Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Sikap Nurmala


__ADS_3

Polisi membawaku, diatas motor patroli aku duduk diapit dua polisi itu, banyak mata berjajar di pinggir emperan rumah, ada yang iba tapi banyak pula yang mencaci. Ibuku meraung menangisi kepergianku. Tapi aku tak peduli. Hati dan otakku seperti kosong tak berisi.


Tiga malam aku meringkuk di sel Polsek, kemudian di pindahkan ke Lapas, aku hanya bisa pasrah. Kehancuran hidupku sampai pada titik paling rendah, remuk hancur tak bersisa. Tapi aku tidak pernah putus asa.


Satu Minggu kemudian sidang, aku divonis enam bulan penjara, lebih ringan dari tuntutan jaksa 2 tahun penjara diganti dengan denda 25 juta.


"Tenangkan dirimu Al, tunggu di sini! Bapak akan menjual sawah agar kamu bisa keluar" kata bapak saat mendampingi aku sidang.


"Tidak usah Pak, biarkan saja aku jalani semua ini, Saya tak ingin mengganggu harta milik adik dan keluarga! Enam bulan bukanlah waktu lama kok!" kataku membesarkan hati Bapak.


Bapak terdiam mendengar kata-kataku, matanya berkaca-kaca, baru sekali itu aku melihat Bapakku menangis. Beliau menepuk bahuku.


"Sabar ya Nak!" ucapnya sambil menghapus matanya yang berair.


Polisi pun mengantarkan aku ke sel baru, sel bagi narapidana yang sudah mendapatkan vonis. Aku pilih untuk tetap menjalani hari-hari di penjara untuk menyembuhkan luka hati dan jiwaku. Hampir setiap bulan Anisa dan ibunya menjengukku.


Ibu Anisa bercerita kalau dia sudah bercerai dengan Robert dan mengusir mereka berdua dari rumahnya. Anisa dan ibunya sama-sama menjadi single parent.


Enam bulan berlalu, aku bisa bernafas bebas di luar jeruji besi. Berkumpul kembali dengan seluruh keluarga. Mencari ijasah SMA dengan sistem paket, lalu nekat pergi mencari pengalaman ke kota Bandung.


FLASH BACK OFF....


"Haaah, begitulah masa laluku bersama Anisa Nur, pahit! jadi ketika kamu mengajak ke rumahnya, aku menghindar dan mengarang berbagai alasan" kata aldi setelah menghembuskan nafas beratnya.


Nurmala masih terpaku memandang Aldi, dia tak menyangka getirnya kehidupan masa lalu suaminya. Satu menit kemudian dia baru bertanya,


"Apakah setelah itu Akang tidak kembali ke rumah Anisa, dia kan masih berstatus istrimu?"


"Tidak, dengan terbuktinya bayi itu bukan anakku, secara otomatis aku menceraikan Anisa, karena sudah ada surat perjanjiannya!"


"Apakah perasaan Akang sudah hilang terhadap Anisa?"


"Hemmmh, jangan tanyakan itu Nur, hatiku yang dulu sudah Anisa hancurkan, yang saat ini bersama denganmu adalah sepotong hati yang baru, jika kemarin aku menemuinya di RS, hanya karena iba melihat dia kecelakaan dan tidak ada seorangpun dari saudaranya"


"Emmm, baiklah aku percaya padamu Kang! tapi awas jika suatu hari terbukti kalau Akang berbohong lagi!"


"Kamu tidak ingin marah karena selama ini aku simpan semua ini Nur? Aku sudah pernah menikah alias berstatus duda! tapi percayalah aku masih bujang, masih orisinil saat menikah denganmu"


"Orisinil, orisinil apaan sih?"


"Itunya Nur, belum aku pakai kecuali dengan kamu!"

__ADS_1


"Iiih! malu ah Kang!" cubitan kecil mendarat di tangan Aldi.


"Aw..aw..aw.. sakit Nur!" Aldi meringis, Nurmala terlihat puas dengan cubitan genitnya.


"Mengapa Akang tidak menceritakan semua ini saat belum menikah sih, kan tidak perlu ada salah faham?"


"Aku takut kamu akan menolakku"


"Hemmmh..Kang, yang namanya cinta tulus itu menerima apa adanya pasangan, kalau cinta hanya melihat ganteng atau cantik, semua itu tidak akan bertahan lama!"


"Emmm ya, jadi kamu tulus ke aku ya!" Aldi memainkan mata dan alisnya, Nurmala cuek.


"Pulang yuk Kang, sudah malam Nih!" Kata Nurmala dengan manja, Aldi berdiri dari duduknya, mereka bergandengan menuju parkiran. Sesaat kemudian mobil Aldi menerobos jalan perkampungan.


"Hatiku sangat lega Nur, legaaaa sekali, seperti batu besar yang menindih telah terambil dari dadaku!" kata Aldi sambil sesekali menatap jalanan. Tapi Nurmala tak merespon, matanya menatap layar ponsel. Aldi hanya tersenyum, karena hatinya saat ini sedang gembira.


Kehawatiran yang dia bayangkan Nurmala marah atau membenci ternyata tidak terjadi, tapi dia menerima semua masa lalu dirinya yang gelap.


Waktu menunjukkan pukul 22:30. Mobil Aldi memasuki halaman rumah Samsudin.


"Lampunya sudah dimatikan Nur, pasti ibuk sudah tidur!" ucap Aldi hawatir.


"Tenang, aku bawa kunci kok!" kata Nurmala sambil mengeluarkan kunci dari tasnya. Aldi tertawa kecil karena tak terpikirkan sebelumnya.


Dua orang yang baru berdamai itu diam diatas bantal, mata mereka menatap langit-langit.


"Nurmala!" bisik Aldi setelah berpindah posisi menghadap Nurmala.


"Hemm!" sahut Nurmala lirih.


"Kamu nggak kangen sama Akang?"


"Enggak!" jawab Nurmala sambil tersenyum sambil mengubah posisi menghadap suaminya.


"Masak sih?" Aldi mendekatkan tubuhnya.


"Beneran...cuma ...."


"Cuma apa?" Aldi semakin mendekatkan wajahnya, menatap penuh cinta, mengelus wajah dan mengecup istrinya.


"Cuma kangeeeen sekali!" bisiknya sambil membalas ciuman suaminya.

__ADS_1


Yang terjadi terjadilah, semua halal bagi mereka yang sudah menikah.


❤️❤️❤️❤️


Keesokan paginya.


Tok..tok..tok. "Nurmala, sudah pagi Nur!" Samira mengetuk pintu kamar.


"Iya Buk!" Nurmala tergagap, Aldi masih terlelap kelelahan dengan pakaian yang tidak lengkap.


"Eemmuah, bangun Kang!" satu ciuman mendarat di pipi Aldi.


"Emmmh, sebentar lagi!" Aldi mendekap kembali tubuh Nurmala.


"Kaang sudah siang!"


"Iya, sebentar sayang!" Aldi kembali beraksi dengan tubuhnya diatas Nurmala. Satu jam berlalu mereka tak kunjung keluar.


"Jam berapa sih mereka pulangnya Pak, jam segini belum juga bangun!" gerutu Samira kepada suaminya.


"Biarkan sajalah, mereka bukan anak kecil yang harus diatur-atur Buk!" kata Samsudin santai sambil menyeruput kopinya.


"Hemmmh, gagal deh ke pasar naik mobil!" gerutu Samira sambil ******* bumbu di cobek.


"Ehehee, jadi dari tadi membangunkan mereka itu ingin diantar ke pasar, kalau begitu sama Bapak saja naik motor!"


"Ogah, pinginnya naik mobil atuh Kang!" Samira bersungut, Samsudin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Saat itulah Nurmala keluar dari kamar membawa handuk dan pakaian ganti.


"Nurmala, Ibumu pingin jalan-jalan ke pasar naik mobil!" ucap Samsudin.


"Eh Iya Pak, nanti aku bilang Kang Aldi!" kata Nurmala sambil terburu-buru masuk kamar mandi memenuhi panggilan alam.


Samira segera menyelesaikan masakannya, satu jam kemudian Aldi dan Nurmala sudah keluar kamar dengan dandanan rapi.


"Bapak nggak ikut?!" tanya Samira kepada Samsudin yang sudah berpakaian bertani.


"Kamu sajalah, aku mau menanam cabe!"


"Hemm, Bapakmu memang begitu Nur gak suka jalan-jalan, ayolah kita berangkat!" Samira berjalan menuju mobil, Aldi dan Nurmala mengikutinya dari belakang.


"Nur, sekarang Kang Kodir bangkrut Nur, mobil mereka dijual, untungnya kamu dulu nggak mau sama si Deni Nur!" kata Samira saat duduk dalam mobil.

__ADS_1


"Hehehe, ya begitulah dunia Buk, kadang di atas kadang di bawah, dunia tidak ada yang abadi!"


__ADS_2