
Aldi ikut senang dengan berita pesanan dari Rasya, tapi dia merasa ragu karena orang baru. "Coba telepon dulu nomor di kartu nama itu Nur, kamu yakinkan dulu dan minta uang muka!" pinta Aldi kepada Nurmala.
"Iya Kang, tapi dia tadi masih di pasar, mungkin sampai di rumah nanti sore!" kata Nurmala.
"Eh Kang, ini ada dua nomor telepon mungkin yang satunya itu telepon genggam, yang bisa dibawa kemana-mana itu!" Imbuh Nurmala sambil memperhatikan kartu nama Rasya, Aldi ikut memperhatikan.
"Oh, iya coba telepon genggamnya saja!" pinta Aldi. Nurmala segera menuju meja teleponnya.
"Assalamualaikum, Hallo saya Nurmala Kang yang tadi ketemu di pasar!" Nurmala melakukan permintaan Aldi dan Rasya setuju mentransfer 20% pesanannya.
"Alhamdulillah, beres Kang, Rasya setuju, nanti uangnya dia akan transfer uangnya!"
"Alhamdulillah, sip Nur kita punya jalan keluar untuk memenuhi pembayaran Ruko!" Aldi lega. Dia bergegas keluar membeli bahan tas pesanan Rasya. Dua hari dan satu malam lembur, akhirnya pesanan Rasya selesai. Aldi sendiri yang mengantarkannya jauh-jauh ke Kemang.
Sebenarnya Aldi bisa mengantarkan barang lewat jasa pengiriman, tapi dia ingin melihat prospek bisnis tas daerah Kemang Jakarta. Aldi berangkat lebih pagi agar bisa pulang sore.
"Bismillah Kang, semoga sukses dan selamat kembali ke rumah!" kata Nurmala mengiringi kepergian suaminya.
Aldi mengemas rapi tas-tas dalam kardus besar terikat rapi di jok belakang. Sepatu, jaket kulit, masker, sarung tangan dan helm terpasang menutupi tubuhnya. Dengan kecepatan sedang dia mulai melaju meninggalkan Bandung menuju Kemang. Sesekali dia berhenti untuk beristirahat, berbekal kartu nama dia mencari tujuan, menjelang tengah hari akhirnya Aldi sampai di outlet Rasya.
Sebuah toko tas, yang cukup lengkap di kawasan pertokoan yang strategis. Jiwa bisnis Aldi menggelora melihat betapa besarnya bisnis di Jakarta, tapi sekaligus mentalnya menciut dengan tingginya tingkat persaingan.
"Bisa ketemu Mas Rasya?" tanya Aldi kepada seorang pegawai Rasya.
"Oh Pak Rasya, sebentar Mas tunggu di sini!" pelayan itu masuk. Beberapa saat menunggu Rasya keluar menemui Aldi.
"Mengantarkan pesanan tas dari Mbak Nurmala?" tanya Rasya kepada Aldi.
"Iya Mas, saya suaminya!"
"Emm, ya ya baiklah, tolong turunkan barangnya di sini mas!" Rasya menunjuk lantai toko. Aldi bergegas mengerjakan permintaan Rasya.
"Sudah lama menikah Mas?" tanya Rasya.
__ADS_1
"Belum, Masih dua tahunan!" jawab Aldi sambil membuka kardusnya.
"Anak?"
"Belum Mas, masih merencanakan!" jawab Aldi sambil tertawa.
"Hehehe, iyalah dinikmati saja, Saya sudah lima tahun menikah, tapi juga masih suruh menikmati pengantin baru!" ungkap Rasya. Aldi ikut tertawa dengan candaannya.
"Silahkan cek barangnya Mas!" pinta Aldi. Rasya meneliti satu persatu pesanannya dengan teliti. Sambil berbincang tentang bisnis di Jakarta. Aldi banyak belajar dari Rasya.
"Oke, fix, lengkap dan tak ada yang cacat!" Rasya kemudian mengambil uang untuk melunasi pembayaran.
Aldi pamit pulang.
"Sudah waktunya kamu membeli mobil Mas Aldi untuk memperluas pengiriman!" usul Rasya sambil bergurau ketika melihat Aldi memakai atribut sepedanya.
"Iya Mas, do'akan!" Aldi pun melaju pergi meninggalkan otlet Rasya menuju kota Bandung. Aldi kembali menyusuri jalan rami perkotaan hingga melewati jalan-jalan sepi. Menjelang petang Aldi baru sampai di rumahnya.
"Alhamdulillah!" sambut Nurmala ketika melihat motor Aldi memasuki pekarangan. Dia segera mendekat menerima helm dan jaket Aldi.
"Aku panaskan air dulu Kang, jangan mandi air dingin agar tidak masuk angin!" pinta Nurmala, Aldi terlihat sangat lelah hingga tak ada keinginan untuk berbicara banyak hal. Nurmala bergegas ke dapur menjerang air.
"Minum dulu Kang!" Nurmala membawakan satu cangkir air putih.
"Ah, Alhamdulillah!" gumam Aldi setelah minum segelas air sambil memanjangkan kakinya di kursi.
"Capek ya Kang?" tanya Nurmala sambil memijit kaki suaminya.
'Sedikit, sudah hilang karena bertemu obatnya!"
"Obat, tadi Akang minum obat?" Nurmala heran
"Enggak, obatnya kamu Nur, senyummu membuat rasa lelahku hilang seketika!" rayuan Aldi membuat Nurmala tersipu, pipinya bersemu merah muda. Tiba-tiba Nurmala berdiri.
__ADS_1
"Oh iya, airnya Kang!" Nurmala bergegas menuju dapur.
"Kaang, mandilah! airnya sudah siap" teriak Nurmala dari ruang belakang. Aldi bergegas masuk kamar mandi hawatir air hangatnya mendingin.
Aldi merasa badannya sangat lelah, dua hari lembur, ditambah bepergian jarak jauh dengan sepeda membuatnya ingin beristirahat lebih lama dibandingkan biasanya. Nurmala yang belum ingin tidur memilih menonton TV. Pukul 22.00 dia bangunkan Aldi untuk sholat Isya', setelah itu Nurmala istirahat.
Keesokan paginya Aldi mengajak Nurmala ke penjual Ruko untuk melunasi pembayaran.
"Deal, Lunas!" Aldi menjabat penjual Ruko dengan rasa lega dan bersemangat.
Sambil bersiul Aldi membonceng Nurmala menuju toko barunya. "Ayo kita bersihkan Kang!" Ajak Nurmala bersemangat.
"Tempat ini sekarang menjadi milik kita Nur, disini aku isi dengan tas-tas produksi kita juga milik Rizal, atau jika ada teman-teman yang akan menjual produknya!" Aldi sangat bersemangat sambil menunjuk pengaturan etalase dan model pajangan tas.
Nurmala juga merasa sangat bangga dengan pencapaian suaminya, dalam waktu dua tahun, usahanya berkembang sangat pesat, lebih jauh dari harapan yang dia bayangkan. Aldi pembisnis cerdik dalam membaca peluang.
Satu bulan lamanya Aldi dan Nurmala mempersiapkan louncing toko barunya. Renovasi, memoles dengan cat warna cerah, juga menata interior toko agar lebih menarik. Mengisi produk sendiri juga membeli barang bermutu milik teman satu profesi.
Semua sudah siap, saatnya membuka bisnis barunya, Aldi mengundang beberapa orang tetangga dan teman untuk melakukan selamatan doa bersama untuk keselamatan dan kelancaran bisnisnya.
"Selamat, semoga sukses Al! semangat terus jangan pernah menyerah kawan" ucap Rizal sambil menepuk bahu Aldi. Ucapan selamat juga datang dari teman-teman lainnya.
Untuk sementara Nurmala sendiri yang menunggui tokonya. Pagi hari Aldi mengantarkan Nurmala ke toko, menjemput kembali pukul tiga sore. Aldi juga sering datang ke toko setelah selesai urusannya.
Tiga bulan berlalu, penjualan toko sudah mulai menunjukkan perkembangan baik meski belum signifikan. "Kata pembeli modelnya kurang update Kang!" lapor Nurmala.
"Hemmmh, sulit juga kalau terus update model, sementara biar seperti itu dulu Nur, modal kita terkuras untuk renovasi kemarin" keluh Aldi.
"Iya lah Kang, sambil jalan kita belajar mengelola toko, sambil mencari orang yang tepat untuk menjadi penjaganya" usul Nurmala yang ditanggapi positif suaminya.
Kring..kring...kring
"Angkat Nur!" pinta Aldi untuk mengangkat telepon. Nurmala bergegas mendatangi meja pesawatnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, kediaman Aldiansyah di sini!" ucap Nurmala formalitas.
"Oo, Kamu Rudi, ada apa Rud?" tanya Nurmala. Rudi mengabarkan Nihaya sudah berada di rumah sakit kota, Nurmala diminta datang untuk menemani sepupunya yang hendak melahirkan.