
Matahari sudah berada di atas kepala ketika pulang dari mengantarkan ibu mertua jalan-jalan keliling pasar.
"Haaah capek banget!" keluh Nurmala saat menghempaskan diri di kursi.
"Baru pulang?" tanya Samsudin.
"Iya Pak, Ibuk muter-muter terus nggak jelas yang mau di beli, ngobrolin Nur sama penjualannya saja!"
"Halaaah begitu saja kamu sudah capek Nur, ibuk kan cuma menunjukkan kamu yang sekarang!"
"Mengapa harus dipamerin sih Buk, gak penting juga mereka tahu kalau Nur sudah punya mobil!" tukas Nurmala.
"Ya penting lah buat Ibuk, menaikkan status!"
"Hadeeeh!!" Nurmala mengetuk jidatnya sendiri. Samsudin geleng-geleng kepala, Aldi hanya bisa tersenyum dengan sikap mertuanya.
"Besok pagi-pagi kami balik ke Bandung!" kata Nurmala.
"Sepeda kamu bagaimana Al?" tanya Samsudin
"Besok Rudi yang bawa, Nurmala dan Nihaya ikut Aldi Pak!" papar Aldi menjawab pertanyaan mertuanya. Beberapa lama berbincang, Aldi dan Nurmala minta diri untuk beristirahat.
Keesokan paginya mereka bersiap. Samsudin sudah memasukkan singkong dan beras dalam bagasi. "Banyak sekali Pak!" ucap Nurmala.
"Nggak apa-apa, bawa saja! Minggu depan Bapak sudah panen lagi kok!"
"Terima Kasih banyak Pak!" Nurmala merangkul manja Bapaknya, kemudian mereka berpamitan untuk kembali ke Bandung. Lambaian tangan Bu Samira dan Pak Samsudin melepas mobil Aldi yang bergerak meninggalkan halaman.
Embun yang menempel di dedaunan tumbuhan hijau di sepanjang pinggiran jalan tampak seperti kristal berkilauan tatkala sinar mentari menimpa, mobil Aldi bergerak santai meliuk-liuk di jalanan menuju rumah Nihaya.
Saat Aldi memarkir mobilnya, Asti sedang bermain di emperan. Dia tersenyum saat melihat Nurmala turun dari mobil.
"Mama ..mama, ada bude Nur!" gadis kecil yang berumur 2 tahun itu berlari-lari kecil mendatangi Nurmala.
"Iya sayang, sebentar!" jawab Nihaya dari dalam rumah.
"Masuk dulu Nurmala!" pinta Nihaya
"Ayo kita masuk dulu Asti!" Nurmala menggendong dan menciuminya. Aldi mengikutinya dari belakang sambil menggoda Asti. Gadis kecil itu tertawa riang.
"Ayah... Ayah..ada Om!" ucap Asti kepada Rudi yang tersenyum sambil mengangguk memberi ekspresi.
"Ini kunci motorku Rud!" Aldi menyerahkan kunci motornya.
__ADS_1
"Ayo, aku sudah siap!" Nihaya keluar kamar dengan tas peralatannya. Merekapun menuju mobil kemudian meninggalkan kampung halaman Nihaya.
❤️❤️❤️❤️
3 bulan berlalu.
Suatu sore saat Aldi selesai dari sholat ashar, dia melihat Nurmala tidak segera beraktifitas dan masih berkutat dengan ponselnya. Sibuk mengetik sesuatu.
"Nggak mandi Nur, sudah sore nih!" tegur Aldi yang melihat Nurmala asik membalas pesan.
"Iya Kang sebentar, tanggung!" jawab Nurmala, jarinya masih menari diatas papan ketik. Aldi diam membiarkan Nurmala, dia memilih membaca buku-buku. Beberapa lama Aldi menunggu, sesekali melirik ke arah Nurmala yang duduk di depannya tersenyum dengan ponselnya.
Sejak satu Minggu Aldi ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya teman ngobrol Nurmala, tapi belum ada kesempatan.
"Aku mandi dulu!" ucap Nurmala sambil berdiri menuju kamar mandi. Aldi melirik, ponsel itu tergeletak diatas meja. Saat Nurmala sudah masuk kamar mandi Aldi mencoba membukanya, tapi sayang terkunci dengan kode rahasia.
"Sudah ku duga!" gumam Aldi. Dia letakkan kembali ponsel Nurmala dengan kesal.
Beberapa hari berlalu, hubungan mereka tidak ada masalah, semua berjalan biasa, hanya saja Aldi sangat cemburu ketika Nurmala asik dengan ponsel sementara dia duduk di sampingnya.
"Mungkinkah dia memiliki hubungan dengan pria lain?" perasaan curiga semakin hari semakin menggelitik hatinya.
"Rasya kah itu?" otak Aldi semakin dipenuhi rasa penasaran.
"Iya Kang, ada apa? ngomong saja!" ucap Nurmala tanpa menatap wajah suaminya.
"Kamu nggak bisa ya meninggalkan ponsel saat duduk bersamaku?" kata Aldi dengan nada rendahnya. Nurmala buru-buru meletakkan ponselnya, tapi nada pesan membuat ponsel itu kembali ke tangan Nurmala.
"Sebegitu pentingkah berita itu buatmu Nur?" batinnya Aldi bertanya, perasaannya diliputi rasa curiga. Rasa hatinya ingin membanting ponsel itu, tapi dia masih menahan diri agar tidak lagi bertengkar.
Aldi berdiri, mengambil kunci motor, memilih meninggalkan Nurmala.
"Mau kemana Kang?" tanya Nurmala saat melihat Aldi dengan motornya.
"Cari angin!" kata Aldi sambil menekan gas motornya. Nurmala hanya memandangi kepergian suaminya dari kursi tempat duduknya.
Aldi melaju pergi ke warung kopi tempat biasa dia mengobrol dengan teman-teman sambil bermain catur.
"Kopi satu buk!" kata Aldi kepada pemilik kedai, kemudian duduk berbaur bersama pengunjung lain.
"Ada yang tahu cara membuka kunci ponsel?" tanya Aldi kepada teman-temannya.
"Untuk apa Al?" tanya seorang diantara mereka.
__ADS_1
"Ada deh, pokoknya penting!" jawab Aldi
"Nih kunci Al!" ada yang menyodorkan kunci motor, orang-orang itu pun tergelak dalam tawa, begitu juga dengan Aldi. Rasa kesalnya lenyap saat sudah bisa terbawa suasana happy dengan mereka.
"Ponsel Bini Lo Al?" Aldi mengangguk.
"Kamu sih Al suka membiarkan istrimu sendirian, jadi dia mencari hiburan lain deh!" cletuk salah satu diantara mereka. Aldi terdiam, mencerna ucapan itu, dia bertanya pada dirinya sendiri "benarkah aku sering meninggalkan Nurmala sendirian?"
Aldi tiba-tiba berdiri, mengambil motor lalu kembali melesat diatas jalan pulang.
"Mas Aldi, kopinya!" teriak pemilik kedai, tapi Aldi sudah tidak lagi bisa mendengar panggilan, motornya bergerak cepat menerobos keramaian kota Bandung.
Saat sampai di rumah, dia masih mendapati Nurmala duduk di tempat semula.
"Assalamualaikum!" sapa Aldi.
"Waalikum salam, sudah pulang Kang?"
"Sudah, aku cari martabak, makan yuk!" ajak Aldi ingin memperbaiki suasana.
"Iya, sebentar Kang!" kata Nurmala tak bergeming dari duduknya. Beberapa lama Aldi menunggu istrinya merespon oleh-oleh yang dia bawa, tapi Nurmala cuek saja.
"Lama-lama ingin aku banting ponselmu Nur!" Aldi mulai emosi, Nurmala tergagap mendengar ucapan suaminya. Dia buru-buru meletakkan gawai dan melangkah menuju dapur, mengambil piring. Ada rasa ngeri melihat emosi Aldi. Tapi dia belum merasakan aroma cemburu di hati suaminya.
"Ini Kang piringnya!" Nurmala meletakkan di depan Aldi.
"Kamu nggak makan?" kata Aldi yang melihat Nurmala kembali memegang ponselnya.
"Buka mulutmu sayang!" Aldi menyuapi istrinya, Nurmala pun membuka mulut sambil tetap tak mau melepaskan gawainya.
"Ada apa sih di ponselmu Nur?" Aldi menjulurkan kepala ikut menatap ponsel Nurmala. Tapi Nurmala mematikannya.
"Kok dimatikan?" keluh Aldi.
"Akang mau apa sih?"
"Lihat ponselmu! Apa yang kau sembunyikan dariku?" Aldi berusaha meraih ponsel sambil tertawa-tawa, karena Nurmala memainkan tangannya. Aldi ganti menubruk tubuh Nurmala.
"Ahh kena kamu ya!" Aldi menindih tubuh Nurmala di kursi panjang, dia mendaratkan bibirnya ke berbagai sisi bagian tubuh Nurmala.
"Mau? di sini saja ya?" bisik Nurmala, Aldi mengangguk. "Suasana dan gaya baru!" kata Aldi di telinga Nurmala. Merekapun bermain dengan gembira.
Untuk sementara Aldi melupakan hatinya yang masih dihinggapi rasa curiga dan penasaran. Dalam pikirannya ada rencana untuk mencari cara membuka ponsel Nurmala.
__ADS_1