
Suara adzan subuh terdengar dari masjid rumah sakit, Nurmala sudah terjaga, dia menemukan suaminya tidur di atas kursi, dengan tubuh telungkup di dipan. Aldi terlihat lelah, Nurmala tak tega membangunkannya.
"Kamu sudah bangun Nur?" Aldi terbangun saat mendengar Nurmala terbatuk-batuk. Nurmala tampak pucat karena sejak kemarin belum bisa merasakan nikmatnya makanan.
"Aku mau ke mushola dulu ya?" kata Aldi bangkit dari duduknya. Nurmala hanya mengangguk menyetujui.
Selesai sholat Aldi duduk di serambi, "Assalamualaikum!" Seseorang menyapanya. Aldi sedikit bingung dan lupa mengingat nama orang yang menjabat tangannya itu.
"Lupa ya mas, Antok teman SMP di kampung!"
"Eh..wah..ya .ya baru ingat! Aldi dan Anto duduk berhadapan bernostalgia. Anto teman SMP Aldi tapi tinggal di Bandung berprofesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.
"Ada banyak teman seumuran sampeyan mas kalau mau kuliah!" Antok memberi penjelasan
"Oh ya? tapi untuk apa juga saya kuliah mas, nggak akan jadi dosen seperti sampeyan!":
__ADS_1
"Yang namanya menuntut ilmu nggak kenal usia mas, ilmu agama untuk bekal ketentraman kita dunia dan akhirat" Aldi manggut-manggut mendengar paparan dari Antok. Lama mereka berbincang, tak terasa matahari sudah muncul di ufuk timur dengan terangnya. Mereka akhirnya saling bertukar nomor ponsel. Aldi kemudian kembali ke kamar Nurmala dan Antok melangkah di ruangan lainnya.
Di ruang itu sudah ada seorang dokter dan dua orang perawat yang mengecek kondisi pasien.
"Bagaimana Dokter kondisi istri saya?"
"Emm, bagus... nanti sore jika tidak ada perubahan dia sudah bisa pulang dan rawat jalan!" Aldi sangat lega mendengar kabar itu.
"Kemana saja sih tadi Kang? lama banget!" keluh Nurmala saat dokter dan perawat sudah berpindah ke pasien lain. Aldi bilang bertemu dengan teman lamanya. "Yaah, pantesan!"
"Makan dulu Nur, aku suapi ya?" Aldi mengambil jatah makan Rumah sakit yang diletakkan petugas di atas meja dan mendekatkan ke ranjang Nurmala.
"Ada apa Nur? kok malah nangis, maafkan Akang ya kalau Akang ada salah!" kata Aldi lembut sambil menyuapi istrinya.
"Huuhu..hu..!" tangis Nurmala semakin keras.
__ADS_1
"Eeeh, Nuur jangan keras-keras, malu didengar orang, nanti saja nangisnya kalau sudah pulang!" Aldi tak mengerti mengapa Nurmala menangis. Beberapa saat kemudian Nurmala berhenti menangis meskipun masih sesenggukan.
"Maafin aku ya Kang, belum bisa kasih akang anak!" kata Nurmala kemudian.
"Eeeh jangan bilang begitu, kamu kan sedang sakit Nur, nggak boleh mikir macam-macam, bisa menimbulkan penyakit lain tambah repot nanti!" Nurmala mengangguk setuju dengan perkataan Aldi. "Ini diminum obatnya, terus kamu istirahat!" Aldi menyiapkan obat dan segelas air di hadapan Nurmala.
"Huek!" Nurmala memuntahkan lagi obatnya.
"Nur, ayo dicoba lagi!"
"Nggak, nggak..aku mau kang, aku muak banget dengan segala jenis obat!"
"Baiklah Nur, aku tidak akan memaksamu, tapi habiskan makanan ini agar kamu segera pulih!" Nurmala akhirnya menuruti ucapan suaminya, pelan-pelan dia sendok makanan di hadapannya. Meski tak ada rasa Nurmala bisa menghabiskan isi piringnya.
"Assalamualaikum!" Nihaya datang membawa Rantang makanan untuk Aldi. "Suamimu sudah berangkat kerja?" tanya Aldi.
__ADS_1
"Sudah Al, ada apa?"
"Nggak ada, aku pingin mengajaknya ke suatu tempat" Sambil membuka rantang mereka berbincang, Nurmala sudah bisa tertawa ketika Nihaya bercerita hal-hal yang menyenangkan.