
Aldi masih berdiri di depan pintu yang belum juga terbuka.
Tok..tok..tok "Nur, buka pintu! aku minta maaf!" pinta Aldi memelas. Beberapa saat Aldi menunggu,
Klek
Akhirnya pintu kamar terbuka, Nurmala masih memasang wajah cemberut. Aldi duduk di sampingnya. "Maafkan Akang Nur, sebenarnya tidak ada maksud untuk membohongimu tentang keberadaan Anisa, yang aku inginkan hanya tidak ingin lagi membahas ataupun berhubungan dengan masa lalu itu!"
"Semua orang punya masa lalu Kang, mengapa harus di tutup tutupi?" ucap Nurmala dengan intonasi dan wajah datarnya. Dia berdiri kemudian keluar kamar. Aldi duduk tercenung memandang punggung Nurmala keluar kamar.
"Haruskah aku ceritakan semua? Apakah Nurmala tidak akan semakin terpukul dengan kenyataan masa laluku bersama Anisa?" batin Aldi bergejolak.
Ting..tong...Ting..tung. Ponsel Nurmala yang tergeletak di atas kasur berbunyi, Aldi melirik notifikasi nama panggilan.
"Rasya?" Aldi enggan mengangkat panggilan, hingga deringnya berhenti dengan sendirinya. Dia tidak mengerti, mengapa rasa benci dan cemburu membalut hatinya ketika melihat Nurmala bersama Rasya.
Ting..tong...ting..tung. Nada dering handphone Nurmala kembali membuat resah hati Aldi, Nurmala yang mendengar bunyinya dari ruang belakang bergegas masuk dan mengambil ponselnya, dan memilih menjauh dari Aldi.
"Iya Hallo Kang? Syukurlah Akang sudah selamat kembali!" Aldi mendengarkan percakapan Nurmala dengan rasa terbakar cemburu. Martabat seorang suaminya memberontak.
"Iya Kang, semoga cepat pulih kembali!" suara Nurmala mengakhiri percakapan. Dia berbalik, ingin kembali masuk kamar, tapi Aldi sudah berdiri tepat di belakangnya dengan mata memerah tanda emosi.
"Pantaskah seorang istri bersikap mesra dengan laki-laki bukan muhrim Nur?!" ucap Aldi sekuat tenaga menahan amarahnya.
"Apa sih Kang? aku cuma mengucapkan hal-hal yang seharusnya aku ucapkan seorang teman yang sakit saja kok!"
"Kau pikir aku ini bodoh Nur, tidak bisa membaca gelagat penghianatanmu dengan Rasya?"
"Kang Aldi ngomong apa sih?" Nurmala berlagak bingung.
"Jawab Nur!! Apakah kamu punya hubungan khusus dengan Rasya haah?"
"Kalau aku jawab tidak, apakah Kang Aldi percaya?! Akang pasti tidak akan percaya, karena hati Akang sudah dipenuhi dengan cemburu!"
"Kamu marah ketika aku menolong Anisa, bagaimana bisa kau melarangku cemburu ketika melihatmu bersama Rasya?! Kamu istri sahku, kita terikat janji pernikahan di depan penghulu!"
__ADS_1
"Aku tidak cemburu ketika Akang menolong Anisa, yang aku benci dan membuatku tersinggung, Kang Aldi berkata bohong jika Akang sudah bertemu dia. Aku tanya padamu Kang, bagaimana hubungan Akang dengan Anisa di masa lalu, mengapa hingga sekian lama selalu saja kamu tutupi? Jangan-jangan ada kebohongan yang lebih besar dari yang aku pikirkan?!!"
"Tutup mulutmu Nur!! Jangan terus berprasangka buruk!" Aldi semakin emosi dengan ocehan istrinya, tanpa sadar tangannya terangkat di hadapan Nurmala.
"Ayo, tampar!! mengapa diam!" Nurmala menantang, Aldi terpaku menatap wajah Nurmala.
"Haaah!!" Aldi menghempaskan tangannya yang tak bersalah, kemudian berjalan cepat keluar rumah menuju mobilnya.
Braakkk!!
Nurmala membanting pintu kamar. Karyawan saling pandang satu sama lain, terkejut dengan bantingan pintu. Terkejut dengan kejadian itu, sekian lama menikah, baru pertama kalinya pertengkaran mereka terdengar. Wajah-wajah itu saling menatap satu sama lain penuh tanda tanya, tapi saat itu juga mereka saling menggeleng tak bisa memberikan jawaban.
Nurmala terisak di kamar, sementara Aldi memilih nongkrong di warung kopi dengan tulang ojek kenalannya.
Beberapa lama kemudian Nurmala keluar dengan menenteng tas dengan kunci motor di tangan. Karyawan memandangnya dari kejauhan. Mereka tak percaya dengan pandangan di depan matanya, Nurmala yang terlihat lembut dan penurut, Ternyata berani dan bisa mengendarai motor cowok milik Aldi.
Helm Nurmala kenakan, suara gas motornya menderu, tancap gas, sesaat kemudian bayangannya berlalu dari pandangan para karyawan yang terbengong sambil menggeleng.
"Ckckck, tak kusangka!" gumam salah seorang karyawan. Tak ada yang berani bertanya ataupun bersuara, tapi kemudian kembali pada pekerjaannya.
Nurmala memarkir motornya diatas teras,
"Assalamualaikum!" Nurmala langsung membuka sendiri pintu rumahnya.
"Waalikum salam, Kamu Nur? sendiri saja?"
Samira keluar dari balik kelambu kamar, terkejut dengan kedatangan Nurmala menaiki motor sendirian.
Firasat orang tua bisa membaca bahwa putrinya sedang memiliki masalah dengan suaminya. Tapi tak ada kata yang terucap dari bibir Nurmala, hanya matanya saja terlihat berkaca-kaca.
"Sholatlah dulu Neng, sudah Maghrib!" kata Samsudin pada putrinya.
"Baik Pak!" Nurmala bergegas menuju bagian belakang rumahnya. Suara jengkerik bersahutan dengan katak, Nurmala bisa tersenyum karena ingatan damai masa kecilnya muncul menari dalam benaknya.
Selesai sholat Nurmala duduk bersama Bapak ibunya. "Bagaimana usahamu lancar Neng?" Samsudin membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Blecky!... Blacky!" kucing kesayangan Nurmala itu berlari ke pangkuan. "Alhamdulillah lancar Pak!" jawab Nurmala kemudian sambil mengelus kucingnya.
"Kemana suamimu, kok kamu datang sendirian, pakai motor lagi, kemana mobilmu?" tanya Samira.
"Kang Aldi sibuk Buk, Nur memang ingin pulang sendirian!" jawab Nurmala tanpa berani menatap wajah kedua orang tuanya, dia memilih sibuk bergurau dengan si Blacky.
"Hemmh, Nurmala katakan pada Bapak, apakah kamu sedang memiliki masalah dengan suamimu?"
"Nggak ada Pak. Huaam! Nur capek, ngantuk ingin istirahat duluan ya Pak, Buk!"
"Ya sudah, istirahatlah sana!" Samira menyetujui permintaan Nurmala meskipun dia ingin sekali menyimak cerita anaknya. Nurmala bergegas masuk kamar.
Nurmala menghempaskan tubuhnya diatas kasur sambil menatap foto mesranya bersama Aldi di dinding kamar. "Kang Aldi, Mengapa kau berbohong padaku?" gumamnya dalam hati. Pandangan Nurmala menerawang ke langit-langit, lelah hati dan fisik membuat matanya ingin terpejam.
Di luar kamar Samsudin dan Samira masih duduk berbincang.
"Ada apa dengan Nurmala Pak, pasti ada masalah dengan Aldi!" ucap Samira.
"Apapun masalahnya tidak usah ikut campur jika mereka tidak meminta bantuan kita Buk! mereka sudah dewasa bisa menyelesaikan urusannya sendiri!"
"Tapi Pak, apa sebenarnya masalah mereka hingga membuat Nurmala kambuh dengan sifat lamanya, naik motor cowok? Keberanian itu tidak akan muncul jika anakmu itu tidak sedang setres Pak?!"
"Sudahlah, kita lihat saja bagaimana mereka menyelesaikan masalah mereka! Tidur saja yuk, sudah waktunya!" Samsudin mencolek genit lengan istrinya sambil menaikkan kedua alis ke atas dan ke bawah, Samira nyengir tapi tersipu malu.
Di Bandung, Aldi baru saja memarkir mobilnya.
Tak ada satupun lampu rumahnya menyala. Saat larut malam, biasanya lampu emper dan kamarnya menyala, tapi malam itu semuanya padam. Ini tidak mungkin terjadi jika Nurmala berada di rumah, dia trauma gelap.
Aldi kembali masuk mobil mengambil kunci cadangan. Dengan temaram lampu jalanan, Aldi berusaha membuka pintu rumahnya, menyalakan lampu yang dia perlukan.
"Kemana Nurmala? Mungkinkah dia mengendarai motorku?"
Waktu menunjukkan pukul 23:00.
Aldi mencoba menelepon, tapi hanya suara operator yang menjawab.
__ADS_1