
Matahari sangat cerah ketika Aldi, Nurmala dan beberapa orang karyawannya memulai aktifitas di ruang produksi. Aldi dan Nurmala mendiskusikan kembali model tas baby yang akan mereka buat.
"Kita pilih kain katun dengan spons agar terkesan lembut dan lucu seperti bayi!" usul Nurmala. Aldi mencoba mencerna dan menimbang pendapat Nurmala.
"Warnanya kita buat natural dan lembut!" kata Aldi, Nurmala menyetujuinya.
"Antar aku ke toko dulu Kang, keburu siang!" pinta Nurmala. Aldi berdiri kemudian mengambil kunci motornya. Sesaat kemudian mereka melaju pelan menuju outlet tas dengan semangat sukses yang membara.
Nurmala segera membuka pintu toko, Aldi mengecek barang-barang yang masih ada di etalase dan rak pajangan.
"Bagaimana kabar Rasya, apakah dia pernah berkunjung kemari?" tanya Aldi
"Belum, sejak itu dia belum terlihat kembali ke kota ini" kata Nurmala sambil membersihkan debu dengan kemoceng.
"Baiklah Nur, semoga jualan hari ini lebih baik dari yang kemarin. Aku pulang dulu menyelesaikan tas baby rancangan kita" Aldi berlalu menggunakan motornya, Nurmala masih membersihkan dan menata dagangannya.
Suasana tampak sepi, hanya lalu lalang motor di jalan raya, sebuah mobil box tiba-tiba berhenti di depan toko Nurmala.
"Selamat pagi?"
"Kang Rasya?!" sapa Nurmala terkejut karena dia baru saja membicarakan dirinya.
"Lho, Kamu Nurmala?!" Rasya juga merasa terkejut dengan keberadaan Nurmala di toko tersebut.
"Iya, ini toko saya Kang Rasya!" papar Nurmala, Rasya manggut-manggut mendengar paparan Nurmala tentang toko barunya.
"Kalian hebat, kompak dengan pasangan" Rasya tersenyum tipis, tapi seperti ada sesuatu yang membuatnya iri pada kehidupan Aldi dan Nurmala, yaitu keharmonisan. Tujuh tahun menikah dan belum memiliki anak rupanya membuat keluarga Rasya tidak lagi bisa berjalan romantis seperti yang mereka harapkan.
Pengobatan dan program kehamilan belum membuahkan hasil nyata. Keluarga besarnya menuntut cepat memiliki momongan mengingat istrinya anak tunggal. Rasya lebih sering berada di luar rumah, kadang tidur di toko atau memilih hotel di luar kota.
"Nurmala, aku punya dagangan nih!" Rasya mengeluarkan dua buah kotak dari tasnya.
"Apa itu Kang?" Nurmala penasaran. Rasya mengeluarkan benda elektronik dari kotak itu.
"Ini namanya ponsel atau biasa disebut handphone Nur, apakah kamu belum memilikinya untuk memajukan bisnismu? Alat ini mudah dibawa kemana saja, kapan saja. Kamu bisa berkomunikasi dengan dimanapun kamu berada, tanpa repot dengan kabel Nur!"
"Pasti mahal ya Kang, setahuku hanya orang-orang kaya yang bisa memiliki benda itu?"
__ADS_1
"Ini barang elektronik yang terus akan berkembang, setiap bulan akan muncul model baru, yang aku bawa ini bukan model terbaru, tapi masih bagus dan canggih Nur, Nokia dengan suara poliponik pasti kamu menyukainya Nur!" Rasya memaparkan dagangannya.
"Tapi aku harus diskusi dengan Kang Aldi dulu!"
"Telepon saja pakai handphone aku!" Rasya mengulurkan ponselnya, Nurmala mencoba menekan nomor telepon rumahnya. Sejenak Nurmala menunggu sambungan.
"Assalamualaikum, Kang ini Aku pakai handphone Kang Rasya!" Nurmala bercakap dengan Aldi dan memintanya untuk datang ke toko melihat dan bertemu dengan Rasya. Lima belas menit kemudian, Aldi sudah hadir kembali ke otletnya.
"Assalamualaikum Mas!" sapa Aldi ramah. Nurmala memperlihatkan kecanggihan benda yang dia pegang, dari gesture tubuh dan bahasanya, Nurmala ingin sekali memilikinya.
"Bagaimana Kang, kita beli ya!" tanya Nurmala kemudikan. Rasya tersenyum menunggu keputusan Aldi yang masih tampak berpikir.
"Emm, baiklah kita beli satu saja dulu!" Aldi memberi pilihannya.
"Ini untuk aku, Akang bagaimana?" Nurmala merasa tidak enak dengan suaminya.
"Aku kan ada di rumah, masih bisa pakai pesawat telepon kok! bulan depan jika ada rezeki aku bisa membeli yang lebih canggih dari ini" Aldi meyakinkan Nurmala.
"Oke, tidak masalah beli satu dulu, mas Aldi menyusul, dalam berbisnis harus punya layanan mempermudah pelanggan Al " kata Rasya meyakinkan.
"Jika ada pertanyaan tentang handphone kamu telepon saja aku Nur!" kata Rasya sambil memasukkan barang dagangannya ke dalam tas, Nurmala mengangguk setuju.
Sepeninggal Rasya Nurmala sibuk mempelajari aplikasi handphonenya. Aldi pulang kembali ke ruang produksi untuk melanjutkan pekerjaan.
Kring...kring...kring, telepon rumah Aldi berdering saat dia baru memarkirkan motornya. Aldi bergegas masuk rumah dan mengangkat pesawat telepon, dia hawatir jika klien yang kemarin sudah memesan barang.
"Assalamualaikum, rumah Aldi di sini!"
"Waalikum salam, saya Kang?" Nurmala menelepon dari ponselnya.
"Kamu Nur, ada apa?"
"Hehehe, nggak ada Kang, cuma coba-coba ponsel Nur!"
"Hemmmh, yaelah, bikin gugup saja kamu! Aku kerja dulu ya!" kata Aldi setelah menerima telepon tidak penting Nurmala.
"Tunggu Kang!" kata Nurmala di seberang telepon tapi Aldi sudah keburu menutupnya.
__ADS_1
Kring..kring...kring, belum lagi melangkah pergi, pesawat telepon Aldi kembali berbunyi.
"Iya, assalamualaikum!"
"Kang, kok sudah di tutup sih!"
"Ada apa, aku mau kerja Nur, kalau tidak penting kita ngobrol nanti saja ya!" kata Aldi sedikit kesal.
"Iya deh, aku tutup Assalamualaikum!" Nurmala meletakkan ponselnya. Aldi melangkah sambil geleng-geleng merasakan tingkah aneh istrinya setelah memiliki ponsel baru. Tapi Aldi bisa memaklumi, istilah jawanya Kemaruk, kranjingan dengan suatu hal baru.
Aldi meneruskan pekerjaannya, ada rasa kesal sekaligus gembira membayangkan Nurmala bermain dengan ponsel barunya. Dalam hati dia juga ingin segera memiliki ponsel seperti Nurmala untuk melancarkan bisnisnya.
Sementara itu Nurmala masih memilih nada dering yang cocok dengan kepribadiannya. Saat dia bermain, Nurmala terkejut karena ponselnya berbunyi.
"Hallo Nur, ada masalah dengan handphone kamu?" Rasya menelepon.
"Eeeh Kang Rasya, nggak ada, ini masih sedang mempelajari aplikasinya, Akang dimana sekarang?"
"Aku lagi istirahat di hotel, besok baru kembali ke Jakarta!"
"Istrinya nggak marah kalau Akang sering tidak segera kembali ke rumah?"
"Sudah biasa begini Nur, namanya juga pembisnis, jarang pulang sudah menjadi hal biasa" papar Rasya.
"Ya..ya, memang begitu resikonya!"
Perbincangan mereka berlanjut pada obrolan bisnis dan pengalaman pekerjaan. Rasya juga bertanya tentang bagaimana agar cepat memiliki keturunan.
"Kang Rasya salah alamat kalau tanya ke Saya, sebab masalah kita sama, tak kunjung diberi keturunan!" jawab Nurmala.
Rasya juga mempertanyakan bagaimana sikap keluarga Aldi terhadap Nurmala, sedangkan keluarga Aldi belum diperkenalkan kepada dirinya.
"Jadi kamu belum kenal dengan keluarga suamimu!?" Rasya sedikit terkejut, tapi tak heran karena mereka bertemu dalam sebuah perantauan.
"Eh Kang, sudah dulu ya, ini ada pembeli!" kata Nurmala menutup teleponnya. Dua orang pembeli masuk dalam toko Nurmala, melihat dan mencari benda yang dia inginkan.
"Cari apa Kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nurmala kepada calon pelanggannya. Kemudian dia menunjukkan beberapa barang untuk calon pembelinya.
__ADS_1