Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Masa Lalu Aldi (3)


__ADS_3

Aku yang kembali duduk di ruang tengah berusaha memasang telinga lebar-lebar, kedatangan mereka akan membicarakan hal penting tentang diriku.


"Begini Pak Sardi, ya namanya anak muda kadang lepas kendali" Kamituwo(sebutan untuk Kepala Dusun) dengan hati-hati memulai pembicaraan.


"Iya Pak Wo, ada apa sebenarnya? saya belum mengerti maksudnya!" Bapak bingung.


"Anak Bapak harus bertanggung jawab! Dia telah menghamili anakku!!" Pak Robert ayah Anisa tak sabar dengan kalimat halus Kamituwo, langsung to the point tanpa kalimat pembukaan.


Aku kaget setengah mati, dari posisi duduk langsung berubah berdiri mematung. Wajah Bapakku memerah menahan emosi.


"Bapak jangan berkata sembarangan! Sebejat-bejatnya anakku, dia masih punya aturan Pak, Anda jangan menuduh sembarangan!"


"Saya punya buktinya bagaimana perbuatan anak Pak Sardi yang kurang ajar itu!" Ayah Anisa mengeluarkan foto-foto.


"Aldi! Aldi! Kemari kamu!" teriak Bapak memanggilku geram. Aku bergegas masuk ruang tamu.


PLAK... PLAK


Dua tamparan tangan Bapak di pipi kanan dan pipi kiriku. "Apakah ini fotomu?" tanya Pak Sardi sambil menunjuk foto yang terjajar di meja. Aku mengingat ingat kapan saat foto itu diambil. Itu adalah peristiwa saat aku menggendong Anisa masuk ke kamarnya.


"Apakah itu bukan foto kamu hah?!" bentak Pak Sardi.


"Iya Pak, tapi saat itu aku hanya menolong Anisa pingsan, setelah itu tidak terjadi apa-apa!" aku memberi penjelasan.


"Haaah dasar bejat! Kamu kekasih Anisa bukan? Tidak ada laki-laki lain yang bukan keluarga dekat dengan Anisa, jadi kamu harus mempertanggungjawabkan perbutanmu, jika tidak, aku akan melaporkanmu ke polisi!" Robert mengancam.


KROMPYANG.....


Gelas jatuh, Emak yang ingin menyajikan teh terkejut dengan kata-kata ayah Anisa, lalu pingsan.


"Emaak!!" Aku segera menggotong beliau masuk kamar, Lila mengawasi emak, aku kembali ke ruang tamu.


"Sabar Pak, masalah ini lebih baik kita selesaikan secara kekeluargaan, akan semakin rumit jika harus berurusan dengan polisi!" Kamituwo meredam emosi.


"Betul Pak, jika berurusan dengan polisi Anda harus membayar, akan banyak pengeluaran. Belum lagi tenaga, pikiran, dan waktu anda terforsir untuk mengikuti sidang" Pak RT menambahkan penjelasan.


Aku hanya bisa pasrah, bingung tak tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ini fitnah keji, tapi aku tidak tahu bagaimana cara membuktikannya.

__ADS_1


Pak Robert menurut kata-kata Kamituwo dan Pak RT, Bapakku hanya bisa pasrah meskipun beliau tidak yakin aku lah yang melakukan perbuatan itu.


"Pak Robert, Pak RT dan Kamituwo ada keinginan yang ingin saya sampaikan. Aldi saat ini sedang ujian, jadi tolong biarkan dia menyelesaikan ujian terlebih dahulu, dan saya mohon, rahasiakan semua ini untuk sementara waktu!" kata Bapak


"Apakah Aldi tidak lari?" Sergah Pak Robert.


"Tidak Pak, aku yang akan menjaganya!" Semua menyetujui permintaan Bapak, dan mereka pun pamit meninggalkan rumah kami.


Keesokan harinya aku mencari Anisa dengan tujuan meminta keterangan padanya.


"Siapa yang melakukannya Anisa? Katakan pada mereka! Orang tuamu meminta aku bertanggung! Kamu tahu betul, aku tidak melakukan apapun padamu!" Anisa tak menjawab, dia hanya menangis tersedu, membuatku tak tega.


Berkali-kali aku meminta untuk berterus terang, tapi saat itu pula dia hanya menangis tersedu. Aku yakin dia diancam oleh pelakunya.


Satu Minggu berlalu, ujianku selesai meskipun tidak pernah berkonsentrasi belajar ataupun saat ujian, tapi aku sudah mengikutinya dengan baik hingga selesai. Bapak menepati janjinya. Beliau mengajakku pergi ke rumah Anisa.


Kami duduk dan disambut dengan baik oleh keluarga Anisa. Setelah beberapa lama berbincang bapak mulai membicarakan pernikahanku dengan Anisa. Aku punya kesempatan untuk berbicara.


"Pak, Buk sebelum pernikahan ini dilangsungkan aku ingin mengajukan beberapa syarat tertulis bermaterai!" Mereka terdiam dan saling pandang.


"Percaya atau tidak aku tidak bisa membuktikan bahwa anak yang dikandung Anisa bukanlah anakku, dan aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun"


"Tutup mulutmu!" Pak Robert emosi.


"Sudahlah Al!" Bapak merangkul pundakku.


"Saya belum selesai Pak Robert, kita lihat nanti saat anak itu lahir, jika dia tidak ada kemiripan denganku berarti aku punya kebebasan untuk pergi!" ucapku penuh percaya diri.


"Bagaimana, apakah Bapak dan ibu setuju?" Bapak meyakinkan mereka, tapi mereka belum mau menjawab.


"Bagaimana Pak, adil bukan? Jangan sampai anda salah mengambil keputusan dan jadi beban anda seumur hidup!"


"Baiklah!" ucap Pak Robert lirih. Persetujuan mereka membuatku sangat lega, karena masih ada waktu membuktikan kebenaran.


Akad nikah secara agama keesokan harinya dilangsungkan di rumah Anisa, kami masih di bawah umur jadi mereka tak bisa menikahkan di catatan kantor pemerintah.


Setelah menikah, aku tetap tinggal di rumahku sendiri, hanya sesekali saja datang menjenguk Anisa. Dia tampak kurus, perutnya semakin membuncit.

__ADS_1


Sekolahku dipindahkan, pihak sekolah tidak mengizinkan siswanya yang sudah menikah tetap belajar di tempat mereka. Aku pindah di sekolah swasta milik teman Bapak, sedangkan Anisa harus berhenti sekolah.


Suatu pagi saat aku mau berangkat sekolah, seorang saudara tergopoh-gopoh datang.


"Al, kamu diminta ke rumah Anisa, dia sakit!"


Aku bergegas ke rumah Anisa.


"Dari tadi dia memanggil namamu Al" kata ibunya. Aku masuk ke kamar mendapati Anisa tergolek sendirian, perutnya terlihat semakin membesar karena sudah tujuh bulan, wajahnya memerah oleh panas.


"Bagaimana kondisimu Anisa?"


"Oh emm....dingin..dingiin" keluhnya, aku ambil selimut untuk membuatnya hangat, tapi dia masih menggigil. Aku duduk di kursi, diam menunggu. Sesaat kemudian ibu Anisa masuk membawa baskom kompres.


"Tolong dikompres ya Al, ibu masih memasak!" pintanya, aku mengikuti permintaan ibu. Aku peras handuk kecil lalu aku meletakkannya di atas kening Anisa.


"Terima Kasih" ucap Anisa, dia genggam tanganku erat-erat, panas tapi ada perasaan dingin merasuk di hatiku, sejak menikah baru saat itulah aku merasakan sentuhan tangan Anisa. Rasa iba bercampur sayang menjalar ke sekujur tubuhku.


Aku memeluk tubuhnya yang menggigil.


"Maafkan aku Al" bisiknya lirih, aku tidak mengerti apa maksud dari kata-kata itu, aku hanya bilang "Iya, istirahatlah!"


Beberapa lama aku berada di sampingnya, memeluk tubuhnya yang menggigil. Aku terkejut saat menyentuh perut buncitnya, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Ada perasaan bahagia, tapi ketika teringat itu bukan anakku, aku segera menjauhkan tanganku dari sana.


Aku terdiam memandang Anisa yang terpejam menahan sakitnya. Aku bangkit, "Jangan pergi!" bisiknya sambil menarik tanganku.


"Tidurlah! Aku di sini!" dia melepaskan tanganku, dan membiarkan aku duduk di kursi.


Tok..tok..tok, "Masuk saja!" Ibu Anisa muncul dari balik pintu.


"Bagaimana kondisinya Al?"


"Sudah tidak terlalu panas Buk, bolehkah saya pulang?"


"Pulanglah, terima kasih sudah datang!"


Aku pun keluar dari kamar, dari awal ibu Anisa seperti percaya bukan aku pelakunya, tapi beliau juga tidak berdaya karena Anisa tidak mau mengatakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2