Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Skandal Samira


__ADS_3

Pagi datang, Aldi mendapati notifikasi panggilan di ponselnya.


"Nurmala?" Aldi tersenyum, ini menandakan Nurmala sudah mau berbicara dengannya.


Tut...Tut ..Tut., Aldi menelepon balik tapi ponsel Nurmala belum dihidupkan. Kemudian dia bergegas mempersiapkan diri untuk bekerja.


"Pagi semua!" Aldi menyapa semua karyawan di tempat konveksi.


"Mbak Nurmala masih sakit ya mas?"


"Iya, tapi sekarang pulang ke Bandung!"


"Pulang sendiri ya?"


"Ayo kerja-kerja!" kata Aldi mengalihkan jawaban dari pertanyaan. Mereka pun menjadi sungkan dan memilih kembali menyelesaikan tugas walaupun dalam hati masih ingin kepo mendapatkan penjelasan.


Nurmala menghidupkan ponselnya.


"Kang Aldi!?"


Dalam hati Nurmala masih gelisah, dan gengsi, dia tidak ingin menelepon balik.


Aldi sengaja mendekatkan ponsel di tempat nya duduk agar bisa mendengar kala berbunyi diantara deru mesin, sesekali Aldi melirik ponselnya, berharap ada panggilan dari Nurmala. Tapi hingga siang Aldi hanya mendapati SMS dari pelanggan yang menagih pesanan mereka saja, dan tak ada pesan dari Nurmala.


"Assalamualaikum Nur, ada apa?" Akhirnya Aldi memutuskan menelepon dan tersambung.


"Nggak ada apa-apa!" jawab Nurmala dingin.


"Bagaimana kabar Bapak dan Emak? semua sehat kan?"


"Semua sehat Kang!"


"Kamu, bagaimana?" tanya Aldi mulai perhatian.


"Aku?" Nurmala mulai ke ge eran. "Ya, sehat!"

__ADS_1


"Nur, kamu cepetan pulang ya! Aku sendirian di sini" kata-kata Aldi membuat Nurmala jengkel. Sebelumnya dia selalu dijemput saat Nurmala pulang ke orangtuanya. Kemarin dia sudah membiarkan Nurmala pergi, dan sekarang minta istrinya pulang sendiri.


"Nggak! aku lebih betah di sini!" Nurmala langsung menutup teleponnya. Aldi menutup ponselnya dan merasa Nurmala masih marah padanya.


Tok..tok..tok..Samira mengetuk pintu kamar Nurmala. "Iya buk, masuk saja!"


"Eeemm, Nur Ibuk mau belanja, kamu ada uang?" Nurmala sudah paham kebiasaan ibunya, dia keluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dalam dompetnya.


"Anterin Ibuk ya!" pinta Samira.


"Iya buk, tunggu sebentar Nur mau ganti baju!" Samira keluar dari kamar, beberapa lama saat kemudian Nurmala siap mengantar ibunya dengan motor. Mereka bergegas menuju pasar.


"Nur, ini rumah tabib terkenal!" kata Samira saat melewati sebuah rumah yang ramai dengan banyak orang. "Dia, terkenal manjur, kita nanti mampir ke sini ya!"


"Untuk apa buk? perasaan dulu tidak ada!"


"Baru tiga bulan di sini, pindahan dari Kalimantan. Banyak orang yang balik lagi ke sini karena cocok Nur, mungkin saja kamu bisa hamil lantaran tabib ini!"


"Emmh, ya dah!" Nurmala pasrah dengan permintaan ibunya, walaupun dalam hatinya tidak yakin. Selesai berbelanja Nurmala berhenti di rumah tabib.


"Mengambil antrian dulu Mbak!" kata bagian pendaftaran.


"Sabar Nur, kamu duduk saja di situ!" Samira menunjuk kursi kosong. Nurmala menuruti perintah ibunya. Samira mengurus semuanya.


Setelah Satu jam menunggu akhirnya nama Nurmala terpanggil, Samira langsung berdiri.


"Biar aku yang masuk dulu Nur, tunggu di sini!"


"Bagaimana ibu, apa yang anda keluhkan?" Tanya laki-laki setengah baya berjenggot itu.


"Begini Pak, saya mau minta tolong" Samira menceritakan masalah Nurmala yang tak kunjung memiliki anak, dan terancam akan diceraikan. "Tolong, katakan pada anak saya kalau dia itu sedang hamil!" kata Samira sambil menyelipkan amplop di tangan tabib itu.


"Bagaimana jika suatu hari ketahuan Bu?!" kata tabib.


"Itu urusan saya Pak, yang penting buat anak saya bahagia dulu!" tabib itu menggenggam amplop yang Samira berikan kemudian menjawab. "Baiklah, suruh dia masuk!"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Nurmala masuk.


Tabib itu hanya memeriksa urat tangan Nurmala. "Anda sedang hamil Mbak!"


"Hamil?" Nurmala terkejut dan heran.


"Ya, saya bisa merasakan dari tangan anda bahwa ada makhluk kecil yang hidup di rahim anda. Jaga dia baik-baik"


Nurmala bingung tapi juga gembira mendengar kata-kata tabib itu.


"Minumlah susu untuk ibu hamil, agar bayinya bisa tumbuh dengan sempurna!"


"Oh, baik Pak terima kasih banyak atas kabar gembira ini, saya akan langsung tes setelah sampai rumah nanti!"


"Jangan! Jangan di test karena dia tidak akan bisa kelihatan, Jaga saja seperti yang saya katakan tadi!"


"Oo, begitu!?"


Kemudian Nurmala keluar ruangan tabib dengan senyuman yang mengembang.


"Tidak usah bilang-bilang ke bapakmu Nur!"


"Kenapa buk?"


"Ini rahasia, kalau bapakmu ikut campur malah jadi ribet!"


"Rahasia? apanya yang rahasia buk?"


"Wes..wes..sudah! nurut saja kata ibuk!":


Nurmala terdiam, dia tidak mengerti mengapa ibunya menyebut kehamilannya sebagai sebuah rahasia. Sesampainya di rumah, Samira menelepon Aldi kalau besok pagi dia akan mengantarkan Nurmala pulang.


"Anakmu kan masih betah di sini, kenapa cepat-cepat diantarkan pulang, biasanya Aldi yang jemput kemari kan?" kata Samsudin.


"Kalau Nurmala kelamaan di sini tidak baik untuk pernikahan Pak, Aldi bisa-bisa mencari perempuan lain!" Samira emosional.

__ADS_1


Samsudin tak ingin membantah ucapan istrinya, dia memilih memanggul cangkul dan pergi berkebun.


Keesokan paginya Nurmala dan Samira bersiap, mobil carteran sudah menunggu di depan. "Nur pulang dulu Pak" Nurmala bersalaman, kemudian masuk ke mobil bersama ibunya.


__ADS_2