Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Hamil?


__ADS_3

Tengah hari Samira dan Nurmala tiba di rumah. Aldi saat itu sedang berada di ruang konveksi bergegas keluar menyambut koper Nurmala.


"Alhamdulillah sudah sampai!" Aldi bersalaman dengan Samira dan Nurmala. Mata Samira langsung tertuju pada jenggot dan jambang Aldi yang tak terurus.


"Capek banget!" keluh Nurmala sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur ruang tengah.


Samira masih berdiri sambil memandangi langkah Aldi yang masuk dalam kamar.


"Urus suamimu Nur! Jenggot panjang bikin dia tambah tua!"


"Sudah buk, tapi aku malah diceramahi!"


"Ini Sunnah buk!" cletuk Aldi keluar dari kamar.


"Sunnah, apa an? wajahmu menjadi semakin semrawut dengan banyak rambut!" Aldi hanya terkekeh mendengar ucapan mertuanya sambil melangkah keluar ruangan tempat Samira dan Nurmala duduk.


"Tu kan buk, penampilan kang Aldi saja sudah berubah, begitu juga hatinya!" ucap Nurmala lirih agar tak terdengar Aldi. Samira hanya terdiam, matanya tak bisa lepas dari gerak-gerik Aldi yang membawa barang masuk dalam ruangan.


"Siapa yang minum susu ini?" Aldi menenteng kantong kresek yang berisi dua kotak besar untuk ibu hamil.


"Nurmala Al, istrimu!" jawab Samira.


"Benarkah?" Aldi mendekati Nurmala yang kini duduk di pinggir ranjang.


"Kata tabib begitu Kang?"


"Oh..istriku, apakah ini nyata?" Aldi menggenggam pundak Nurmala sambil menggoyangkannya. Nurmala mengangguk, Samira tersenyum datar melihat adegan di depan matanya.


"Jaga istrimu baik-baik Istrimu baik-baik Al!"


"Tentu saja buk, dari dulu aku sudah menjaganya dengan baik, lihatlah Nurmala! lebih gemuk dan sehat bukan?" Kata Aldi sambil meraba punggung Nurmala.


"Iiih, Kang Aldi!" Nurmala mencubit pinggang suaminya, pasangan itu tampak bahagia.

__ADS_1


"Seandainya ini bukan sebuah kepalsuan! Tuhan, tolonglah mereka berdua untuk memiliki keturunan!" batin Samira


Malam itu, Samira menginap di rumah Nurmala. Hatinya gembira melihat kebahagiaan anak dan menantunya, tapi juga hawatir tak terkira jika skandalnya terungkap.


Keesokan paginya, Samira pamit pulang.


"Kok buru-buru sekali buk, aku pikir akan menginap seminggu di sini"


"Kasihan Bapakmu di rumah sendirian Al" Aldi memahami sifat mertua laki-lakinya itu, bagaimana pun cerewet nya Samira, Samsudin sangat mencintai istrinya.


Aldi membawa barang-barang Samira menuju mobil kemudian bergegas mengantarkan mertuanya ke terminal.


****


"Kamu tidak merasakan mual-mual pingin muntah ya Nur!" tanya Aldi saat mereka duduk di ruang makan dan Nurmala mengaduk susu Bumilnya.


"Nggak tu Kang, biasa saja! Katanya memang ada yang begini, biasa saja seperti orang yang tidak sedang hamil, justru nyaman begini!"


Tiga bulan lamanya, Nurmala tak pernah melupakan untuk meminum susu. Aldi juga semakin menyayangi istrinya, Aldi lebih memilih pulang daripada mengikuti perkumpulan. Dan setiap malam dia membelikan makanan-makanan kesukaan Nurmala.


Lima bulan berlalu, tubuh Nurmala tampak lebih gemuk dan buncit.


"Ayo kita pergi ke dokter Nur, kita lihat kondisi anak kita!"


"Kata tabib nggak perlu ke dokter Kang, nanti kalau sudah waktunya, dia akan lahir!"


"Aku penasaran Nur, ingin sekali melihatnya bergerak-gerak di perutmu!"


"Sabar Kang, kita harus patuhi pesan tabib!"


Aldi menyerah, betapa pun inginnya dia melihat calon bayinya.


"Kamu beneran sedang hamil Nur?" tanya Nihaya saat berkunjung ke rumah Nurmala. Nihaya meraba perut Nurmala.

__ADS_1


"Sepertinya perutmu tidak ada isinya, ini mah lemak Nur!"


Nihaya sangat paham bagaimana kondisi perut wanita hamil, karena tidak hanya sekali dirinya mengalami itu.


"Ah! kamu saja yang tidak mengerti Niha, tabib bilang aku hamil kok!"


"Lebih baik kamu periksa ke dokter Nur, jangan hanya percaya tabib!" Nurmala terdiam mendengar ucapan Nihaya, tapi dia berfikir tak ingin mengingkari pesan tabib.


"Ya, tapi kapan-kapan saja ah!" jawab Nurmala kemudian.


Tujuh bulan, perut Nurmala masih tak tampak berisi bayi, tapi badannya semakin besar padat berisi. "Kamu sudah merasakan gerakan bayi itu Nur?"


"Iya kadang-kadang Kang, tapi anak kita ini pendiam Kang, kagak banyak tingkah!"


"Benarkah? Anak baik!" kata Aldi sambil meraba perut Nurmala.


Sembilan bulan,


"Kamu ini tidak hamil Nur, aku tahu betul bagaimana kondisi orang hamil!"kata Nihaya.


"Ayo ikut Aku!" Nihaya menarik tangan Nurmala keluar dari rumahnya.


"Mau kemana Niha!" Nihaya tak menjawab, terus berjalan menggandeng tangan Nurmala, dan berhenti di rumah tetangga.


"Nih, mpok Lela sedang hamil 9 bulan, lihat tubuhnya, lihat perutnya! Sama tidak dengan perut kamu?" kata Nihaya gemas dengan kebodohan sepupunya.


Nurmala meraba perutnya, dia melihat kondisi perut Mpok Lela maju ke depan, sedangkan perutnya sendiri tidak. "Beda ya? Memang kata tabib kehamilanku berbeda Niha"


"Nur, buka pikiranmu jangan percaya tabib saja, ini zaman sudah canggih!"


"Memangnya ada apa dengan mbak Nurmala?" tanya Mpok Lela.


"Ehe..maaf Mpok mengganggu disini, permisi Mpok!" Nihaya menggandeng Nurmala kembali ke rumahnya.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana Niha, kata tabib ini sudah mendekati kelahiran!"


"Tabib lagi, tabib lagi! ganti dokter Nur" ucap Nihaya jengkel dan gemes. Nurmala menggaruk kepalanya.


__ADS_2