
Satu minggu menunggu akhirnya datang masa subur Nurmala. Mereka melakukan hal yang diperintahkan Dokter. Pelan-pelan Nurmala turun dari ranjang setelah 30 menit lamanya dia ganjal pantat agar cairan yang masuk tidak mengalir keluar.
"Apanya nanti yang akan diperiksa lagi Kang?" tanya Nurmala saat sudah duduk di jok mobil.
"Katanya melihat kecebongku bisa menembus telur milikmu!" Kata Aldi sambil melihat jalanan.
"Bagaimana caranya Kang, kalau harus memakai alat dimasuk-masukkan... aduuuh, aku takut. Itu sakit sekali Kang!" ucap Nurmala cemas.
"Tenanglah Nur, kita lihat saja nanti!"
Mobil Aldi berbelok di parkiran klinik. Dia bergegas membuka pintu dan menggendong istrinya masuk.
Dokter Fahri tampak duduk berkonsentrasi membaca sebuah buku hingga tak menyadari kedatangan pasiennya. Aldi menurunkan pelan Nurmala di atas kursi. "Waw, pakai digendong segala mas Aldi?!" ucap dokter Fahri.
"Iya Dok, takut terjadi sesuatu sehingga menghambat pemeriksaan" Dokter Fahri tersenyum gembira melihat antusiasme pasangan Aldi dan Nurmala.
"Baiklah, kita langsung saja yuk! Suster atur pemeriksaan!" dokter Fahri memberi perintah. Nurmala digandeng berjalan pelan menuju ruangan. Hatinya berdesir l, ada rasa sakit membayang di benaknya.
Nurmala menahan langkahnya saat melihat dipan pemeriksaan, benda-benda terbuat dari logam tertata rapi di sudut ruangan.
"Mari Bu, silahkan naik!" pinta suster, tapi kaki Nurmala tak ingin bergeser meskipun sejengkal. Matanya nanar menatap dipan.
"Bu Nurmala tidak usah hawatir, tidak sakit kok!" ucap Suster, tapi Nurmala seperti tak mendengar apapun, yang terbayang hanyalah sebuah benda keras menancap di alat vitalnya. Suster menggandeng tangan Nurmala, tapi dia tetap menahan langkah.
"Bu Nurmala!" suster terkejut melihat Nurmala berbalik arah menjauhi ruangan.
"Bu Nur, mau kemana Bu?!"
"Tidaaak, aku tidak mauuu, sakiiit!" ucap Nurmala sambil berlari keluar melewati dokter dan Aldi yang sedang berbincang. Aldi terhenyak berlari mengejar.
"Nur! Sayangku! tunggu!" Aldi mengejar Nurmala yang berlari menuju mobil.
"Ada apa Nurmala??" tanya Aldi saat sudah berada di depan Nurmala.
"Buka mobilnya Kang, cepat!" pintanya sambil memegang handle.
Kik.. Kik
Lock terbuka, Nurmala bergegas masuk dan menutup kembali pintunya.
__ADS_1
"Pulang sekarang!" Nurmala merajuk
"Ada apa Nur, kita belum tahu hasilnya!"
"Pokoknya pulang sekarang, kalau Akang tidak mau, aku mau naik ojek!" Nurmala membuka pintu untuk kembali keluar.
"Oke, oke tidak usah keluar lagi, kita pulang sekarang!" Aldi segera kembali menutup pintu Nurmala dan bergegas masuk ke sisi setir.
Dokter Fahri dan susternya membiarkan Aldi pergi. Mereka mengerti jika Nurmala sedang mengalami trauma dan butuh pemulihan.
Sepanjang perjalanan Nurmala hanya diam, pandangan matanya kosong menatap kejauhan. "Nurmala, ada apa?" tanya Aldi, tapi Nurmala hanya diam terpaku. Aldi terus mengemudikan mobilnya menuju jalan pulang, dia membiarkan Nurmala yang tak ingin bersuara. Sambil mengemudi, sesekali Aldi melirik ekspresi istrinya.
"Aku tidak mau lagi diperiksa!" gumam lirih Nurmala tiba-tiba terdengar, air mata menetes di pipinya. Aldi tersenyum, sebuah kata yang ingin dia dengar kini keluar dari mulut Nurmala.
"Iya Nur, kita pulang ya?!" kata Aldi lembut, Nurmala mengangguk pelan.
Tak berapa lama kemudian mobil Aldi berbelok ke halaman rumah. Tampak beberapa orang karyawannya bekerja di ruang produksi. Saat mobil berhenti Nurmala tak segera beranjak turun, dia diam termenung. Aldi memandangi istrinya yang masih tampak pucat dan lesu.
Aldi bergegas turun membuka pintu Nurmala. Tapi tak ada respon untuk turun, akhirnya Aldi menggendongnya turun. Karyawan memandang dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa Mbak Nurmala Mas?" tanya salah seorang yang mendekati Aldi.
"Badannya lemes Mbak!" jawab Aldi sambil bergegas menuju kamar Nurmala. Diatas kasur, pelan-pelan Aldi letakkan tubuh Nurmala.
Aldi kemudian keluar ruangan untuk mengambil tas Nurmala yang tertinggal di dalam mobil.
Ting...Tung..Tung.. Ting
Ponsel Nurmala berbunyi, Aldi segera merogohnya dari dalam tas.
"Assalamualaikum Buk!"
"Dimana Nurmala Al?" tanya Bu Samira dari seberang.
"Nurmala sedang istirahat Bu, dia kurang enak badan"
"Kebiasaan ini anak, jam segini memilih tidur. Bilang padanya pagi ini kami menuju Bandung!"
"Oh iya Buk, nanti saya jemput di terminal" Samira kemudian menutup ponselnya.
__ADS_1
"Haah mertua mau datang, semoga tidak ngomel-ngomel melihat kondisi anaknya" batin Aldi penuh harap. Dia bergegas menuju kamar, Nurmala masih memejamkan mata. Aldi duduk memandangi wajah istrinya, menepis beberapa helai rambut yang menggangu, iba rasa hatinya melihat Nurmala.
Kring...Kring... Kring. Telepon rumah Aldi bergetar.
"Assalamualaikum iya Hallo, kediaman Aldi di sini!"
"Bapak? Oh iya Pak, bagaimana kondisi Bapak apakah sudah sehat?" tanya Aldi kepada penelepon. Bapaknya akan berkunjung ke Bandung. Seharusnya ini menjadi sesuatu yang membahagiakan karena sejak menikah Pak Sardi belum pernah sekalipun menjenguk tempat tinggal Aldi.
"Hallo Rudi, dimana Nihaya?" Aldi menelepon Rudi. Sesaat telepon Rudi tak bersuara.
"Iya Hallo, bagaimana Al?" Suara Nihaya dari seberang telepon. Aldi menceritakan kondisi Nurmala dan meminta Nihaya untuk membantu karena kedua orangtuanya akan berkumpul di rumah Aldi.
"Emm begitu, baiklah tapi aku hanya bisa membantu mengatur saja Al, tahu sendiri kan kondisiku?" kata Nihaya.
"Iya, nanti aku meminta orang untuk memasak dan bersih-bersih rumah!" kata Aldi yang kemudian menjadi akhir pembicaraannya dengan Nihaya.
Pagi mulai beranjak pergi mendekati siang, Aldi keluar ke ruang produksi mengecek hasil dan mengatur beberapa pekerjaan.
"Assalamualaikum!" seseorang mengucap salam dari pintu samping.
"Waalikum salam, Mpok Jum mari silahkan masuk!" Aldi mengajak wanita setengah baya itu masuk, dia diminta untuk menjadi pembantu rumah tangga sementara Nurmala sakit.
"Saya langsung beberes saja Mas!" kata Mpok Jum.
"Oh iya Mpok, saya tinggal ya?!" Aldi kembali masuk dalam kamar, menengok kondisi Nurmala.
"Oh kamu sudah bangun sayang? Makan ya, tadi aku minta dibelikan soto, mau?" Nurmala hanya memandangi suaminya, air matanya kembali meleleh. Aldi mendekat dan menghapus butiran bening itu dari pipi Nurmala.
"Hiks..hiks..hiks, maafkanlah aku Kang, aku tidak bisa memberikan kamu anak!" Nurmala terisak, Aldi meraih kepala Nurmala dan menyandarkan di dadanya.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi, lupakan mengenai anak, kamu sehat saja Akang sudah bahagia Nur!" bisik Aldi lembut sambil mengelus punggung istrinya.
"Ibu dan bapak sedang dalam perjalanan kemari, Mertuamu juga Nur!"
"Pak Sardi?" Nurmala terkejut, dia menatap wajah suaminya. Aldi tersenyum memberikan aura positif untuk Nurmala.
"Mereka akan menanyakan cucu Kang!" Nurmala gusar.
"Tidak usah dipikirkan, biarkan saja semua berjalan apa adanya. Selama ini Kita bisa tetap bahagia tanpa anak bukan?" ucap Aldi, tangannya menyentuh pipi lembut Nurmala. Nurmala tersenyum.
__ADS_1
Cup
Aldi mendaratkan ciumannya di kening Nurmala.