
Mereka berdua saling diam hingga sampai di rumah. Nurmala bergegas masuk dalam kamar, Aldi merebahkan tubuhnya di atas kasur ruang tengah dengan lengan menutupi kepala. Sesekali dia membuang nafas beratnya.
Nurmala terbaring di ranjang kamar, matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang kosong se-kosong hatinya yang berharap segera menggendong momongan.
Ting...ting...tung...tung...
ponsel Nurmala bergetar dalam tas yang tergeletak di meja. Dengan malas dia bangkit.
"Ya Niha?"
Mendengar teleponnya dijawab Nurmala, Nihaya memberondong pertanyaan.
"Aku nggak bisa menceritakan apa-apa saat ini Niha, sakit rasanya!" Nurmala menutup teleponnya, dan kembali ke ranjang.
******
Di rumah Samsudin, Samira tampak gelisah, duduk di depan TV salah, masuk kamar juga nggak nyaman. Berkali-kali dia menghidupkan ponselnya tapi kemudian menutupnya kembali.
"Tak biasanya kamu seperti ini, ada apa?" Samsudin heran melihat tingkah istrinya.
"Aku menghawatirkan Nurmala pak!"
"Telepon saja, apa susahnya sih?"
"Ini sudah malam Pak, takut ganggu!"
"Hemmh, terserah saja sudah, aku ngantuk!" Samsudin membaringkan tubuhnya, Samira justru justru keluar dari kamarnya. Samsudin tak membuka matanya.
__ADS_1
"Oh Tuhan, tolonglah anakku, bukalah hati suaminya untuk memaafkan" Samira bersujud sambil berlinang air mata.
"Assalamualaikum warahmatullah" duduk mengakhiri sholat.
"Gustii, maafkan hamba-Mu ini, aku berbohong dengan niat baik, tak sedikitpun rasa ingin membohongi mereka, tapi saya mengakui caraku salah Gusti. Engkau maha pengampun, maha penyayang tak ada yang tak mungkin bagimu, jika aku boleh meminta, aku hanya ingin keluarga anakku bahagia, itu saja!" Sesaat Samira terdiam kemudian kemudian menutup doanya dan keluar menuju kamar.
*****
Aldi duduk terdiam di ruang tengah, sementara Nurmala di atas ranjang kamarnya.
Tok..tok. Aldi mengetuk pintu kamar, tanpa menunggu izin Nurmala dia langsung membuka pintu, kemudian duduk di samping Nurmala, memeluk pundak istrinya itu dengan lembut.
"Maafkan Akang Nur!" ucap Aldi lembut. Nurmala tak mampu menjawab apapun, hanya tersenyum tapi air matanya menetes deras.
"Apakah Akang akan meninggalkan Nur?"
"Mengapa kamu menanyakan itu Nur?"
"Nurmala, sayangku...aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kamulah satu-satunya wanita yang mendampingiku hingga maut menjemput nanti" pelukan Aldi semakin kuat. Nurmala membenamkan wajahnya di dada Aldi dan tenggelam dalam tangisnya.
"Aku tak peduli lagi dengan keturunan, jika memang Tuhan memberikan takdirnya seperti ini aku pasrah" Batin Aldi sambil memeluk tubuh istrinya.
****
"Ini bukan penipuan kan Dokter?!" Aldi terkejut mendengar ucapan kata-kata Dokter.
"Lihat saja sendiri Pak Aldi di layar, ada makhluk kecil hidup di rahim istri anda!"
__ADS_1
"Ooh Tuhan, apakah ini sebuah keajaiban?? Nuuur, apakah aku bermimpi? cubit aku Nur!"
Nurmala tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang sangat gembira sekaligus kebingungan tak percaya. Dia tak berharap apapun justru di usia pernikahan yang ke-20 tahun Tuhan memberikan calon bayi mungil di rahim Nurmala.
"Jaga istri anda baik-baik Pak Aldi!"
"Tentu, tentu saja dokter!"
"Saya resepkan vitamin untuk kesehatan istri Anda, tolong ambil di apotik!"
Aldi bergegas menerima secarik kertas itu dari tangan dokter.
"Tunggu Nur, jangan banyak bergerak!" kata Aldi saat Nurmala bangun dari ranjang. Dokter tersenyum melihat pria di depannya begitu sigap berdiri menggendong istrinya turun dari ranjang.
"Aah, malu Kang! Nurmala nggak apa kok!"
"Santai saja Bu Nurmala, berbahagialah anda memiliki suami seperti Pak Aldi.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Begitulah Kisah bahtera rumah tangga Nurmala, dengan kesabaran dan keikhlasan menghadapi badai yang mendera. Pada akhirnya Tuhan menjawab doa mereka dan orang yang mencintainya.