Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Masa Lalu Aldi (2)


__ADS_3

Kami terus berjalan sambil bercerita. Ternyata Anisa tidak tertutup seperti yang selama ini aku pikirkan.


"Aku tadi tidak melihat ayahmu Anisa?" Tanyaku dengan rasa penasaran akan sosok ayah Anisa.


"Lagi keluar, pulangnya nanti larut malam!"


"Ayahmu kerja apa Anisa, kok sampai larut malam?"


"Hemmmh entahlah Al, ibuku sepertinya salah memilih suami, setiap pulang malam, ayah dalam kondisi mabuk!" Anisa mendesah mengeluarkan beban berat di dadanya.


Terang nyala lampu sudah terlihat, ramai suara pengunjung beradu dengan musik permainan membuat suasana alun-alun sangat meriah.


"Kamu mau naik apa Anisa?" tanyaku bersemangat.


"Naik kuda-kudaan, setelah itu naik tas yang berputar itu Al!" Anisa terlihat gembira dsn bersemangat. Berbekal uang celengan ayam yang aku pecahkan, aku mengikuti semua keinginan Anisa, aku senang melihat dia bahagia.


Selesai dengan dua permainan itu, Kami jalan-jalan berkeliling alun-alun sambil memakan permen kapas, mampir ke kedai es krim, "Al foto yuk!" pinta Anisa saat melihat foto box, Kami pun berpose berdua dengan riang gembira. Foto itu aku pasang di pintu almari, seakan tak pernah ingin melepaskannya. Aku bisa melihat senyum bahagia Anisa setiap kali aku membukanya.


Senin pagi aku masih jemput Anisa.


"Besok tidak usah jemput aku Al!" ucap Anisa saat pulang sekolah.


"Mengapa, kita kan sudah biasa berangkat berdua?" aku menolak larangan Anisa.


"Mas Sony akan mengantarku!" jawab Anisa. Sony adalah kakak tirinya, dia baru saja memiliki motor, kabarnya ayah Sony menang besar di meja judi.


Usia Sony sebaya denganku, tapi sejak setahun lalu dia sudah tak lagi bersekolah, bekerja di proyek jika ada yang mengajak, selebihnya nongkrong di perempatan.


Aku tak bisa berdebat lagi ketika Anisa menyebut akan naik motor, jelas aku kalah kelas. Motor lebih cepat, juga nyaman. Tidak seperti sepedaku, boncengannya terbuat dari besi, keras dan tentu menyakiti pantat Anisa saat rodanya menerjang portal gang.


Naik motor Sony tidak membuat Anisa datang lebih awal dibandingkan saat bersamaku, justru dia sering terlambat, datang di detik terakhir pintu gerbang sudah akan dikunci.


"Bukannya naik motor bisa lebih cepat, tapi mengapa kamu sering terlambat Anisa?" tanyaku saat jam istirahat.


"Motor tak bisa jalan sendiri Al, kalau pengendaranya tidur nggak bangun-bangun ya sama saja!" keluh Anisa.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku jemput lagi saja?" pintaku.


"Nggak usah Al, lebih baik aku menurut daripada kena masalah!" ucap Anisa. Dari kata-katanya aku bisa menangkap tentang keluarganya yang tidak harmonis.


Sejak kakaknya memiliki motor, Anisa lebih sering bersama Sony, hanya sesekali saja pergi bersamaku ke alun-alun kota kabupaten.


Enam bulan kemudian kami naik kelas 3 SMA.


Kami berada di kelas terpisah, aku Bio 1 dan Anisa Bio 2, tapi kami masih bisa jalan bareng saat istirahat.


Dua hari aku tidak bertemu dengan Anisa, kata teman dia sedang sakit. Sepulang sekolah aku mampir ke rumahnya.


Tok..tok.."Assalamualaikum, Anisa?!" sepi, tak ada satupun orang yang menjawab salamku.


Tok..tok..tok "Assalamualaikum, Anisa ini aku Aldiansyah!" aku kembali mengetuk pintu dan memanggil nama Anisa, beberapa saat aku menunggu, baru kemudian aku mendengar jawaban, dan pintu rumahnya terbuka.


"Masuk Al!" pinta Anisa.


"Wajahmu pucat Anisa, berbaring saja. Ini aku bawakan roti dan susu, makanlah!" Aku letakkan bungkusan diatas meja, tapi Anisa tak menjawab sepatah katapun, dia seperti tak memiliki tenaga meskipun hanya untuk berbicara.


"Hueeek...hueeek!" Anisa berdiri lalu berlari ke kamar mandi, aku mendengar suara muntahannya. Rasanya tenggorokanku ikut pahit.


Aku menunggu, tapi Anisa tak kunjung muncul. Ada rasa hawatir terjadi sesuatu pada diri Anisa, karena setahuku tidak ada orang lain di rumahnya, akhirnya aku melongok ke ruang belakang, betapa terkejutnya aku karena mendapati Anisa sudah tidur di lantai depan kamar mandi.


"Bagaimana bisa aku tidak mendengar dia jatuh? Mungkin dia tidak jatuh terjerembab tapi dimulai dari jongkok, lalu pingsan!" otakku berputar menjawab rasa heranku, tapi aku sudah menggendong Anisa dan membawanya kembali ke ranjang.


Saat itulah Sony datang. Entah darimana arah datangnya, aku hanya tahu tiba-tiba dia sudah berdiri di depan pintu kamar Anisa.


"Ooh kamu rupanya!, tutup pintunya kalau ingin mesum!" ucapnya sambil berkacak pinggang dengan wajahnya yang sinis melecehkan.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat, aku hanya.."


"Aaah sudahlah, aku tak butuh penjelasan!" Sony memotong kasar penjelasanku, kemudian berlalu meninggalkan aku yang masih terpaku di kamar Anisa.


Aku bergegas keluar, mengambil tas dan meninggalkan Anisa tergolek di kamar. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang dialami Anisa.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang aku hanya berdoa semoga keluarganya cepat membawa Anisa berobat ke dokter.


Setiap kali jam istirahat aku berusaha mencari Anisa, dan sudah beberapa hari dia belum juga pergi ke sekolah. Ingin rasanya menjenguknya kembali, tapi rasa takutku lebih besar jika aku datang sendirian. Akhirnya aku mengajak beberapa orang teman satu kelasku.


Pulang sekolah kami datang ke rumahnya, ada dua buah motor terparkir di teras. Kami berhenti di halaman, merasa sungkan jika ada tamu orang tua Anisa.


"Eeh kamu Al, masuk-masuk!" ibu Anisa meminta kami masuk dan duduk di ruang tamu. Ibu Anisa kembali keluar dengan beberapa cangkir es sirop.


"Ayo diminum, pasti kalian haus!" ucapnya ramah. Kami pun langsung menyerbu minuman itu, maklumlah panas-panas naik sepeda berboncengan, banyak keluar keringat, butuh mengembalikan cairan tubuh.


"Anisa tidak ingin keluar, badannya lemah!" kata ibu Anisa.


"Sudah ke Dokter kan Buk?" tanyaku kemudian, ibu Anisa bilang sudah membawanya ke dokter juga ke bidan. Kamipun pamit setelah minuman dan camilan sajian ludes tak tersisa.


Tiga hari kemudian Anisa sudah masuk sekolah, rasanya gembira sekali bisa melihatnya kembali duduk di bangku kelas. Pergi ke kantin dan juga berbincang banyak hal.


Tapi aku melihat Anisa terlihat lebih murung dari sebelum dia sakit, kadang dia berlama-lama di toilet sampai disusul agar cepat kembali ke kelas.


Waktu berlalu, tibalah ujian tengah semester ganjil, aku memilih lebih banyak belajar di rumah, sebab ibuku memberi ultimatum "Jika NEM Kamu tidak masuk tiga besar, jangan harap bisa kuliah!"


Target tiga besar, dan mendapatkan beasiswa itulah harapanku.


Suatu malam saat aku belajar di ruang tengah, aku dikejutkan tiga orang tamu. Mereka mengetuk pintu dengan keras, seperti orang marah.


Braakk..Braak "Assalamualaikum, assalamualaikum, Pak Sardi! Pak Sardi!" aku bergegas membuka pintu. Aku menatap tiga orang itu, mereka adalah ayah Anisa, Kepala Dusun dan Pak RT.


"Dimana Bapakmu?" tanya Pak Wo, belum sempat menjawab aku mendengar suara Bapak


"Iya Pak, silahkan masuk!" Bapak muncul dari balik kelambu bersama ibuku.


"Buk, bikinkan minum! Ada apa Pak Wo, seperti ada sesuatu yang sangat serius?" tanya Bapak heran.


"Ya, memang kami ingin membicarakan masalah yang sangat penting Pak Sardi, ini masalah Aldi!" kata Pak RT.


Mendengar namaku disebut, hatiku menjadi resah dan penuh tanda tanya, " Aku? masalah serius apa itu? setahuku semua baik-baik saja!"

__ADS_1


__ADS_2