
Matahari sudah bergeser ke arah barat ketika Samsudin dan Samira bangun dari istirahat siangnya. Aldi dan Nurmala masih tampak duduk berdua di teras. Blecky bermanja di pangkuan Nurmala, kadang tangan Aldi juga ikut membelai bulu hitam Blecky.
Angin berhembus sejuk, membuat tanaman Pak Samsudin bergoyang goyang diantara sinar matahari yang sudah mulai hilang panas hilang teriknya.
"Nur, bagaimana kalau aku melamarmu?" kata-kata Aldi membuat Nurmala terkesiap.
"Untuk apa kang?" Nurmala berlagak bodoh.
"Ya, agar kamu bisa menjadi istriku Nur!"
"Ehemmm! aku mah terserah Kang Aldi. Jika Akang sudah mantap dan bisa menerima aku yang seperti ini, aku ngikut saja Kang" kata Nurmala, Aldi mendengarkannya dengan seksama dengan hati berbunga.
"Bagaimana dengan orang tuamu Nur?"
"Aku nggak tahu Kang, coba saja bicara sama Bapak dan ibuk!"
Belum terkatup bibir Nurmala mengucap nama Bapak, terdengar panggilan dari dalam rumah yang meminta mereka kembali masuk ke ruang tamu. Samsudin dan istrinya sudah menunggu.
"Duduk sini Kang Aldi!" pinta Samsudin.
Aldi ikut duduk, diam belum berani berucap, dia menunggu orang tua Nurmala yang bicara.
Mereka kembali berbincang tentang banyak hal. Akhirnya Aldi merasa punya kesempatan.
Aldi mengambil nafas dalam-dalam.
"Pak, Buk, bolehkah saya meminang Nurmala?"
Sejenak Samsudin terdiam, seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Emmm, aku terserah Nurmala, aku nggak bisa melarang jika dia sudah terpikat padamu" jawab Samsudin.
"Tidak bisa semudah itu Pak!" Samira membantah ucapan Samsudin, membuat tiga orang di ruangan itu kaget, terutama Aldi sebagai pemohon.
"Tidak bisa bagaimana Buk, anaknya sudah saling suka, untuk apa dipersulit?!" Samsudin heran dengan larangan istrinya. Aldi dan Nurmala mendengarkan dua orang itu berdebat dengan hati gusar.
__ADS_1
"Aku bisa mengizinkan Aldi menikahi Nurmala asalkan...!" sejenak Samira menahan ucapannya.
"Asalkan apa Buk?" Nurmala penasaran.
"Asalkan Aldi bisa memberikan uang sepuluh juta untuk biaya pernikahan!" sambung Samira.
"Sepuluh juta????" Samsudin, Aldi dan Nurmala terkejut dengan nominal yang terucap dari bibir Samira. Sepuluh juta sangatlah besar, setara dengan seratus juta di zaman sekarang.
"Nggak salah Buk?? Ibuk mau menjual Nurmala?!" Samsudin geram dengan sikap istrinya. Aldi dan Nurmala terdiam saling pandang, dalam pikiran mereka Samira sungguh keterlaluan.
"Aku sudah merawatnya dari kecil hingga dewasa, banyak biaya dan tenaga yang sudah aku keluarkan, sekarang Nurmala sudah cantik dan pandai, nggak bisa semudah itu meminang anakku hanya bermodal cinta!" Samira menambahkan ucapannya.
Aldi tertunduk, sepuluh juta bukanlah uang kecil baginya yang hanya seorang pengawas karyawan di perusahaan swasta. Samsudin geleng-geleng kepala dengan sikap istrinya. Nurmala bingung, tapi kemudian mendekati ibunya.
"Buk, memang ibuk sudah membesarkan Nurmala, jasa ibuk tak bisa dibalas dengan apapun apalagi hanya dengan sepuluh juta, tapi tolong jangan membebani Kang Aldi karena cintanya pada Nur, kasihan Kang Aldi Buk!"
"Nur, kamu bisa mencari suami yang lebih sempurna dari Aldi! Anak Kang Kodir, anak Pak Carik, anak Mpok Salma semua naksir kamu Nur! mereka bisa dengan mudah memberi Ibuk sepuluh juta!" papar Samira.
"Buk, Nur hanya cinta sama Kang Aldi, bersama Kang Aldi Nur sudah bahagia, Nur yakin dengan berusaha dan bekerja keras Nur dan Kang Aldi akan bisa sekaya mereka! tapi tolong jangan persulit Kang Aldi untuk menikahi Nur" Nurmala meyakinkan Ibunya, Samira terdiam menyimak, Aldi dan Samsudin saling pandang.
"Baiklah Buk! saya usahakan!" kata Aldi tegas dan mantap, meskipun dalam pikirannya belum memiliki gambaran kemana mencari tambahan uang yang dia miliki dalam rekening tabungannya yang tinggal Lima ratus ribu saja, sedangkan gaji Aldi 200 ribu saja perbulannya.
Mereka berempat terdiam. Samira merasa lega karena pernikahan Nurmala akan dia buat meriah tanpa banyak keluar biaya. Pernikahan mewah adalah sebuah gengsi yang harus dia tunaikan kepada ibu-ibu dan tetangga untuk anak perempuan satu-satunya.
Samsudin terkulai karena tak bisa membantah keinginan istrinya, tapi dia bangga dengan calon menantunya yang memiliki daya juang tinggi untuk meminang anaknya.
Tanpa pamit, Samira ngeloyor pergi ke belakang. Samsudin berdiri menyusul kepergian istrinya. Aldi dan Nurmala mereka tinggal berdua di ruang tamu.
"Kang Aldi sanggup menyediakan uang segitu banyaknya? Ibuku memang keterlaluan Kang, maafkan ya!" kata Nurmala setelah orang tuanya tidak lagi mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Doakan saja Nur, semoga Akang dipermudah mendapatkan uang itu!, aku yakin bisa Nur!" Aldi menatap wajah Nurmala yang tampak sendu, bulu mata lentiknya berkedip-kedip menahan air mata yang ingin keluar. Aldi menggenggam tangan Nurmala.
"Sabar ya Kang, Nur akan selalu berdoa untuk kesuksesan Akang!" ucap Nurmala.
"Assalamualaikum!" seorang laki-laki yang belum terlalu tua datang ke rumah Nurmala. Mereka berdua terkesiap, Aldi segera melepaskan genggaman tangan Nurmala.
__ADS_1
"Waalikum salam Mang Juni, masuk Mang!" Nurmala menyambut kedatangan pamannya.
"Bapak kamu ada Nur?"
"Ada Mang, tunggu sebentar, Bapak masih di belakang!" Jawab Nurmala sambil melangkah mencari keberadaan bapaknya. Aldi bersalaman sambil berkenalan dengan Mang Juni.
"Rumahku dekat saja Al, 3 rumah dari sini, aku tinggal sendirian, kata orang jodohku mungkin sudah mati jadi hingga usiaku yang kepala empat ini belum juga menikah!" papar Mang Juni dengan nada sedih. Aldi tersenyum mendengarkan cerita Mang Juni adik Samira itu dengan penuh perhatian.
"Ya, bagaimana lagi ya Mang, kadang takdir tak bisa kita pilih jika yang punya kekuatan sudah memberi keputusan!" kata Aldi.
"Mang Juni, ini Aldi !" kata Samsudin saat sudah duduk di ruang tamu.
"Iya, kami sudang mengobrol!" kata Mang Juni.
"Dia nanti akan tidur di rumahmu dulu Mang, sebab bus ke Bandung baru ada esok pagi" Samsudin menjelaskan maksudnya memanggil Mang Juni ke rumahnya.
"Kang Aldi, aku minta maaf kalau sementara ini tidak bisa memberi tempat menginap di rumah ini, aku nggak ingin ada fitnah karena ini rumah anak perawan!" papar Samsudin.
"Iya Pak, saya mengerti, maaf jika kedatangan saya merepotkan!" Aldi sambil mengangkat dan membangkitkan kedua tangannya di atas dada.
"Santai saja Aldi, nanti malam kita bisa mengobrol, kamu bisa belajar padaku bagaimana memikat para wanita!" Mang Juni membual.
"Hahaha, iya cara memikat cewek yang selalu gagal!" olok Nurmala yang sejak tadi hanya menyimak perbincangan.
"Jangan bilang gagal Nur, mereka semua terpikat, cuma ya memang tidak berjodoh!" kata Mang Juni sambil tersenyum malu. Semua yang ada di ruang tamu tertawa dibuatnya.
Hari semakin sore, setelah beberapa lama berbincang, Mang Juni mengajak Aldi pindah ke rumahnya. Aldi pun berjalan mengikuti Mang Juni dengan rangsel di punggungnya.
*********
note:
Cerita ini berlatar tahun 2000.
Gaji Aldi 200 ribu saat itu, setara 2 juta di zaman sekarang. 5 juta setara 50 juta.
__ADS_1