
Sinar surya merambat lembut di sela jendela rumah Nurmala. Penghuninya sudah mulai beraktivitas. Nurmala sudah bisa duduk di ruang tengah dengan wajah lebih segar.
Pak Sardi dan Lila sudah bersiap untuk balik ke Kediri.
"Bagaimana kondisimu Nduk, sudah sehat?" tanya Pak Sardi saat melihat Nurmala sudah bisa duduk santai. Nurmala tersenyum dan mengatakan dirinya sudah lebih baik.
"Bapak jadi pulang pagi ini?" tanya Aldi yang duduk di samping Nurmala.
"InsyaAllah! Al bapak ingin tahu, apakah kalian tidak ingin mengadopsi anak, mungkin saja bisa sebagai pancingan?" Wajah Pak Sardi terlihat serius. Aldi yang semula santai kini juga memasang konsentrasi terhadap pembicaraan ayahnya.
"Belum terpikirkan Pak, saat ini kami masih berusaha untuk menjalani pengobatan, jadi ya harus bersabar. Apakah Bapak ingin secepatnya punya cucu? Jika begitu, nikahkan saja Lila Pak!" Aldi menggoda adiknya, mencoba memecahkan suasana agar tidak terasa tegang, terutama untuk Nurmala.
"Iiih...Mas kok gitu, aku masih ingin kerja tau!" Adik Aldi yang baru selesai kuliah itu menyeringai geli saat diminta cepat menikah.
"Kan sudah waktunya, menunggu apalagi, si Burhan juga sudah siap meminangmu kok!" Aldi semakin bersemangat melancarkan ejekannya.
"Waduuh kenapa bawa nama Burhan segala sih! dia teman SMP aku Mas, bukan pacar, sok tahu deh!" Aldi tertawa puas melihat ekspresi Lila yang salah tingkah. Semua tertawa termasuk Nurmala.
"Sarapan sudah siap Mbak Nurmala!" kata Mpok Jum dari pintu ruang tengah. Aldi meminta keluarganya untuk berpindah ke ruang makan. "Dimana Pakde Jarno?" tanya Aldi.
"Mungkin tidur lagi!" kata Pak Sardi. Aldi bergegas menyusul ke kamar.
"Pakde, tok..tok...Pakde mari sarapan dulu!" ucap Aldi di depan pintu. Hanya suara dengkuran yang terdengar dari dalam kamar, Aldi mengulang panggilannya sekali lagi, tapi tetap tak ada jawaban, akhirnya dia putuskan untuk membiarkan Pakde Jarno tetap terlelap dan kembali ke ruang makan.
Setelah beberapa lama berbincang, Pak Sardi dan Lila bersiap untuk pulang, Aldi mempersiapkan posisi mobilnya.
"Nduk, Bapak pulang dulu ya, jaga kesehatanmu baik-baik, banyak-banyaklah bersyukur dan berdoa, agar rezekinya bertambah berkah!" pesan Pak Sardi kepada Nurmala.
"Nggeh Pak, mohon doanya!" kata Nurmala sambil bersalaman dan memeluk Lila.
Lambaian tangan Nurmala melepas laju mobil Aldi yang bergerak meninggalkan halaman.
"Al, apakah ada kamu ada niatan untuk poligami? tanya Pak Sardi saat mereka dalam perjalanan.
"Nggak Pak, sama sekali tidak ada!" jawab Aldi tegas.
__ADS_1
"Jangan Mas! Jangan pernah, kasihan Mbak Nurmala, kalau mas Aldi nikah lagi, aku memilih berhenti jadi adikmu Mas!" cletuk Lila dari jok belakang. Aldi tertawa mendengar celoteh adiknya.
"Santai saja Lila, Masmu ini tipe laki-laki setia hanya satu wanita kok, tapi tidak menolak jika Mbak mu yang memintanya!"
"Haaah, sama saja Mas! aku benci poligami!" Lila ketus menolak.
"Poligami halal Lila, dilindungi undang-undang, daripada selingkuh, kumpul kebo, **** bebas?!"
"Pokoknya aku nggak suka, titik!" ucap Lila emosional.
"Hey sudahlah Lila, kok kamu yang sewot!" kata Pak Sardi. Lila terdiam dengan mulut manyun sambil memandang jalanan. Aldi melirik adiknya dari kaca spion.
Bus-bus berjajar mulai tampak dari kejauhan, mobil Aldi berbelok ke pintu masuk, kemudian mengambil posisi aman untuk menurunkan penumpang. Aldi membuka bagasi kemudian membantu ayahnya mengangkat barang ke atas bus.
Tak lama bus yang akan mengantarkan Pak Sardi mulai bergerak, Aldi turun, berdiri menunggu hingga bus itu keluar dari terminal, baru kemudian kembali pulang.
Sementara itu di rumah Nurmala sedang membantu Mpok Jum di dapur, Pakde Jarno tampak baru bangun dari tidurnya.
"Kemana yang lain, kok sepi?" tanyanya
"Bapak sudah pulang Pakde, tadi sudah pamit, tapi Pakde masih tidur" ucap Nurmala. Pakde Jarno tak menjawab. Bukannya ke kamar mandi laki-laki tua itu justru menyalakan cerutunya sambil duduk di teras samping.
"Jika Kamu ingin mengambil anak pancingan, aku punya cucu di Jakarta" kata Pakde Jarno sambil mengambil nasi dari dalam bakul. Nurmala menyimak sambil duduk menemani.
"Maksudnya Pakde?"
"Nanti aku bisa bicara pada mereka, kalau kamu ingin mengasuhnya untuk pancingan saja" Pakde Jarno menambahkan ucapannya sambil bersiap menyendok sarapan.
"Oh begitu, silahkan Pakde menikmati makanannya, saya bicarakan dengan Kang Aldi dulu, tentunya ini harus ada kesiapan mental dan fisik kami berdua Pakde!" Pakde Jarno terdiam mendengar penjelasan Nurmala. Beliau menikmati makanannya, Nurmala memilih menyingkir duduk di depan TV.
"Mampukah aku mengasuh anak orang lain?" tanya batin Nurmala. Dia berfikir, mendidik anak orang lain lebih sulit daripada anak sendiri.
"Tapi kapan aku punya anak sendiri?" tanyanya dalam diri.
Kik... Kik, bunyi lock mobil Aldi terdengar di halaman.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" sapa Aldi saat masuk rumahnya. Nurmala menjawab salam dengan senyuman.
"Alhamdulillah Akang sudah pulang!" ucap Nurmala sumringah.
"Dimana Pakde?" tanya Aldi.
"Tuh!" tunjuk Nurmala sambil memberi isyarat tangan di mulutnya. Aldi mengangguk sambil mengangkat alisnya. Aldi duduk di samping Nurmala. Tak lama kemudian Pakde Jarno menyalakan cerutunya di ruang tamu.
Aldi duduk menemani untuk berbincang.
"Besok ikut aku ke Jakarta!" kata Pakde Jarno.
"Ehem, ya memang saya akan mengantarkan Pakde ke Jakarta bukan?"
"Ajak istrimu untuk melihat anak pancingan!"
"Anak pancingan?" Aldi bingung.
"Apakah Nurmala belum bercerita kepadamu?"
"Belum sempat Pakde, Aldi kan baru datang!" Pakde Jarno terdiam, hisapan rokoknya menjadi semakin dalam, kemudian bak cerobong kereta zaman Belanda, asapnya mengepul memenuhi ruangan.
"Bicaralah, pikirkan jika tidak sekarang kapan lagi kamu akan terus menunggu?" Aldi berdiri, meminta diri untuk berdiskusi terlebih dahulu. Aldi membiarkan Pakde Jarno duduk sendirian.
"Nur, kita harus bicara serius!" Aldi menggandeng istrinya masuk kamar.
"Apa benar Pakde memintamu mengambil anak pancingan?" tanya Aldi setelah mereka duduk berdua.
"Iya Kang, apakah kita bisa, kalau anaknya bandel aku nggak bisa tinggal diam Kang, tanganku pasti geregetan. Apa orang tuanya bisa terima kalau anaknya aku cubit?" ucap Nurmala.
"Emmm, aku juga punya kehawatiran yang sama jika kita mengambil anak orang Nur, tapi kata orang anak pancingan itu bisa membuahkan sifat baik kita bisa lebih bijak menjadi orang tua. Sifat keibuan bisa lebih muncul dalam dirimu. Jika kita ikhlas, kata ustad itu bisa menjadi doa" papar Aldi.
Nurmala tertegun mendengar penjelasan suaminya. "Bagaimana?" tanya Aldi.
"Kita lihat anaknya dulu Kang!" jawab Nurmala setelah beberapa saat berfikir. Aldi mengangguk dengan senyumannya.
__ADS_1
Aldi keluar kamar menemui Pakde Jarno yang masih menyambung rokoknya.
"Besok Kami ikut ke Jakarta Pakde" ucap Aldi.