampai kapan di Bandung?" tanya Pak Samsudin.
Pak Sardi mengatakan besok sudah harus kembali ke Kediri, Pakde Jarno hingga lusa, karena akan meneruskan perjalanan menuju Jakarta. Usai sarapan orang tua Nurmala akan segera pulang.
Pak Samsudin mendekat, "Nurmala!" panggilnya lembut, Nurmala tergagap mendengar suara orang yang sangat menyayanginya itu di dekatnya.
"Bapak?!" Pak Samsudin tersenyum melihat mata putrinya memandang wajahnya.
"Iya, Bapak mau pamit pulang Nur, kamu nggak apa-apa kan?" kata Pak Samsudin. Nurmala mengangguk pelan, air mata keluar di sudut matanya.
"Bersabarlah Neng, setiap hidup manusia memiliki ujian, pasrahkan saja pada-Nya, semua urusan akan terselesaikan dengan mudah!" Pak Samsudin mengelus rambut putrinya, Nurmala mengangguk pelan memahami nasehat Bapaknya.
"Bapak pulang dulu ya, jika ada apa-apa telepon saja!" Pak Samsudin melangkah keluar meninggalkan Nurmala.
"Besan, saya pamit pulang duluan, mampir jika ada waktu ya!" pamit Bu Samira kepada Pak Sardi renyah bersalaman seperti kripik baru keluar penggorengan.
"Iya, semoga selamat sampai tujuan Bu!" jawab Pak Sardi, "Tak ada yang berubah, hanya usiamu saja yang tua Samira" batin Pak Sardi sambil memandang mereka masuk mobil yang dikemudikan Aldi.
"Sayang nggak punya anak!" gumam Pakde Jarno yang berdiri di samping Pak Sardi.
"Siapa Mas?" tanya Pak Sardi heran.
__ADS_1
"Ya anakmu Aldi lah!"
"Aku nggak ingin ikut campur urusan mereka Mas, biar mereka sendiri yang menentukan hidupnya sendiri. Selama ini Aldi bisa mandiri dan sukses tanpa bergantung padaku, jadi dia juga bisa mengurus hidupnya dengan baik" ucap Pak Sardi.
"Dia tetap anakmu Sardi, jadi kamu harus memberinya nasehat!" Pakde Jarno masih ngotot dengan pendapatnya.
"Iya, nanti jika Aldi memintanya!" Kata Pak Sardi sambil melangkah masuk dalam rumah. Dan melanjutkan secangkir teh dan camilan yang belum habis.
Tok..tok..tok.."Mbak Nurmala!" Lila mengetuk pintu kamar Nurmala. Lila membukanya pelan dan masuk dengan satu gelas teh panas dan sepiring nasi.
"Mbak, Mas Aldi berpesan untuk mengantarkan makanan ke sini!" ucap Lila.
"Iya, letakkan di meja!"
"Aku suapi ya Mbak?"
"Nggak usah Lila, nanti aku bisa makan sendiri"
Mendengar ucapan Nurmala, Lila tak berani memaksa kakaknya itu untuk menyantap makanan yang dia hidangkan, Lila minta diri untuk meninggalkan Nurmala dalam kamar.
Matahari sudah meninggi, Aldi keluar baru datang dari mengantarkan mertua ke terminal.
"Busnya telat ya?" Pak Sardi menebak, seharusnya Aldi datang lebih pagi.
"Iya Pak, Mbakyu mu sudah makan Lila?" tanya Aldi kepada adiknya. Lila menceritakan kejadian saat mengantarkan makanan ke kamar Nurmala. Aldi masuk kamar, dia mendapati makan yang masih utuh dan satu gelas teh yang tak berkurang tingginya.
"Nur, makan ya terus minum obat!" pinta Aldi sambil mengeluarkan sebungkus obat dari dalam sakunya. Nurmala membuka mata, Aldi membenahi posisi tidur istrinya agar bisa bersandar dengan nyaman. Kemudian dia bersiap dengan sendok dan piring nasi di tangan.
"Ayo, buka mulutmu sayang!" Nurmala mau membuka mulutnya, pelan dia kunyah makanan, Aldi menatap istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa?" tanya Aldi saat melihat sudut mata Nurmala menetes sebutir cairan bening. Nurmala menggeleng.
"Tapi kok menangis?"
"Kepalaku sakit!"
"Oh begitu, minum obatnya ya, tadi aku mampir ke apotek saat pulang dari terninal.Aku juga membeli madu asli untuk menjaga kesehatan kita sayang" Aldi menunjukkan botol madu yang dia beli, Nurmala tersenyum gembira.
"Pesan Bapak, kamu jangan berfikir terlalu berat Nur, kita diminta sabar dan tetap bersyukur!" ucap Aldi.
"Iya Kang, tapi kalau Akang nikah lagi aku harus bagaimana?"
__ADS_1
"Hey..hey... darimana sih kamu punya pemikiran kalau aku mau menikah lagi Nur?"