Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Pulang


__ADS_3

Selesai kuliah Aldi sebenarnya ingin segera pulang, tapi Antok untuk memintanya untuk tetap bisa hadir "Ini pertemuan penting Al, kalau bisa kamu tetap datang"


Aldi menjadi ragu, akhirnya dia memutuskan untuk tetap datang ke pertemuan komunitas dakwahnya. Meskipun hatinya gelisah, Aldi berusaha tetap tenang. "Nur, maaf aku pulang terlambat lagi" pesannya lewat SMS.


Nurmala hanya membaca pesan Aldi tanpa membalas.


Aldi duduk berkumpul bersama jamaah lainnya. Antok membuka acara kemudian Ustad Jamal memberikan ceramahnya.


"Saudara-saudaraku seiman dan seperjuangan, kita berkumpul di tempat ini tak ada tujuan lain selain untuk menyatukan visi menegakkan kalimat Tuhan. Untuk teman-teman kita yang sedang berjuang, siapa diantara kalian yang sanggup menjadi donatur mereka semampunya?" pertanyaan itu membuat semua terdiam.


"Aldi bagaimana dengan kamu, apa bisa membantu?" Aldi tak bisa mengatakan tidak, karena diantara mereka dia yang terlihat lebih mapan tanpa banyak beban.


"Baik Ustadz! saya siap!"


Pukul 21:30 Aldi sampai di rumahnya. Karena tak ingin mengganggu Nurmala, Aldi membawa kunci rumah sendiri.


Pelan-pelan dia membuka pintu kemudian masuk ke kamar. Aldi melihat istrinya sudah terlelap, tapi sebenarnya Nurmala terjaga dan mendengar Aldi datang.


Aldi melihat koper yang biasanya tersimpan di almari gudang, berada di dalam kamar. Dia mencoba mengangkat koper itu, ternyata berat berisi.


"Apakah Nurmala akan pergi? kemana?" batin Aldi sambil melirik ke arah Nurmala yang tergolek di kasur dengan mata terpejam.


Aldi duduk di pinggir ranjang, pelan-pelan membaringkan tubuhnya, "Maafkan Akang Nur!" batin Aldi sambil menatap Nurmala. Tak lama kemudian dia terlelap.


Keesokan paginya, Nurmala tampak bangun lebih awal, dia sudah memasak sarapan. Baru kemudian Aldi keluar dari kamar.


"Ada koper di kamar, milik siapa Nur?"


"Aku, mau pulang ke Bandung!"

__ADS_1


"Pulang? Ada apa kok mendadak?"


"Nggak ada, ingin pulang saja kangen sama Emak!"


"Hari ini Kamis, Akang masih ada kuliah Nur, bagaimana kalau ditunda Sabtu?"


"Nggak, kalau Akang nggak bisa antar dan lebih mementingkan kuliah, aku bisa pulang sendiri kok!" Aldi terdiam mendengar kalimat ketus Nurmala, dia tahu Nurmala masih jengkel.


"Nurmala sayang, Akang dulu kuliah juga minta izin dan persetujuan kamu bukan? mengapa sekarang kamu marah-marah?"


"Aku pulang bukan karena marah Akang kuliah, tapi aku memang ingin pulang hari ini, titik!" Kata Nurmala sambil meninggalkan dapur menuju kamar.


Nurmala keluar sudah berpakaian rapi dengan menarik travel bag nya. Aldi masih duduk menyantap sarapan.


"Huk..huk..Kamu serius?" Aldi kaget hingga tersedak. Nurmala tak menjawab, dia terus melangkah keluar.


"Nur, tunggu Abang antar ke terminal!"


"Nur, tunggu!" Aldi menarik koper Nurmala.


"Tunggu apa Kang, aku ingin pulang sekarang!"


"Tunggu ambil mobil, aku antar ke terminal!" Aldi berlari masuk dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.


"Dasar tidak peka!" gerutu Nurmala, di saat itu pula, sebuah angkutan umum berhenti tepat di depan Nurmala.


"Mau kemana Kak?" tanya sopir angkot. Nurmala yang jengkel menyambut baik ajakan kenek angkot yang membawa masuk kopernya.


"Oke siap antar ke terminal Kak! Tarik!" Angkot melaju pergi, Aldi datang dengan mobilnya kebingungan mencari Nurmala.

__ADS_1


"Aagh! Aku kan memintamu menunggu Nur, mengapa malah pergi!" Aldi melompat ke mobil, kemudian menekan gasnya dengan tangkas, dengan tujuan mengikuti angkot yang membawa Nurmala.


Tampak dari kejauhan, Nurmala menoleh ke arah belakang, mengawasi mobil yang mengikuti di belakangnya. Aldi menyalip angkot kemudian menghadangnya.


Ciiit!


"Mas hati-hati dong, untung rem saya masih pakem!" sopir angkot marah-marah saat Aldi turun. Aldi tak mempedulikan kata-kata sopir, dia bergegas menuju bangku belakang dan meminta Nurmala turun.


"Kan sudah aku bilang tunggu sebentar Nur, kenapa kamu malah naik angkot!?"


"Nggak, aku pingin naik angkot, Ayo jalan Pak!"


"Mas, bertengkar nanti di rumah saja, di sini ganggu saya kerja!" sopir angkot ngomelin Aldi. Kemudian pelan-pelan menginjak gas, membawa Nurmala yang tak ingin turun dari mobilnya. Nurmala memandang dengan sudut matanya ke arah Aldi yang tampak kecewa memandang kepergian angkot dari hadapannya.


Aldi bergegas naik kembali ke mobil dan mengikuti angkot itu hingga ke terminal. Nurmala turun bersama dengan kopernya yang berat.


"Sini aku bawakan Nur!" pinta Aldi, Nurmala membiarkan kopernya. Dia berharap Aldi akan memasukkan kopernya dalam mobil dan mengantarkan dirinya pulang ke Bandung.


"Bus yang mana?" Aldi menghentikan jalannya, memandangi bus-bus yang berjajar. Nurmala melirik jengkel ke arah suaminya sambil melangkah menuju bus paling kanan yang akan lebih cepat berangkat.


"Kamu yakin mau pulang Nur?" Nurmala tak menjawab pertanyaan.


"Kamu siap jika ditanya macam-macam sama Emak?" Nurmala tetap tak bersuara.


"Nur, Jawab dong pertanyaan Abang!" Nurmala tetap diam.


"Seharusnya bukan begitu pertanyaan Akang. Setidak mencegah aku pulang atau mengantarkan aku sampai rumah!" batin Nurmala.


"Ya sudah Nur, salam ke emak dan Bapak ya!" kata Aldi saat merasakan mobil sudah akan berangkat. Dia bergegas turun dari bus. Nurmala memandangi kepergian suaminya itu.

__ADS_1


Bus bergerak meninggalkan terminal, Aldi masih berdiri menunggu di sisi terminal sambil melambaikan tangan.


"Kamu sudah tidak mencintai aku lagi Kang!" Bisiknya sambil menangis sesenggukan.


__ADS_2