
Sore itu Nurmala sudah bisa pulang ke rumahnya, Aldi merasa lega dan bisa kembali beraktivitas mengurus bisnis dan pesanan pelanggan. Nurmala diminta untuk istirahat agar kesehatannya bisa benar-benar pulih seperti sedia kala.
Aldi dan Nurmala duduk berdua di depan televisi, Nurmala menyandarkan kepalanya di pundak Aldi, dan suaminya merangkul pinggangnya. "Jika aku tidak punya anak, apakah Akang akan menikah lagi?"
"Kamu bicara apa sih Nurmala? tidak usah mikir macam-macam nanti membuat kamu sakit lagi!. Istri satu saja nggak habis-habis mengapa harus tambah lagi? cinta Akang hanya untuk kamu Nur!" Nurmala terdiam mendengar kata-kata suaminya. Dia mengangkat kepala mengecup lembut bibir suaminya itu. "Terima kasih Kang!"
Aldi menatap lembut wajah Nurmala, kemudian mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya itu. Beberapa saat mereka menikmati sentuhan mesra. "pingin, tapi kamu belum sehat!" bisik Aldi. "Nggak apa Kang, tambahan obat!" Mendengar itu, Aldi bersemangat menggendong Nurmala masuk kamar. Kemudian menutup pintunya rapat-rapat agar tak terdengar siapapun yang ada di luar.
1 tahun berlalu, Nurmala sudah melupakan hari dimana dia harus dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan jamu. Selama itu pula Aldi tak pernah menyinggung masalah anak, tapi hatinya seperti sepi.
Di suatu malam saat duduk bersama Nurmala. "Nur aku ingin kuliah!"
"Apakah aku nggak gak salah dengar Kang?"
Aldi memperjelas keinginannya untuk melanjutkan kuliah.
"Untuk apa Kang, apa Akang sudah bosan berbisnis, dan Akang akan pindah profesi menjadi seorang guru?"
__ADS_1
"Bukan Nurmala, Akang hanya ingin menambah ilmu, Kamu kan juga tahu kalau dari lulus SMA Akang pingin lanjut kuliah, tapi kondisi ekonomi tidak memungkinkan, sekarang sudah ada uang Nur, lagian berkumpul dengan orang-orang berilmu membuat hatiku lebih tenang!"
Mendengar penjelasan suaminya, Nurmala tertegun. Banyak spekulasi muncul dalam benaknya tentang keinginan kuliah suaminya, tapi akhirnya Nurmala mengalah "Terserah Akang lah, yang penting jangan melupakan aku ketika nanti sudah bertemu teman-teman Akang yang cantik!"
"Iih kamu Nur! masak Akang masih tergoda orang lain ketika sudah punya istri secantik kamu!" Aldi mencubit genit istrinya. Nurmala tersipu manja.
"Ya siapa tahu ada yang naksir suamiku, Akang digodain terus kecantol!"
"Isy..jangan berkata yang tidak-tidak, belum juga berangkat!"
"Yaa... baiklah Kang, silahkan Akang sekolah!" Aldi memeluk erat istrinya sambil mengucapkan terima kasih. Keesokan harinya Aldi menemui temannya untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa.
Bu Samira, mendengar rencana kuliah Aldi
"Kamu mengizinkan suami kamu Nur?"
"Iya buk, kasihan kang Aldi!"
__ADS_1
Samira ngomel ngalor ngidul mendengar jawaban anaknya itu, Nurmala hanya menimpalinya dengan penjelasan pendek.
"Jangan lupa sampaikan pesan Ibuk ke Aldi Nur!"
"Siap Buk, jangan hawatir!"
"Nur, Ibuk bingung, kamu bisa tidak pinjemin uang dulu?"
"Berapa Buk?"
"Nggak banyak, 2 juta saja penting Nur!" Nurmala terdiam mendengar jumlah permintaan yang tidak sedikit dari ibunya.
"Saya tanyakan Kang Aldi dulu buk"
"Memangnya kamu nggak punya uang segitu? Jangan bilang-bilang Aldi lah, Ibuk sungkan!"
"Iya! besok Nur transfer!"
__ADS_1
Samira menutup teleponnya. Nurmala berfikir keras bagaimana menuruti keinginan ibunya itu jika tidak membicarakan dengan suaminya. Dia memegang semua uang Aldi, jika dikeluarkan tanpa izin Aldi akan marah dan tersinggung, sedangkan ibunya berpesan tidak boleh menceritakan masalahnya dengan Aldi.