Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Pulang Kampung


__ADS_3

Nurmala tampak percaya diri menggunakan jilbabnya, meski kadang kerudungnya tampak kurang rapi, tapi dia lebih terlihat lebih anggun. Aldi memandanginya dari kejauhan dengan senyuman.


"Sejak kapan kamu berubah Nurmala?" Soni menyapa saat Nurmala duduk di mesinnya.


"Sejak yang kamu lihat hari ini Son!"


"Nggak gerah pakai tertutup rapat begitu?"


"Sedikit, lama-lama terbiasa!" jawab Nurmala santai, membuat Soni terdiam, apalagi dia melihat Aldi memandang ke arahnya. Soni tak berani macam-macam, dan memilih untuk kembali ke tempat kerja.


Semua terdiam, karena Aldi mulai berkeliling, berjalan diantara para pekerja. Mereka tahu Nurmala adalah kekasih Aldi, pengawas karyawan PT KLAMBIKU.


********


Seminggu lagi cuti hari raya, hampir semua karyawan mudik, termasuk Nurmala dan Nihaya pulang ke desanya di Jawa Barat. Tapi tidak dengan Aldi, sudah enam Syawal dia tidak pulang.


Waktu pulang kerja.


"Nurmala, kita mampir dulu ke pasar!" kata Aldi saat akan mengantarkan Nurmala pulang. Nurmala menyetujui rencana Aldi tersebut.


"Mau beli apa Kang?" Tanya Nurmala saat sampai di pasar.


"Kamu pilih beberapa baju muslimah, dan oleh-oleh untuk dibawa pulang!" Kata Aldi sambil menyerahkan uang dalam sebuah amplop.


Nurmala mengikuti kata Aldi, Nurmala masuk dalam pasar, Aldi menunggu di area parkiran. Jam kemudian Nurmala muncul dengan dua bungkusan. Satu berisi dua potong pakaian dan beberapa bungkus kue khas kota Bandung.


"Ini kembaliannya Kang!" Nurmala menyerahkan uang dalam amplop.


"Kok masih ada kembalian?" kata Aldi sambil menerima amplop dari Nurmala.


"Nggak Kang, sudah banyak, ini sudah lebih dari cukup!" kata Nurmala.


Aldi tersenyum mendengar ungkapan sederhana dari Nurmala, uang yang dia berikan tidak serta merta Nurmala habiskan begitu saja. Aldi menilai dia tipe wanita yang tidak suka menghambur-hamburkan uang demi sebuah kesenangan sesaat.


Aldi kemudian mengantar Nurmala pulang ke kontrakan. "Banyak juga belanjamu Nur?!"


Tanya Nihaya ketika melihat Nurmala menenteng dua tas belanjaan.

__ADS_1


"Iya, Kang Aldi pingin kasih oleh-oleh!" kata Nurmala sambil meletakkan belanjaannya ke atas kursi.


"Apa ini Niha?" Nurmala melihat kardus yang terikat tali di bawah lantai.


"Rudi nitip buat emak bapakku!"


"Ciyeee, untuk calon mertua ya!" olok Nurmala, Nihaya hanya senyum-senyum tanpa jawab sambil packing baju ke dalam koper.


Hari semakin beranjak petang, Nurmala dan Nihaya sudah selesai dengan bawaannya untuk esok pagi. Mereka tidak ingin kesiangan dan harus berjubel dengan calon penumpang yang akan mudik.


Pukul lima pagi mereka sudah bersiap, Aldi dan Rudi sudah menjemput untuk berangkat ke terminal.


"Tak ada yang tertinggal Nur?" tanya Aldi saat Nurmala sudah akan naik ke boncengan.


"InsyaAllah sudah semua terbawa Kang!" jawab Nurmala sambil mengangkat kardus dalam pangkuan. Motor Rudi sudah mulai bergerak, Aldi menyusul.


Sesampainya di terminal masih terlihat sepi, hanya ada dua bus yang mangkal, itulah bus yang akan membawa Nurmala dan Nihaya pulang ke kampung halaman. Mereka segera masuk dan memilih tempat duduk.


"Tolong tuliskan alamat lengkapmu di sini Nur!" pinta Aldi sambil menyodorkan kertas dan pulpen kepada Nurmala.


"Untuk apa Kang?" Nurmala heran.


"Hehe, jauh rumahku Kang!" Nurmala sambil menuliskan alamat dalam secarik kertas itu.


"Jauh di mata dekat di hati, jarak yang jauh akan terasa dekat jika sudah ada niat di hati!" cletuk Rudi dengan ekspresinya yang slengean membuat Nihaya gemes sekaligus geram.


"Ini Kang!" Nurmala menyerahkan tulisan kepada Aldi.


Matahari tampak sudah terang, cahaya menyilaukan menembus jendela bus. Nurmala menarik korden untuk menutupinya. Bus semakin penuh dengan pemudik dan mulai bergerak maju meninggalkan terminal.


Aldi dan Rudi masih berdiri di bawah bus, Nurmala dan Nihaya melambaikan tangan dari balik kaca, dua pemuda itu membalasnya dengan lambaian tanda selamat jalan.


Rumah mereka di pelosok desa, membutuhkan sekitar lima jam untuk sampai ke rumah, menyusuri jalan-jalan kecil yang berkelok di area perkebunan teh.


Nihaya sudah lebih dulu sampai di rumah, sementara Nurmala masih terpontal pontal diatas ojek, 2 km lebih jauh dari Nihaya.


Tulang ojek menghentikan motor di sebuah rumah sederhana yang separuh temboknya dari anyaman bambu. Nurmala turun dengan bawaannya.

__ADS_1


"Blecky... Blecky!!" Nurmala memanggil, seekor kucing berwana hitam, putih di bagian dada, berlari mendekat menggesekkan kepala di kaki Nurmala. Nurmala mengangkat dan menggendongnya dengan rasa rindu.


"Assalamualaikum!" seru Nurmala di depan pintu rumahnya yang tampak sepi.


"Waalikum salam!, siapa ya!" seorang wanita setengah baya keluar, memandang heran kepada Nurmala yang berada di depannya.


"Nurmala??!!, kau kah itu neng?" Samira, ibu Nurmala terkejut setelah mengenali wajah anaknya yang memakai kerudung.


"Iya Buk, ini Nurmala!" jawab Nurmala sambil masuk membawa barang-barangnya.


"Paaak!!" anakmu pulang!" teriak Samira memanggil suaminya yang masih berkebun di belakang rumah. Samsudin segera mencuci kaki dan tangannya kemudian masuk ke dalam rumah.


"Duuh, anak Bapak sekarang gelis pisan!!" kata pria bertubuh tinggi itu sambil memeluk putrinya. Tiga adik Nurmala juga datang mendekat.


"Bagaimana kabarmu Neng?, kamu betah tinggal di sana?" tanya Samira sambil membuka kardus oleh-oleh.


"Alhamdulillah Buk, disana Nurmala bertemu dengan orang-orang baik!" senyum Nurmala mengembang, wajah Aldi terbayang di benaknya.


"Banyak sekali jajananmu Nur?!" Samira menurunkan isi kardus.


"Itu titipan kang Aldi buk!"


"Kang Aldi?, siapa dia?" tanya Samsudin heran.


"Dia teman Nur Pak, dia yang menyarankan Nur pakai jilbab" Nurmala menjawab sambil membenahi jilbabnya. Samsudin manggut-manggut mendengar keterangan Nurmala.


"Apakah dia orang Bandung?" Samsudin kembali meminta Informasi tentang Aldi.


"Bukan Pak, Kang Aldi orang dari Blitar Jawa Timur, dia sudah lima tahun di Bandung, menjadi pengawas di tempat Nur bekerja" papar Nurmala. Samsudin dan Samira mendengarkannya dengan penuh perhatian. Pemikiran orang tua sudah bisa menebak, kalau Aldi adalah kekasih ataupun orang yang menaruh hati pada putrinya.


"Hey, jangan buat mainan!" Tegur Samira saat melihat adik paling kecil Nurmala yang masih kelas 1 SD menarik seperti mobil-mobilan tas pakaian Nurmala.


"Istirahat dulu Nur, pasti kamu capek!" kata Samira.


"Ya sudah istirahat saja dulu, Bapak mau melanjutkan berkebun!" Samsudin berdiri, lalu melangkah kembali ke halaman belakang.


Nurmala mengangkat barang-barang masuk ke dalam kamar dibantu adiknya. Samira kembali ke dapur menyelesaikan tugasnya menyiapkan takjil untuk berbuka.

__ADS_1


Blacky terus saja mengikuti Nurmala keluar masuk kamar. Nurmala kembali mengangkatnya dalam gendongan.


"Iiih, gemes,gemes!!" gurau Nurmala dengan kucingnya yang bermanja manja dengan gelitikan tangan Nurmala di dadanya.


__ADS_2