Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Demi Kamu


__ADS_3

Malam itu Aldi tidur di rumah Mang Juni. Perjaka tanggung itu sangat ramah, dia bercerita tentang masa lalunya panjang lebar, tubuh lelah Aldi tak mampu lagi menopang telinga dan otaknya untuk menyimak. Dia terkantuk-kantuk.


"Kamu ngantuk ya Al" tanya Mang Juni.


"Hehe, iya Mang, maaf!"


"Ya sudah, silahkan beristirahat!"


Aldi menuju sebuah kamar sederhana milik Mang Juni. Tubuh lelahnya meringkuk di sebuah dipan, Mang Juni menyalakan obat anti nyamuk di sudut kamar, kemudian menutup pintunya pelan.


Malam terus merambat pelan mendekati pagi, Nurmala sudah terbangun saat ibunya masih mendengkur di kasur, dengan memakai mukena dia duduk bersimpuh dan berdoa, dia meminta "Jika memang Aldi jodohku, mudahkanlah ya Allah" Nurmala menutup doanya kemudian bergegas ke dapur.


"Kamu sudah bangun Neng?!" sapa Samsudin saat ingin ke kamar mandi. Nurmala hanya mengiyakan pertanyaan bapaknya sambil melakukan pekerjaan di dapur.


Di rumah Mang Juni Aldi sudah bersiap. Dia sisir pelan rambutnya yang ikal, aroma minyak rambut dan parfum maskulinnya menyeruak ke sudut-sudut kamar. Sambil bercermin Aldi berkata "Aku pasti bisa meminangmu Nur!" Ada sebuah semangat yang berkobar dalam dirinya. Inilah yang disebut orang the power of love.


Aldi mengangkat rangselnya kemudian keluar kamar dengan penuh percaya diri. "Saya sudah siap Mang!" seru Aldi kepada Mang Juni yang masih berada di dalam kamar.


"Oke, anak muda!" Mang Juni keluar kamar dengan membawa kunci motornya. Mereka keluar, Mang Juni kemudian mengunci rumahnya.


Motor Mang Juni berbelok ke rumah Nurmala.


Aldi pamit pulang ke Bandung, kepada Nurmala dan orang tuanya.


"Bawa ini Kang, buka kalau Kang Aldi lapar!" Nurmala memberikan sebuah bungkusan, rupanya dia bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal Aldi.


Aldi pun bersalaman, meninggalkan Nurmala yang mengikutinya hingga ke teras rumah.


"Jadi cewek jangan gampangan kamu Nur!" kata Samira selepas kepergian Aldi.


"Gampangan bagaimana sih Buk, Nur nggak ngapa-ngapain kok!" bela Nurmala.


"Lha itu, kamu bawakan makanan segala!"


"Nur kasihan Kang Aldi belum sarapan Buk, takut masuk angin ketika di perjalanan!"


"Sudahlah Buk, memang benar yang dikatakan Nurmala itu. Ayo Nur kita masuk saja, perutku sudah lapar!" kata Samsudin sambil merangkul pundak putrinya, Samira bersungut-sungut berjalan masuk rumah.


Aldi masih terpontal pontal di belakang boncengan Mang Juni menuju terminal. Matahari mulai hangat menerpa tubuh mereka yang melaju. Sebuah terminal kecil mulai tampak dari kejauhan. Ada sebuah bus terparkir disana.

__ADS_1


"Masih sepi Mang?!"


"Ya begitulah, namanya juga terminal kecil Al, kita tunggu di sini dulu!" Mang Juni mengajak Aldi duduk di sebuah bangku di tepi terminal. Beberapa lama mereka menunggu akhirnya ada beberapa orang datang dan masuk dalam bus.


"Oke Mang, terima kasih banyak sudah mengantarku sampai sini, saya titip Nurmala Mang!"


"Iya Aldi, hati-hati di jalan ya, semangat!!" Mang Juni bersalaman, lalu Aldi masuk bus.


Rasa lapar mulai terasa. Aldi tersenyum melihat bungkusan nasi dari Nurmala.


"Terima kasih Nurmala, cintaku, sayangku!" batin Aldi sambil menyantap makanannya.


Bus mulai bergerak, melaju berkelok di jalan perbukitan perkebunan teh menuju kota Bandung.


Sesampainya di kontrakan Aldi langsung mengeluarkan motornya menuju pangkalan ojek.


"Bang, ikut mangkal ya?!" tanya Aldi kepada tukang ojek di pangkalan.


"Belum masuk kerja Al?" tanya seorang tukang ojek pangkalan.


"Belum Bang, tiga hari lagi, nggak enak nganggur sendirian di kontrakan" jawab Aldi sambil memandang ke arah jalanan. Tiga hari itu Aldi ngojek, dari pagi hingga pukul sembilan malam. Dalam pikiran Aldi tidak ada hal lain selain mengumpulkan uang untuk meminang Nurmala.


"Alhamdulillah Bang, hari ini ramai!" kata Aldi kepada teman ngojeknya.


"Iya Al, bagaimana kalau besok kerja udah masuk, apa kamu juga masih mau ngojek?"


"Mungkin masih Bang, bisa sepulang kerja" Aldi kemudian memutar motornya. Hari sudah semakin malam, Aldi memilih pulang ke kontrakan karena besok sudah mulai kerja.


"Sedari pagi aku tidak melihatmu Al, kemana saja sih?" tanya Rudi saat sudah sampai di kontrakan tapi tak mendapati Aldi di kamarnya.


"Aku cari uang Rud!"


"Kemana, ngojek?" tanya Rudi, dijawab dengan anggukan Aldi.


Aldi kemudian menceritakan kedatangannya ke rumah Nurmala, dan menyampaikan permintaan ibu Nurmala.


"Hemmh, tega banget sih ibunya Nurmala!" Rudi merasa ikut geregetan dengan sikap ibu Nurmala.


"Tapi itu sah-sah saja Rudi, Nurmala banyak yang naksir dari golongan orang berada, meskipun aku tetap menjadi pemenang hati Nurmala!" kata Aldi sambil tersenyum penuh bangga.

__ADS_1


"5 juta bukan uang sedikit Al, kamu sanggup?!" Rudi masih gusar jika Aldi akan kesulitan mengumpulkan uang sebanyak itu.


"Aku akan berusaha sekuat tenaga demi Nurmala Rud, apapun akan aku lakukan asalkan bisa menikahi Nurmala!"


"Semangat Aldi, semoga berhasil! Kita sebagai laki-laki harus punya tekad kuat untuk berjuang" kata Rudi sambil menepuk bahu memberi support, Aldi merasa semakin bersemangat. Aldi bergegas ke kamar mandi, sholat Isya' lalu membaringkan diri beristirahat.


Keesokan paginya karyawan PT KLAMBIKU sudah masuk kerja, begitu pula Nihaya dan Nurmala. Apel pagi dimulai dengan mengucap selamat datang dari manager, ditutup dengan kalimat disiplin dan jujur.


Nurmala menatap Aldi yang berdiri di depan bersama para kepala bagian dan pengawas. Sekilas Aldi juga terlihat mencari sosok Nurmala meski hanya dari kejauhan. Semua berlancar sebagaimana biasa.


Aldi hanya mengawasi pekerja, berputar dari satu meja ke meja lain meneliti hasil produksi, kadang duduk bersama satpam di dekat pintu gerbang. Pulang kerja dia kembali ke pangkalan hingga pukul sembilan malam.


Jika berada di sif malam, dia berangkat ke pangkalan pukul satu siang dan kembali pulang setelah datang waktu Magrib.


"Sudah berapa uang yang kau kumpulkan Al?" tanya Rudi saat melihat wajah lelah Aldi pulang dari ngojek.


"Masih jauh Rud!"


"Mengapa kamu nggak pinjam di koperasi tempat aku kerja sih Al?"


"Nggak ah, aku tidak ingin membebani hidupku dengan membayar bunga sepanjang tahun!" kata Aldi sambil melepas jaket dan sepatunya.


"Tapi kan bisa cepat menikahi Nurmala!" ucap Rudi.


"Itu memang benar Rud, tapi berapa lama aku harus dikejar-kejar dep kolektor jika tidak bisa bayar hutang? satu-satunya motorku akan hilang kamu sita!"


"Kalau kamu nggak cepat-cepat, Nurmala akan diambil orang Al!" kata Rudi sebagai marketing koperasi simpan pinjam.


"Aku akan berusaha sekuat tenaga Rud, kalaupun pada akhirnya tidak berjodoh, apa boleh buat! mungkin jodohku bukan Nurmala!"


"Semangat sob, Nurmala pasti hanya menunggumu, bukan orang lain!"


"Terima kasih Rud, semoga begitu!"


*********


note:


Cerita ini berlatar tahun 2000.

__ADS_1


Gaji Aldi 200 ribu saat itu, setara 2 juta di zaman sekarang. 5 juta setara 50 juta.


__ADS_2