
Suasana lebaran sudah tampak menggeliat di rumah Nurmala, dia membersihkan rumah, merapikan perabotan, menata kue dalam toples lalu meletakkannya dalam almari.
Dua hari di rumah, Nurmala hanya mengisi dengan kegiatan membantu ibunya..
"Nurmala, tolong jemur ini di atas teras!" Samira memberikan satu talam bambu kerupuk udang. Nurmala membawanya ke depan sambil mengambil kursi untuk membantunya naik ke teras.
"Setelah itu goreng ini Nur!" Samira meminta Nurmala menggoreng kacang telor yang sudah terbalut tepung. Tak ada kata lain dari mulut Nurmala selain bilang "Iya Buk!"
"Aldi itu pacar kamu ya Nur?" pertanyaan Samira membuat hati Nurmala terkesiap, pipinya memerah.
"Hehe, bisa dibilang begitu buk!" jawab Nurmala.
"Kalau kamu pilih calon suami harus hati-hati Nur, jangan asal-asalan, ibu hawatir kamu menyesal. Harus tahu bobot, bebet dan bibitnya, apalagi di perantauan!" ucap Samira sambil mengaduk kacang di baskom.
"Kang Aldi orang baik kok Buk!, buktinya dia minta Nur pakai jilbab!"
"Iya, tapi itu tidak bisa jadi jaminan kalau keluarganya tidak bermasalah. Ibuk sebenarnya ingin mengenalkan kamu dengan anak teman ibuk, dia anak kuliahan Nur, keluarganya jelas orang baik!" papar Samira, Nurmala hanya terdiam mendengarkan celoteh ibunya sambil menggoreng kacang.
"Buk!! ini ketelanya!" panggil Samsudin dari kebun belakang. Samira bergegas menemui suaminya dengan membawa sebuah keranjang. Nurmala diam dengan pikirannya, ada rasa hawatir orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Aldi.
Nurmala terus membantu ibunya, menggoreng kacang, kerupuk, kripik singkong hingga petang tiba. Lebaran sudah semakin dekat membuat Samira dan Nurmala tak bisa santai lagi
Keesokan paginya.
"Nurmala!" panggil Samira saat Nurmala di kamarnya. "Antarkan ibuk ke pasar!" pintanya setelah Nurmala keluar.
Dengan Jet collet RC 80, Nurmala membonceng ibunya menuju pasar. Raungan mesinnya memecah kesunyian, bodynya yang bercat merah meliuk diantara perkebunan teh yang sejuk nan rindang.
Sesampainya di pasar, Nurmala memarkirkan motornya lalu mengikuti ibunya masuk pasar sambil membawa tas belanjaan. Sayuran sudah terbeli, Samira mengajak Nurmala berjalan di penjual daging.
__ADS_1
"Hai Samira, mari sini! mau berapa kilo?" tanya penjual itu, dia tampak akrab dengan Samira.
"Dua kilo saja!'
"Siap! ini Nurmala ya? makin cantik anakmu Samira!" kata penjual itu sambil menimbang daging ayam.
"Jelaslah, anakku ya cantik lah! anakmu nggak bantu lagi di pasar Kang Kodir?" tanya Samira, Nurmala hanya diam menyimak percakapan dua orang dewasa di hadapannya.
"Ada, itu dia disana, dia buka stand sendiri biar cepat punya penghasilan, persiapan untuk menikah, jika jodohnya datang!" kata Kodir sambil menunjuk sebuah stand yang tidak jauh dengan tempatnya.
"Ini!" Kodir menyerahkan bungkusan daging kepada Samira. Kodir tersenyum tipis memandangi Nurmala. Tak ada kata yang keluar dari mulut gadis itu, dia hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti ibunya menuju jalan pulang.
"Kang Kodir itu teman bapakmu waktu SMP Nur, sukses dengan jagal ayamnya!" papar Samira. Nurmala hanya diam mendengarkan.
"Nurmala, kamu dengar tidak ibuk bicara?"
"Iya Buk, Nur dengar kok!" jawab Nurmala sambil membuka kunci stang motornya.
Samira terus saja berceloteh tentang pemuda-pemuda di kampungnya, mulai anak Kang Kodir, anak Mpok Salma, anak Kang Solikin hingga anak Pak Carik. Nurmala hanya diam menyimak tanpa komentar. Hatinya gelisah, sudah hampir seminggu berpisah dengan Aldi.
Seandainya punya telepon, seandainya bisa bertemu sebentar saja Nurmala akan lega. Dia semakin gelisah tatkala ibunya bercerita tentang banyak pemuda, bayangan tidak ada restu ibunya tampak nyata.
Nurmala hanya berharap Aldi akan benar-benar datang setelah dia beri alamat rumahnya. Dan orang tuanya akan suka dengan Aldi setelah melihat wajah tampannya.
RC 80 milik Samsudin terus melaju menuju jalur pulang. Tak lama kemudian motor itu berbelok ke rumah Nurmala.
"Anakmu diajak ngomong diaaaam saja Pak!" Samira mengomel kepada Samsudin yang sedang ngaso di teras depan.
"Kok kamu nggak paham, dia memang begitu, irit bicara!"
__ADS_1
"Haah, capek aku Pak, mau istirahat!" keluh Samira sambil masuk rumah membawa tas belanjaan. Nurmala memilih duduk di samping ayahnya.
"Blecky, Blecky!!" Nurmala memanggil kucingnya yang sedang bermain di halaman rumah. Mendengar suara Nurmala, kucing itu berlari manja menghampiri tuannya. Nurmala elus-elus blecky dalam pangkuan.
"Ada apa Neng? sepertinya ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Samsudin yang melihat putrinya tampak murung.
"Nggak ada Pak, Saya cuma nggak suka ibu terus saja membicarakan pemuda-pemuda di kampung ini!" kata Nurmala sambil memanjakan kucingnya.
"Apakah kamu kangen sama Aldi?" pertanyaan Samsudin membuat pupil mata Nurmala melebar, bapaknya selalu bisa menebak perasaan anaknya. Nurmala tersenyum, "Entahlah Pak, rasanya sudah lama aku nggak bertemu kang Aldi!"
Samsudin merangkul Nurmala, putrinya yang kini sudah semakin dewasa. Sejak kecil Nurmala lebih dekat dengan ayahnya, jika ada masalah, Nurmala lebih suka berkonsultasi dengan ayahnya dibandingkan mendengar ocehan dari ibunya.
"Apakah kamu takut ibumu tidak menyukai kang Aldi?" Samsudin kembali bertanya. Nurmala hanya mengangguk membenarkan pertanyaan ayahnya.
"Tunggu Kang Aldimu kemari Nur, bapak juga ingin berkenalan dengannya terlebih dahulu, bapak ingin tahu seperti apa pemuda yang telah mencuri hati anak Bapak!" Samsudin mengelus pundak Nurmala. Tak ada kata yang bisa Nurmala katakan, dia hanya berharap Aldi benar-benar akan datang ke rumahnya.
"Nur... Nurmala!" Samira memanggil dari dalam rumah. Nurmala bergegas menghampiri Ibunya.
"Bersihkan ikannya ya, ibuk mau istirahat dulu, kepala ibuk pusing Nur!" Tak banyak kata Nurmala langsung membawa tas belanjaan ke belakang kemudian mengerjakan semuanya.
Besok sudah lebaran, Nurmala semakin sibuk membantu ibunya di dapur. Ketupat, opor ayam, dan beberapa lauknya mereka masak untuk sajian tamu di meja makan.
"Alhamdulillah sudah matang semua!" kata Samira sambil menghempaskan diri di kursi tamu yang terbuat dari anyaman rotan.
Samsudin, dan ketiga putranya ikut bersantai di depan TV menunggu waktu Maghrib. Nurmala menata takjil di meja makan.
Ngiiiiing...ngiiiiing, sirine dari toa surau tak jauh dari rumahnya berbunyi. Semua menyerbu meja makan.
Televisi sudah melaporkan sidang isbath, dan keputusan dari menteri agama. Besok lebaran. Suara takbir langsung berkumandang di masjid dan musholla. Beduk ditabuh bertalu-talu berirama. Inilah saat yang paling dirindukan, saat dimana bisa berkumpul bersama keluarga.
__ADS_1
Sementara itu, Aldi tampak termenung di kontrakannya sendirian, Rudi sudah pulang kampung. Baginya inilah saat paling menyedihkan sejak enam tahun terakhir. Aldi masih selalu rindu sayur nangka buatan emaknya. Dia tahu keluarga pasti masih selalu mengingatnya tapi Aldi masih enggan untuk pulang atau memberi kabar.
"Sebentar Pak, Mak, Aldi pasti akan pulang!" batin Aldi. Dia berdiri mengambil motor, memilih menyaksikan takbir keliling di alun-alun kota.