Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Menata Hidup Baru


__ADS_3

Aldi dan Nurmala sudah bersiap untuk kembali ke Bandung kembali pada pekerjaannya. Bersama Rudi dan Nihaya mereka menyewa sebuah mobil. Samira juga ikut sibuk menata perabot dapur dalam sebuah kardus.


"Ini kamu bawa Nur, biar tidak usah beli lagi!" kata Samira sambil mengikat kardus dengan tali rafia.


"Nggak usahlah Buk, kami kan cuma berdua" sanggah Nurmala merasa keberatan dengan barang pecah belah dari ibunya.


"Sudahlah, bawa saja! suatu saat pasti kamu butuh!"


"Iya juga sih Buk, tapi saat ini kami masih mengontrak!"


"Sudah, bawa saja, nanti aku yang mengangkatnya!" Aldi memberi solusi perdebatan antara Samira dan Nurmala, akhirnya semua diam.


Mobil carteran sudah datang, Aldi segera mengangkat barang-barang ke dalam bagasi. Nurmala pamit kepada kedua orang tuanya.


"Baik-baik kalian disana, pulang kesini bawakan cucu ya!" kata Samsudin kepada anak dan menantunya. Tapi mendapatkan protes dari Samira.


"Jangan dulu lah Pak, aku nanti cepat dipanggil nenek, nggak enak ah!" kata Samira sambil bersungut, Samsudin hanya tertawa mendengar celoteh istrinya. Aldi tersenyum mendengarnya. Dalam hati dia ingin segera merasakan bagaimana menimang seorang anak.


Lambaian tangan perpisahan tatkala mobil mereka sudah bergerak menjauh dari rumah Samira, ada sesuatu yang hilang yaitu kebersamaan. Tapi apa boleh buat hidup harus terus berjalan ke depan. Aldi dan Nurmala bukan lagi anak-anak yang menyusu pada orang tua, tapi kini mereka berperan sebagai manusia mandiri yang sudah siap menumbuhkan keturunan baru umat manusia.


Mobil berbelok di rumah Nihaya. Mereka belum tampak keluar rumah.


"Assalamualaikum!" seru Aldi di depan pintu yang tampak sepi.


"Kok sepi ya Nur?" kata Aldi kepada Nurmala, tak lama mereka berdiri Nihaya keluar dari ruang belakang dengan pakaian rapi.


"Bapak dan ibuk di kebun belakang" papar Nihaya. Aldi dan Nurmala ingin mendatangi orang tua Nihaya untuk berpamitan, tapi mereka sudah hadir di ruang tamu.


Aldi membantu Rudi mengangkut barang-barang, selanjutnya mereka bersalaman dan masuk dalam mobil dan melanjutkan tujuan ke Bandung.


Dalam perjalanan mereka berdiskusi tempat kontrakan, akhirnya diambil keputusan berdasarkan jarak tempat kerja, kontrakan yang semula ditempati Nurmala dan Nihaya kini menjadi rumah untuk keluarga Rudi, dan otomatis lokasi kontrakan yang satunya untuk pasangan Aldi dan Nurmala.


Mobil mengantarkan mereka ke tempatnya masing-masing. Aldi dibantu Nurmala menurunkan barang-barangnya yang banyak.

__ADS_1


"Banyak sekali barang kita Kang?" keluh Nurmala dengan perabot dapur dari ibunya.


"Nggak apa-apa, tambah enak, kita nggak perlu beli!" kata Aldi sambil mengangkat kardus dan meletakkannya di ruang tamu. Semua barang sudah diturunkan, sopir pun pamit meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


"Uuh, gerah pisan!" Nurmala langsung menuju kamar sambil mengangkat tas pakaian, dia ingin mengganti pakaiannya dengan atribut rumahan, Aldi mengikuti dari belakang.


"Keluar dulu Kang! aku mau ganti baju" pinta Nurmala sambil melepas kerudungnya.


"Nggak ah, aku kan suamimu kok disuruh keluar, ganti saja kan tidak ada masalah! lagian aku sudah melihat saat kamu tidak berpakaian" goda Aldi.


"Iiih, Akaang! kan momennya beda!" Nurmala merasa geli dan malu, membuat Aldi semakin ingin melucuti bajunya.


"Sini, aku bukakan bajunya!" kata Aldi sambil memeluk tubuh Nurmala, dan mengecup lembut bibir istrinya.


"Aku belum mandi Kang, berkeringat!" kata Nurmala sambil menyunggingkan wajahnya dari serbuan mulut Aldi.


"Nggak apa-apa, aku suka bau keringatmu!" Aldi tak bisa menahan diri, dia ingin selalu berdekatan dan menyatukan tubuhnya.


"Kita main di kontrakan ini yuk, untuk pembukaan" bisik Aldi di telinga Nurmala, tangannya sambil merangsang tubuh istrinya. Nurmala tak bisa menolak nikmatnya. Permainan pun berlanjut di ranjang Aldi yang pertama kalinya tubuh Nurmala berbaring di sana.


Satu minggu berlalu setelah Meraka tinggal di kontrakan. Nurmala sering ditinggal sendirian di rumah karena Aldi harus kembali bekerja di tempat Rizal. Kegiatan hanya membereskan pekerjaan rumah membuat Nurmala kesepian. Hanya kadang bermain ke tempat Nihaya.


"Aku ingin bekerja lagi Kang, bosan nganggur terus!" keluh Nurmala kepada suaminya.


"Kamu ingin kerja apa Nur?"


"Nggak tahu Kang, yang penting kerja apa gitu!"


"Aku berencana membeli mesin sendiri, bagaimana menurutmu?"


"Maksudnya Kang Aldi mau menjahit di rumah?" tanya Nurmala.


"Iya, aku akan membeli dua buah mesin, kita taruh di rumah ini, kamu bisa membantuku sekaligus tidak kesepian karena aku berada di sampingmu, bagaimana kamu setuju Nur?" papar Aldi. Nurmala tampak senang dengan rencana suaminya. Rizal pun setuju Aldi membawa bahannya untuk dijahit di rumah.

__ADS_1


Sepanjang siang mereka menyelesaikan target, sore hari Aldi bisa menyetorkan pekerjaannya ke rumah Rizal. Nihaya yang juga merasa sering sendirian di kontrakan ingin bergabung dengan Nurmala. Dengan tabungan yang ada, Aldi membeli sebuah mesin untuk Nihaya.


Aldi mulai membeli bahan sendiri, membuat model sendiri dan mencoba memasarkan ke toko dan outlet penjual tas sekolah. Model tas buatan Aldi cukup laris dan digemari di pasaran lokal kota Bandung.


Satu tahun berlalu, Aldi kembali membeli dua buah mesin dan mengangkat dua orang karyawan. Selain mengerjakan pesanan milik Rizal, Aldi juga mengerjakan bisnisnya sendiri.


Rumah kontrakan menjadi semakin sempit, akhirnya mereka menyewa kontrakan di sebelahnya khusus untuk bekerja.


"Nur, hutangku ke Rizal sudah lunas, berapa sisa uang yang terkumpul Nur, rasanya sudah waktunya aku pulang kampung" kata Aldi suatu malam saat duduk santai bersama istrinya.


"Ada Kang, InsyaAllah cukup untuk membeli 3 cincin untuk emak" Kata Nurmala, pandangan Aldi menerawang, membayangkan ekspresi orang tuanya saat dia pulang.


"Tapi aku belum bisa mengajakmu Nur, aku tidak ingin kamu melihat orang tuaku memarahiku di hadapanmu!"


"Bukankah mereka nanti justru tidak akan marah karena ada aku Kang?" usul Nurmala.


"Aku ingin mereka memarahiku Nur, karena memang aku salah!"


"Haaah, Akang ini aneh, mana ada orang yang ingin menerima kemarahan!"


"Ada Nur, akang ingin dimarahi, marah itu bukti cinta kepada kita, aku ingin melihat bagaimana orang tuaku sangat marah dan kesal karena selain mencuri dan minggat, aku juga hampir tujuh tahun tidak memberi kabar, sungguh aku merasa sangat menyakiti hati mereka"


"Kapan Kang Aldi akan pulang?" tanya Nurmala.


"Mungkin Sabtu besok, saat karyawan libur, nanti aku minta Nihaya untuk menginap di sini" papar Aldi, Nurmala menyetujuinya.


"Nur??" kata Aldi sambil mengelus tangan istrinya.


"Iya Kang?" jawab Nurmala lembut.


"Nihaya sudah hamil, apa kamu tidak ingin hamil juga?" Pertanyaan Aldi membuat Nurmala geli.


"Hehe, sebenarnya ya pingin Kang, tapi bagaimana lagi kalau Tuhan belum menakdirkan aku hamil?" Jawaban Nurmala membuat Aldi tersenyum, dan mengecupi tangan istrinya.

__ADS_1


"Aku sayang kamu Nur! Love you full!" Nurmala tersenyum, dia pun membalas mencium rambut suami yang duduk di sampingnya.


__ADS_2