Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Penyesalan


__ADS_3

Aldi meminta izin Rudi meminjam istrinya untuk menemani Nurmala dua hari selama dirinya pernah ke kampung halaman.


Aldi sudah membelikan tiga cincin untuk Emaknya, sebagai pengganti yang pernah dia bawa pergi tanpa pamit.


Hati Aldi berdesir bahagia menantikan saat ini sejak beberapa tahun lalu. Dia pulang dengan sebuah kesuksesan dan kemandirian. Dia sangat berharap ibu dan bapaknya bisa berbangga pada dirinya.


Aldi memilih Bus malam, Rudi mengantarkan Aldi hingga terminal. Setelah melewati perjalanan selama 15 jam teratuk-antuk diatas bus, akhirnya Aldi sampai ke kotanya.


Matahari semakin bergeser ke arah barat saat bus memasuki gerbang kota Kediri. Bus itu berhenti, Aldi segera turun mencari tukang ojek menuju kampung halamannya. Sepanjang jalan dia merasa terkagum dan sedikit bingung, karena banyak bangunan baru berdiri di beberapa tempat yang dulunya berupa tanah perkebunan. Tapi dia tidak pernah lupa dengan jalan ke rumahnya.


Tukang ojek berhenti di sebuah rumah tua dengan jendela dan pintu bercat hijau. Dindingnya yang terlihat kusam membuat Aldi tak bisa melupakan kalau dia lah yang mengecat rumah itu, dan belum berubah. Rumah itu tampak sepi, pintunya tertutup rapat. Dulu kedua orang tua dan dua adiknya yang tinggal di sini.


"Assalamualaikum!" sapa Aldi, tapi tak ada yang menjawab, Aldi kembali mengulangi ucapannya sebanyak tiga kali, pintu itupun terbuka perlahan.


"Waalikum salam!" seorang gadis membuka pintu, wajahnya terpaku memandang sosok pria di hadapannya.


"Benarkah ini Mas Aldiansyah kakakku??" Lila tak percaya dengan pandangan matanya sendiri, antara mimpi dan kenyataan yang mengejutkan.


"Benar Lila, ini Aldi Mas Kamu!" Aldi meyakinkan adiknya. Spontan Lila menubruk kakaknya di depan pintu, sambil menangis berteriak haru.


"Mas kemana saja? Emak sering menangis memikirkan Mas Aldi!!" kata Lila diantara isak tangisnya.


"Siapa tamunya Lila?" seorang lelaki belum terlalu tertatih berjalan memakai tongkat keluar dari kamar karena mendengar tangis anak gadisnya. Lila menarik tangan Aldi masuk mendekati ayahnya yang berdiri di dalam rumah.


Lelaki tua itu tampak mengernyitkan dahi, mengingat raut wajah yang tidak asing di benaknya. Aldi berjongkok sambil mencium tangannya.

__ADS_1


"Pak, ini Saya Aldi Pak!" pandangan mata lelaki tua itu menerawang, ada rasa sakit yang ingin dia lupakan. Dia tepis tangan Aldi, kemudian melangkah pergi dengan kaki sebelahnya yang terseret tanpa peduli anaknya yang masih bersimpuh di lantai. Ayah kembali masuk dalam kamar. Aldi hanya memandang getir sambil berharap ayahnya akan memaafkan dirinya.


"Dimana Emak Lila?" Aldi mencari ibunya, dia ingin meminta maaf dan mengembalikan cincin yang telah dia bawa tanpa izin. Lila terdiam mendengar pertanyaan kakaknya.


"Lila, dimana Emak??" Aldi tak sabar


"Emak sudah meninggal enam bulan lalu Mas!" Lila menahan sesak dadanya. Aldi yang sebelumnya sudah berdiri, kini kembali terduduk. Kakinya seperti tak bertulang, hatinya hampa. Ada sebuah rasa sakit dan sesal yang tak bisa dia gambarkan dengan kata-kata.


"Emak sudah tiada? benarkah itu Lila??!" Ucap Aldi lirih seperti tak percaya dengan kata-kata adiknya. Lila membenarkan pertanyaan kakaknya.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun, mengapa Emak tidak menunggu kedatanganku Lila? Aku sedang mengumpulkan cincin untuknya!, Hiks, hiks, hiks " Aldi terisak meremas dan mengepalkan jari jemarinya.


"Emak selalu menunggumu Mas, tapi beliau sudah tidak tahan dengan rindu dan sakitnya!" ucap Lila sambil menghapus air mata yang tak henti mengalir. Aldi membisu mengingat sebuah kenyataan bahwa dirinya lah yang salah, lama tak pulang juga tidak memberi kabar kalau dia baik-baik saja.


"Mengapa kamu tidak mengabari aku Lila?" ucap Aldi penuh kata sesal.


"Huk..huk..huk, Lila! Lila!" suara Ayah terdengar manggil dari dalam kamar, Lila bergegas memenuhi panggilannya. Aldi terpaku memandangi tiga cincin berjajar diatas meja. Dia bingung, bayangan senyum ibu sambil menjewer telinga yang ingin kembali dia rasakan kini menjadi sebuah kehampaan.


"Hik,hiks,hiks...Maaak, maafkan anakmu ini!" Aldi terisak pedih mengingat cinta ibunya. Tubuhnya berguncang menahan rasa sedih teramat dalam.


"Huk..huk..huk!" suara batuk ayah kembali terdengar, kini beliau berjalan keluar menuju ruang tamu. Dengan bimbingan Lila Pak Sardi duduk di depan Aldi yang masih terisak.


Beliau terus memandangi putranya tanpa sepatah kata. Cincin-cincin itu masih terjajar di meja. Aldi menekuk muka sambil mendekap tas rangsel miliknya.


"Apakah Kamu sudah menikah?" tanya Pak Sardi setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


"Sampun Pak, setahun lalu"


Braakkk!!


Pak Sardi menggebrak meja yang ada di depannya. Aldi dan Lila terperanjat.


"Begitukah caramu menghargai orang tuamu sendiri Al? Restu dan doanya saja tidak kau butuhkan?!" Suara Pak Sardi bergetar penuh emosi.


"Tidak ada maksud begitu begitu Pak, Aldi tidak ingin menjadi beban, hanya itu saja, kondisi Saya waktu itu sangat rumit Pak" papar Aldi kepada Pak Sardi.


"Hemmmh, kamu meremehkan orang tuamu!" Pak Sardi mendesah kesal. Aldi tak ingin lagi menyanggah ucapan ayahnya. Dia hanya terpaku mendengarkan cerita Pak Sardi tentang istrinya. Satu tahun setelah hilangnya Aldi dari rumah, Mak Wasti sudah sering sakit, mengeluhkan sesak bagian perut dan dada.


Beliau sempat dirawat di rumah sakit. Tapi sakitnya datang dan pergi. Badannya semakin kurus, terakhir satu bulan terbaring kemudian meninggal dunia.


"Hiks, hiks hiks maafkan Aldi Mak!" Dia kembali terisak. Suasana rumah itu menjadi hening saat adzan Maghrib berkumandang, hanya isakan Aldi dan Lila saja yang kadang terdengar di sela lantunan Adzan dari musholla seberang rumahnya.


"Saya sholat dulu Pak!" pamit Aldi, Pak Sardi mengangguk. Ada sedikit senyum di bibir beliau, karena ternyata Aldi tidak melupakan sholat yang telah diajarkannya. Pak Sardi ikut berdiri, Lila membimbing ayahnya berwudhu kemudian kembali ke kamarnya untuk sholat sambil duduk diatas kasur.


Setelah sholat, mereka kembali berbincang di ruang tengah. Lila menyajikan secangkir teh.


"Sejak kapan Bapak sakit?" tanya Aldi kemudian


"Sejak Emak sakit parah, Bapak juga ikut sakit Mas. Kebun utara sudah terjual untuk pengobatan Emak dan Bapak" papar Lila. Pak Sardi hanya diam mendengarkan sambil memutar tasbih di tangannya.


"Istrimu sekarang dimana?" suara pak Sardi keluar setelah beberapa lama terdiam.

__ADS_1


"Ada Pak, saya titipkan saudara! maaf saya tidak mengajaknya ikut serta!" Pak Sardi kembali terdiam, beliau menebak isi kepala anak sulungnya. Beliau menyadari Aldi tidak ingin mempertemukan istri dan keluarganya dalam kondisi hubungan yang masih keruh.


__ADS_2