
Sore hari saat selesai dengan pekerjaannya, Aldi dan Nurmala duduk santai menikmati waktu senggang. Tapi Nurmala masih sangat menikmati komunikasi, main game. Aldi merasa terabaikan karena Nurmala lebih asik dengan ponselnya. "Nur, aku disini! ingin bicara denganmu" kata Aldi saat Nurmala terus saja menatap layar.
"Iya Kang, bicara saja!" kata Nurmala tanpa memandang wajah Aldi.
"Nur, aku ingin bicara, bukan hanya ingin didengarkan!" Aldi kesal dengan sikap Nurmala yang masih asik dengan mainannya. Mendengar kalimat Aldi ketus, Nurmala meletakkan ponselnya dan menatap wajah Aldi yang terlihat masam.
"Iya Kang maaf, bicaralah!"
"Begitu dong kalau ada suami jangan dicuekin, entar diembat orang lain baru tahu rasa!"
"Iih kok gitu sih, tapi kalau sampai Akang diembat atau ngikut orang lain, aku nggak mau pusing, aku juga akan cari lagi!" Nurmala cemberut, Aldi menjadi gemes melihatnya.
Aldi merangkul bahu Nurmala.
"Sini sayang, aku kasih kabar gembira, tas baby rancangan kamu mendapatkan pesanan dari tengkulak besar!" papar Aldi
"Oh ya?? berapa Kang?" tanya Nurmala penuh ekspresi kejutan.
"Seratus kodi!"
"Apa?? seratus kodi? banyak banget itu Kang, bahkan ini proyek terbesar yang pernah kita terima!"
"Benar Nur, dia biasa mengirimkan barang-barang konveksi dan tas ke luar daerah Jawa dan Sumatra!"
"Alhamdulillah Kang, tapi sudah ada uang mukanya kan?" tanya Nurmala sambil memikirkan modal dan kepastian pesanannya. Dari uang muka, dia gunakan untuk membantu pengadaan bahan.
"Kemarin sudah ditransfer!" Kata Aldi dengan sinar mata penuh antusiasme.
"Kok bisa tiba-tiba kita dapat pesanan sebanyak ini Kang, bagaimana ceritanya?" Nurmala penasaran.
"Saat Nihaya mengajak Asti dengan menenteng tas kita ke sebuah swalayan, ada seorang ibu yang tertarik dengan tas itu, kemudian Niha memberikan kartu namaku, yang ternyata orang itu adalah developer konveksi dan tas!"
"Waah, ini berkat bantuan Asti dan Niha Kang!" Aldi membenarkan kata-kata Nurmala.
"Kita diberi waktu dua Minggu untuk menyelesaikannya!"
"Waduh, cepet amat! mampukah kita Kang?" Nurmala meragukan kemampuan karyawan yang tidak banyak, untuk menyelesaikan semuanya dalam waktu pendek.
"Kita akan sewa mesin, dan mencari karyawan borongan sementara Nur!" Aldi memberikan rancangan teknisnya. Dia menelepon teman-teman yang bisa dia ajak kerja sama. Nurmala kembali memainkan ponselnya.
__ADS_1
Aldi melirik Nurmala yang senyum-senyum dengan ponsel meskipun di depan TV. Tak ada pikiran negatif yang terlintas dalam hati Aldi, dia kembali meneruskan negosiasinya lewat telepon.
"Alhamdulillah, semua sudah siap!" gumam Aldi yang tak direspon Nurmala.
"Kamu SMS-an dengan siapa sih Nur?" tanya Aldi saat merasa pembicaraannya tidak diperhatikan.
"Teman SMA Kang"
"Laki-laki apa perempuan?" Aldi mulai sedikit emosi.
"Ya banyak Kang, mereka semua sudah punya ponsel seperti aku"
"Hemmmh, hati-hati kamu sudah punya suami!" Aldi menasehati istrinya.
"Iya Kang, aku ngerti!"
"Aku tidur duluan!" Aldi masuk dalam kamarnya, Nurmala masih asik dengan ponselnya, ada sedikit rasa kesal tapi dia berusaha untuk memahami perasaan istrinya yang ingin bergaul dengan teman-temannya.
Waktu subuh tiba, Aldi melihat Nurmala masih tertidur pulas di sampingnya.
"Nur, bangun! sudah subuh!"
Aldi mengecek bahan sambil menulis bahan dan jumlah yang akan dia belanjakan. Dia kembali ke kamar, Nurmala masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
"Hemmmh, belum bangun juga!" gumam Aldi sambil menggelengkan kepala. Dia dekati tubuh istrinya, dia raba keningnya.
"Apakah kamu sakit, sepertinya semua baik-baik saja, tidak panas!' batin Aldi sambil duduk di tepi ranjang. Dia merasa heran, karena biasanya Nurmala yang membangunkan dirinya.
"Nurmala, sayang, bangunlah!" Aldi kembali membangunkan istrinya. Nurmala akhirnya membuka mata dan bergegas ke kamar mandi.
Aldi melirik ponsel Nurmala disamping bantal. Aldi mengambil ponsel, mencoba membukanya saat Nurmala masih di kamar mandi. Tapi dia bingung karena belum terbiasa menggunakannya.
"Awas, nanti aku juga akan membeli yang lebih bagus dari kamu!" gerutu Aldi kepada ponsel di tangannya.
"Bisa buka Kang?" tanya Nurmala di depan pintu. Aldi menggeleng pelan sambil bilang "Enggak!" Nurmala tersenyum tipis.
"Setelah ini aku berangkat cari bahan, buatkan sarapan seadanya ya!" pinta Aldi.
"Nur, kamu dengar tidak sih?!" Aldi meyakinkan ucapannya didengar Nurmala yang memegang ponselnya.
__ADS_1
"Iya Kang, Aku dengar kok!"
"Ya sudah, aku tunggu di ruang sebelah, panggil aku jika sudah siap!" pesan Aldi sambil melangkah meninggalkan Nurmala dalam kamar. Satu jam kemudian Nurmala manggil Aldi. Satu piring nasi goreng dengan telur mata sapi tersaji diatas meja.
"Bersiaplah, setelah ini aku antar ke toko!" kata Aldi kepada Nurmala yang masih berada di tempat cuci piring. Nurmala bergegas menyelesaikan pekerjaannya lalu pergi ke kamar mandi. Aldi melirik Ponsel yang tergeletak diatas meja makan, batinnya masih penasaran ingin membuka isinya, tapi dia tepiskan keinginannya, dia berdiri dan bergegas mengeluarkan motor.
"Ayo Nur, keburu siang!" teriak Aldi di emper rumahnya. Nurmala keluar cepat dari dalam kamar, menyambar ponsel dari atas meja dan menyusul Aldi yang sudah menyalakan motornya.
Aldi menurunkan Nurmala di depan toko, dan langsung menuju toko bahan yang cukup jauh dari rumahnya. Tanpa banyak tanya, Nurmala bergegas membuka bedak dan membersihkan tokonya.
Ting...tong...ting bunyi poliponik ponsel Nurmala terdengar nyaring dari dalam tasnya.
"Waalikum salam, iya Kang Rasya aku sudah membuka toko!"
"Iya Kang, selamat bekerja!" Nurmala menutup ponselnya dan melanjutkan bekerja.
Satu jam kemudian Aldi selesai berbelanja, mampir sebentar ke toko Nurmala.
"Aku langsung pulang Nur, ini aku buahnya!" Aldi meletakkan bungkusan diatas etalase, lalu bergegas pulang mengantarkan bahan tas.
Nurmala membuka bungkusan.
"Apel!" Nurmala tersenyum gembira karena suaminya tahu yang dia butuhkan. Dokter bilang Nurmala harus banyak menkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup jika ingin memiliki bibit yang baik.
Ting..Ting..Tung, ponsel Nurmala kembali berbunyi, "Iya Kang ada apa?" Rasya menanyakan aktifitas Nurmala.
"Lagi makan apel dari Kang Aldi!" jawab Nurmala. Sebentar kemudian pembicaraan mereka berakhir. Nurmala melanjutkan mengupas apel, ada perasaan heran dengan perhatian Rasya, tapi mereka berdua sudah menjadi teman akrab sejak masing-masing bercerita tentang keluarganya.
Sementara itu Aldi sangat sibuk dan bersemangat menyediakan proyek besarnya bersama karyawan dan beberapa orang teman yang dia ajak untuk bekerja sama. Aldi memotong bahan kemudian orang-orang itu yang akan menjahit dan finishing produknya.
Mereka bekerja dari pagi hingga lembur di malam hari. Bahkan pernah Nurmala harus pulang becak, karena Aldi tidak sempat menjemputnya.
Dua Minggu berlalu, akhirnya proyek bisa dia selesaikan sesuai target. Untung besar bisa berada di tangan.
"Kamu ingin membeli rumah apa mobil dulu Nur!" tanya Aldi saat selesai dengan semua pembayaran karyawannya.
"Kapan Kang Aldi akan mengajakku ke Kediri?" pertanyaan Nurmala membuat Aldi tertegun, dia merasa diingatkan akan janji kepada keluarga untuk memperkenalkan Nurmala.
"Oh, jika begitu kita membeli mobil terlebih dahulu!" kata Aldi.
__ADS_1
"Terserah Akang!" jawab Nurmala sedikit tidak setuju dengan gaya Aldi yang selalu ingin terlihat sukses di mata keluarganya.