Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Enam bulan berlalu, hubungan mereka semakin akrab, Rudi tetap setia menjadi tukang ojek Nihaya, Aldi seringkali mengatur sif agar bisa selalu bersama dengan Nurmala.


Awal tahun saat ganti kalender, Aldi sudah melingkari sebuah tanggal dengan spidol besar, tanggal ulang tahun Nurmala, dia ingin memberikan hadiah yang menurut Aldi istimewa.


"Nurmala, nanti malam aku jemput ya, kita makan di luar!" kata Aldi suatu sore saat pulang kantor di sif siang. Nurmala tersenyum dan mengangguk, dia faham jika Aldi tidak akan melewatkan hari ulang tahunnya.


Setelah sholat Magrib Nurmala bersiap.


"Mau keluar sama Mas Aldi ya Nur?" tanya Nihaya saat melihat Nurmala dandan rapi dengan sedikit makeup.


"Iya, Pak Aldi mengajakku makan di luar!" jawab Nurmala sambil merapikan rambutnya yang tergerai.


Tak lama kemudian suara salam Aldi terdengar dari luar kontrakan. Nihaya membuka pintu, ternyata di belakang Aldi juga ada Rudi.


"Kok kamu belum Nihaya?" kata Rudi karena melihat Nihaya yang masih memakai babydol.


"Lha emangnya aku diajak?" Nihaya heran, karena tidak ada informasi sebelumnya kalau mereka akan keluar.


"Hahaa, aku juga nggak diajak tapi ikut saja!, bersiaplah Niha kita juga akan berkencan!" Rudi slengean.


"Idiih, kencan? emangnya kita sepasang kekasih?"


"Yaaa, anggap saja begitu!" sahut Rudi yang dibalas dengan mulut manyun Nihaya. Aldi hanya tersenyum memandang sepupu Nurmala dan teman kostnya itu saling olok, tapi sebenarnya sama-sama suka.


Saat bercakap, Nurmala keluar dari kamarnya, dia tampak cantik dan anggun, membuat kepala Aldi semakin fokus padanya.


"Sudah siap Nur?" tanya Aldi, Nurmala mengangguk dengan senyuman.


"Cepat Niha ganti bajumu!, gak usah lama-lama kamu sudah cantik kok!" pinta Rudi, yang disambut dengan bibir monyong Nihaya.


"Aku pergi dulu Rud, tunggu Nihaya sampai pagi!" kata Aldi sambil keluar kontrakan. Aldi memacu motornya menuju suatu tempat.


"Nihaya, ayo aku sudah menunggumu!" seru Rudi dari luar kamar. Sesaat kemudian Nihaya keluar dengan dress sederhana bawah lutut, tapi tampak manis. Rudi berdiri.


"Wow, bidadari turun dari surga,!" gombalan Rudi keluar, Nihaya melotot.


Ekspresi Nihaya semakin membuat Rudi menyukainya, dia mendekat, Nihaya mundur dari posisi berdirinya, hingga berhenti karena terbentur tembok kontrakan. Tangan Rudi mengapit kepala Nihaya di tembok, jantungnya berdetak keras.


"Niha, katakan padaku, maukah kau menjadi kekasihku, jika tidak, aku akan menciummu!" kata Rudi lirih di depan wajah Nihaya.

__ADS_1


"Iiih, singkirkan wajahmu, mulutmu bau!" kata Nihaya sambil mendorong tubuh Rudi menjauh dari zona prifesinya. Rudi clingukan sambil mengetes bau mulutnya.


"Jadi keluar tidak?, kalau tidak jadi aku mau tidur!" bentak Nihaya sambil keluar pintu kontrakan. Rudi ikut keluar tanpa kata.


Sementara itu Nurmala dan Aldi sudah duduk di sebuah rumah makan, dia mengambil sudut yang sepi dari pengunjung agar bisa lebih intensif dan efektif.. Beberapa menu makanan dan minuman sudah tersaji di meja mereka.


"Makan yuk Nur!" ajak Aldi.


"Ayo Pak!"


"Nur, kamu bisa tidak, tidak memanggilku dengan sebutan Pak?"


"Lalu?"


"Panggil Akang, Abang, Mas atau Aa saja biar aku nggak terkesan terlalu tua untukmu!" pinta Aldi, Nurmala tersenyum sambil menyeruput teh hangat dari gelasnya.


"Baiklah Kang Aldi!"


"Naah, begitu aku lebih suka!" sahut Aldi gembira. Sejenak tak kata yang keluar dari mulut mereka, lahapnya makanan yang mereka pesan membuatnya terkunci.


"Selamat ulang tahun Nurmala!" sebuah kotak kecil keluar dari saku celana Aldi. Nurmala membuknya, Kalung emas 10 gram.


"Iyalah, buat siapa lagi?!, sini aku pasangkan!" Aldi berdiri di belakang Nurmala kemudian mengaitkan kalung itu di leher Nurmala.


Aldi kembali duduk.


"Kamu semakin cantik dengan kalung itu Nur!" Rayuan Aldi membuat Nurmala tersipu malu sambil memegang bandulnya yang berbentuk huruf N.


"Ada satu lagi untukmu Nur!" Aldi mengeluarkan sebuah kotak lebih besar. Nurmala menerimanya sambil bertanya.


"Apa isinya Kang?"


"Ini baju muslimah Nur, jika kamu ingin memakainya aku akan membelikanmu lagi, tapi jika tidak mau, ya kamu simpan saja buat kenangan!" kata Aldi sambil menatap wajah Nurmala. Dia ingin orang yang dicintainya itu menutup aurat seperti anjuran agama Islam, tapi Aldi tidak ingin memaksa Nurmala.


"Iya, terima kasih, sebenarnya itu juga perintah Ayahku Kang Aldi, tapi aku merasa belum siap, aku pikirkan lagi ya?!" kata Nurmala, dijawab senyum dan anggukkan dari Aldi.


"Pulang yuk Kang!" Nurmala melihat jam dinding restoran sudah menunjukkan pukul sembilan. Aldi mengikuti keinginan Nurmala, dia berdiri menuju kasir kemudian mengantar Nurmala pulang ke kontrakan.


Sampai di kontrakan suasana masih sepi, belum ada tanda Nihaya sudah pulang.

__ADS_1


"Waduuh, aku tadi lupa bawa kunci, Nihaya yang keluar terakhir!" keluh Nurmala.


"Ya sudah kita tunggu saja!" kata Aldi. cukup lama mereka menunggu, akhirnya Nihaya dan Rudi muncul.


"Lama sekali Niha?, darimana sih!" gerutu Nurmala.


"Nonton bioskop, tanggung mau pulang, filmnya belum kelar, lalu makan bakso!" kata Nihaya santai. Nurmala cemberut tapi kemudian bisa menerima.


"Kami pulang dulu ya!" Aldi pamit.


"Dada sayang?!" ucap Rudi.


"Sayang! sayang!" Nihaya mencibir, Rudi tertawa sambil melangkah pergi.


Selepas Aldi dan Rudi pergi, Nurmala dan Nihaya masih duduk berbincang. Bercerita tentang apa yang telah mereka lalui bersama dengan Aldi ataupun Rudi.


"Aku diberi hadiah busana muslimah juga Niha, tapi Kang Aldi tidak memaksaku untuk memakainya." kata Nurmala.


"Cie panggil Kang ya sekarang?! berarti sebenarnya dia menyuruhmu pakai jilbab Nur, Aldi memintamu berhijrah dalam berpakaian!, kamu siap tidak?" papar Nihaya.


"Ya, aku pikir-pikir dulu!"


"Jika itu untuk menjadi lebih baik mengapa tidak?, aku juga punya pemikiran ingin merubah penampilan Nur!"


Mereka terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Nurmala ragu untuk memakai jilbab, dia masih bertanya kesiapan dirinya sendiri untuk memakai pakaian yang lebih tertutup.


"Niha, kira-kira bagaimana ekspresi ayahku jika melihat aku sekarang memakai jilbab?" ucap Nurmala.


"Tentu orang tuamu akan sangat bahagia Nur!"


"Baiklah, demi kebahagiaan orang tuaku dan niat untuk menjadi lebih baik, aku akan memakai busana muslimah!, kamu sendiri bagaimana Niha?"


"Belum, mungkin belum waktu dekat ini, tapi aku ada niat untuk berubah"


Mereka menghargai pilihan masing-masing.


Malam itu mereka beristirahat dengan mimpi indahnya. Keesokan paginya mereka berangkat kerja, Aldi menjemput Nurmala.


"Nurmala??, kamu cantik sekali dengan jilbab itu Nur?" Aldi seperti mendapatkan sebuah surprise besar dari Nurmala. Aldi semakin yakin Nurmala adalah calon istri idealnya.

__ADS_1


Nurmala naik ke boncengan Aldi, Rudi mengiringi di belakang bersama Nihaya. Nurmala masuk ke ruang produksi, Wajah takjub terlihat di wajah karyawan PT KLAMBIKU karena kini Nurmala memakai jilbab, padahal Sabtu kemarin masih berpakaian biasa.


__ADS_2