Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Kegalauan


__ADS_3

Menjelang tengah hari Nurmala sampai di rumahnya. Samsudin yang saat itu duduk di teras rumah merasa terkejut karena Nurmala datang dengan tukang ojek.


"Nurmala?" Samsudin memandangi wajah putrinya yang murung.


Samsudin segera menyambut kedatangan putrinya tanpa banyak mengajukan pertanyaan, dia paham jika putrinya pulang sendiri pertanda rumah tangganya sedang bermasalah.


"Hemmh, aku capek sekali Pak!" keluhnya. Nurmala bergegas masuk dalam kamar setelah membersihkan diri, kemudian beristirahat.


"Ada dengan anakmu Pak?" tanya Samira.


"Belum sempat ngobrol kok ditanya!"


Sore harinya mereka duduk berbincang di depan televisi. Nurmala belum mau terbuka dengan masalahnya, mereka berbincang hal lainnya.


"Bagaimana kuliah Aldi Nur?" tanya Samsudin.


"Hammh!" Nurmala membuang nafasnya dengan jengkel.


"Ada apa sih, kamu pasti punya masalah dengan Aldi!?" Samira to the point.


Nurmala terdiam, matanya berkaca-kaca.


"Ngomong Nur, malah nangis!"


"Sabar dulu Buk! Biarkan Nurmala tenang dulu, baru cerita!" kata Bapak, Samira gemes dan tak sabar.


Beberapa lama Nurmala tersedu di samping bapaknya. Samsudin mengelus punggung anak kesayangannya itu.


"Sudahlah Nur, setiap rumah tangga memiliki masalah, asalkan masih cinta dan bisa saling memaafkan, semua akan baik-baik saja"


"Itulah Pak, Kang Aldi sepertinya sudah tidak cinta lagi sama saya, dia lebih mementingkan kuliah dan teman-temannya Pak, setiap hari pulang malam, teman-temannya mungkin juga perempuan Pak!" Nurmala mengadukan sikap Aldi.


"Kamu kan tidak tahu sendiri, hanya prasangka kan?" Nurmala menghentikan tangisnya. Dia memang tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Tapi aku tidak suka ditinggalkan di rumah sendirian!"


"Apa kamu ingin kuliah juga?"


"Nggak ah Buk, Nur malas, buat apa juga kuliah lagi! mending uangnya buat beli kios lagi!"


"Pinter, anak emak Samira!" jawab Samira yang kemudian membuat mereka bertiga tertawa.


Nurmala menjadi lebih tenang, namun hatinya masih merasa Aldi berubah, tidak lagi seperti sebelum kuliah.


Sementara itu Aldi istirahat sedang berbincang dengan beberapa orang teman yang seusia dengannya. Mereka membincangkan tentang keluarga, termasuk anak.


"Kang Aldi sudah berapa tahun menikah?"


"12 tahun!"


"Sudah anak berapa?"


"Istri masih satu ya mas?" Aldi tertawa sambil menjawab "Iya!"


"Harus eksperimen ke istri ke dua mas, siapa tahu bisa berhasil!" celetuk salah satu diantara mereka. Menurut Aldi itu masuk akal.


Bel jam ke dua kuliah sudah berbunyi, mereka pun berpindah posisi ke dalam ruangan. Aldi duduk mendengarkan kuliah, tapi pikirannya tidak bisa berkonsentrasi. "Mungkinkah aku bisa memiliki keturunan jika memiliki istri lagi?" Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam otaknya.


Dosen terus memberikan materi, tapi Aldi sibuk dengan pikirannya sendiri hingga bel pulang berbunyi.


"Kamu langsung pulang Al?" Tanya Antok saat bertemu di koridor. Aldi mengiyakan, Antok meminta Aldi untuk tidak buru-buru pulang, ada yang ingin dia bicarakan.


Aldi masuk dalam ruangan Antok.


"Al, kami butuh bantuan kamu untuk biaya teman-teman jihad berangkat ke Poso, apa kamu bisa?"


"Berapa mas?" Antok kemudian menyebutkan sejumlah uang yang langsung disetujui Aldi.

__ADS_1


"Bagaimana kabar istrimu, sudah sehat?"


"Alhamdulillah, sehat mas!"


"Temanku dulu juga seperti kamu, lama sekali tidak memiliki anak, tapi setelah nikah lagi, malah nggak bisa berhenti melahirkan! Hehehe..." Antok terkekeh, Aldi hanya bisa meringis, batinnya semakin galau.


Setelah pertemuan itu, Aldi langsung pulang. Dia mendapati rumahnya yang sepi. Aldi menatap membuka almari dan menatap tumpukan baju Nurmala. "Nur, apakah kamu bisa berbagi dengan orang lain agar aku bisa memiliki anak?"


Beberapa saat Aldi berdiri di depan almari.


"Tapi, apakah aku tega menduakan istri yang dulu susah payah aku dapatkan?" Aldi menutup kembali pintu almari, pindah termenung di pinggir ranjang.


"Tapi aku ingin sekali memiliki keturunan, penerus generasiku, pewaris hartaku. Aku dari keluarga yang memiliki banyak keturunan, aku tidak yakin kalau aku mandul!" Pikiran Aldi terus berdebat dengan hatinya, hingga lelah dan terlelap.


Nurmala saat itu masih menonton film di televisi. Sebenarnya dia menunggu SMS atau telepon dari Aldi. Nurmala menjadi semakin sentimentil karena menonton drama skandal perselingkuhan.


"Apakah Rumah tanggaku akan bernasib seperti dia?" batin Nurmala saat wanita dalam film itu pulang ke orangtuanya, kemudian suaminya justru bersenang-senang dengan wanita yang lain.


"Oh tidak!" Nurmala terhenyak, bergegas mengambil handphone yang ada di buffet, kemudian menelepon Aldi. Tapi sayangnya handphone ada dalam kondisi dimatikan.


"Hemmmh!!" Nurmala mendengus kesal.


Akhirnya dia matikan televisi, dan memilih untuk masuk kamar.


Nurmala membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tapi matanya menatap foto pernikahan yang masih terpajang di dinding. Dia tersenyum, tapi rasanya pedih dan pahit mengingat kebahagiaan itu sepertinya akan berakhir. Orang yang selama ini mencintai dirinya kini sudah berubah.


"Apa salahku?" Nurmala mencoba introspeksi diri. Dia tidak menemukan hal lain kecuali dirinya yang belum bisa memberikan keturunan.


"Ini bukan salahku, bukan juga keinginanku, aku selalu ingin memberi anak untuk kang Aldi!"


"Apakah pada saatnya kang Aldi akan menceraikan aku? Oh tidak! Tidak! Selama ini aku membangun semuanya dari nol hingga memiliki segalanya!"


Nurmala gelisah di atas ranjang, kadang dia duduk tapi kemudian berbaring kembali. Pada akhirnya dia lelah dan memutuskan berdamai dengan malam.

__ADS_1


__ADS_2