Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Tidak Mudik


__ADS_3

Matahari sudah hampir tenggelam saat Aldi pulang dari tempat Rizal. Rudi sudah duduk di kursi ruang tamu.


"Baru pulang Aldi, apakah kamu sudah mulai ngojek lagi? Kamu harus banyak istirahat dulu Al, jangan terlalu diforsir!" Rudi memberondong dengan nasehat saat Aldi masuk rumah.


"Kayak emak-emak Lo Rud, Aku kerja di tempat Rizal bukan mangkal!" papar Aldi


"Nihaya cerita kalau Kamu resign dari pabrik, benarkah itu Al?"


"Iya, aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka yang seenaknya pada karyawan, aku ingin berdikari saja seperti Rizal, lebih bebas menentukan langkah maju"


"Kamu yakin dengan kondisi keuanganmu yang sekarang, bagaimana dengan janjimu pada Nurmala, kasihan kalau dia harus menunggu terlalu lama Aldi!"


"Saat ini aku bukan pengangguran, tapi bekerja sekaligus belajar dari kesuksesan Rizal mengelola bisnisnya, Nurmala tetap menjadi prioritasku, satu langkah lagi aku sudah bisa meminang Nurmala."


"Uangnya??" Rudi meragukan jumlah uang dimiliki Aldi.


"Aku masih mengumpulkan!" jawab Aldi santai. Rudi masih bingung dengan strategi pemikiran Aldi, tapi akhirnya dia menyerah untuk terus mengintrogasi teman kontrakannya itu. Rudi percaya Aldi mampu.


Sore semakin mendekati petang. Malam merayap membawa kegelapan. Lampu-lampu jalanan mulai dihidupkan. Nurmala dan Nihaya berbincang di ruang tamu sambil menunggu waktu Isya'.


"Kamu yakin tidak mudik lebaran kali ini Nur?" tanya Nihaya sambil membuka-buka buku bacaan sholatnya. Nurmala hanya mengangguk.


"Aldi resign,lalu kapan dia akan melamarmu Nur? apakah Aldi tahu dedline ibumu sampai lebaran haji?" Nihaya kembali bertanya, Nurmala hanya menggelengkan kepalanya, pikirannya mengembara entah kemana.


"Aku percaya sama Kang Aldi Niha, aku akan menunggu!"


"Tapi, Aldi suruh baca juga surat ibumu itu Nur!"


"Iya, tunggu saat yang tepat, aku tidak ingin Kang Aldi kembali setres lalu sakit seperti kemarin" ungkap Nurmala. Nihaya tersenyum tanda menyetujui pemikiran sepupunya itu.


Sesaat mereka saling diam, kemudian adzan Isya' berkumandang dari kejauhan, mereka menunaikan ibadah. Setelah itu rasa lelah mengantar mereka beristirahat.


💙💙💙💙


Dua bulan kemudian, Nihaya bersiap untuk mudik. Nurmala hanya menitipkan oleh-oleh dan sepucuk surat untuk orang tuanya.


"Kamu yakin tidak mudik?" sekali lagi Nihaya meyakinkan keputusan Nurmala untuk tidak pulang saat lebaran. Tapi Nurmala tetap pada pendiriannya. Akhirnya Nihaya harus pulang sendirian.

__ADS_1


Dengan motornya Rudi mengantarkan Nihaya ke terminal. Aldi mendatangi kontrakan Nurmala. Mereka duduk berbincang di teras kontrakan.


"Kamu tidak apa-apa sendirian di kontrakan Nurmala?" tanya Aldi hawatir. Nurmala hanya bilang tidak ada yang perlu ditakutkan.


"Kalau pemadaman listrik bagaimana?" Aldi meyakinkan trauma Nurmala.


"Aku sudah siap, lilin dan senter Kang Aldi!"


"Nur, aku masih hawatir kamu sendirian, aku mau menemanimu juga tidak mungkin karena kita belum menikah, bagaimana kalau kamu aku titipkan orang tua Rizal? Pembantunya lagi mudik, mereka akan senang kalau kamu ikut bantu-bantu, disana nggak akan kesepian, anak Rizal juga lucu-lucu Nur" bujuk Aldi.


Sejenak Nurmala terdiam, kemudian bertanya


"Apakah aku tidak membebani mereka?"


"Aku rasa justru mereka gembira Nurmala!"


"Baiklah, aku mau Kang!"


Akhirnya Nurmala mengemas bajunya dalam tas. Diatas boncengan Aldi Nurmala mendekap tas pakaiannya. Motor Aldi melaju, deru mesinnya berpacu dengan mobil di jalanan kota Bandung.


"Assalamualaikum!" seru Adi di depan pintu.


"Waalikum salam!" seorang wanita dengan menggendong anak kecil keluar dari balik pintu.


"Oo Kang Aldi! mari masuk Kang!" Leha, istri Rizal menyambut kedatangan mereka.


"Kak Leha, ini Nurmala yang aku ceritakan kemarin!" Nurmala mengangguk saat pandangan Leha tertuju padanya.


"Ya, Kang Aldi. Nurmala bantu-bantu aku di rumah ini ya, saya sendirian pontang-panting, mana yang harus urus anak, orang tua, masak, bersih-bersih sendirian!" papar Leha.


"Saya tidak menganggu kalau ada di sini Kak?" tanya Nurmala ragu dan canggung.


"Tentu saja tidak Nurmala, justru aku senang ada teman ngobrol!" Leha tampak ramah dan gembira, membuat Nurmala lega. Leha mengantarkan Nurmala ke sebuah kamar yang sebelumnya ditempati pembantu rumah tangga Leha.


"Maaf ya Nurmala, hanya kamar ini yang kosong!" kata Leha.


"Iya Kak, tak masalah, yang penting ada kasurnya, ada lampunya saya bisa tidur!" ucap Nurmala yang disambut tawa Aldi dan Leha. Beberapa lama berbincang Aldi pamit, Nurmala mengikutinya dari belakang dengan surat yang sudah dia simpan di saku bajunya.

__ADS_1


"Kang Aldi tunggu!" seru Nirmala saat Aldi sampai di tempat dia memarkir motor.


"Ada apa Nurmala?" Nurmala kemudian menyerahkan surat ibunya kepada Aldi.


"Maaf Kang, itu surat ibu di dua bulan lalu, Nur baru hari ini berani menyampaikan, isinya ada hubungannya dengan Kang Aldi!" Nurmala sedikit sungkan. Aldi kemudian membukanya, sekilas tak ada ekspresi berarti dari wajah Aldi.


"Ya sudah, suratnya aku bawa dulu ya, kamu tidak usah terlalu hawatir dengan kondisiku Nur, InsyaAllah kuat dan bisa menyelesaikan semua masalah kita" Ucap Aldi menenangkan Nurmala, walaupun sebenarnya dia juga bingung.


"Oke, Akang kerja dulu Nur, baik-baik disini ya!" Aldi pamit, Nurmala melambaikan tangannya dan kembali ke dalam rumah menemui Leha dan langsung bekerja.


Diatas motor, otak Aldi menghitung dan mengingat uang yang sudah dia kumpulkan. Dan masih kurang satu juta lagi (sepuluh juta zaman sekarang). Tidak terlalu banyak tapi Aldi harus berfikir keras mencari tambahannya dalam waktu cepat, lebaran harus bisa sampai ke rumah Nurmala.


💙💙💙💙


Sesampainya di rumah, Nihaya segera mengantarkan titipan ke rumah Nurmala.


"Mengapa Nurmala tidak pulang Niha?" tanya Samsudin.


"Nurmala ingin melihat lebaran kota Bandung Pak De" Nihaya memberi alasan.


"Hah, aku tidak percaya Niha, ini pasti ada hubungannya dengan Aldi!" Samira menebak. Nihaya tidak berani banyak kata, takut keceplosan.


"Pokoknya, kalau sampai lebaran haji Aldi tidak datang, Nurmala aku jemput paksa untuk menikah dengan orang lain!" kata Samira. Samsudin hanya geleng-geleng, merasa tidak setuju tapi tak mampu berbuat apa-apa.


"Pakde, bude, Niha pamit dulu, sepedanya mau dipakai bapak!" Nihaya buru-buru pamit pulang.


Sepanjang jalan dia berfikir tentang nasib Nurmala. Niha mampir ke wartel (Warung telekomunikasi), mencoba menelepon ke rumah Rizal.


Kring..kring..kring!


"Assalamualaikum!" Rizal mengangkat telepon rumahnya. Nihaya mencari Aldi.


"Aldi, ada telepon!" teriak Rizal kepada Aldi yang sedang bekerja. Dia berlari mendatangi pesawat telepon yang terletak dalam ruangan Rizal.


"Iya Hallo?" Nihaya kemudian menceritakan permasalahan Nurmala dan Ibunya. Aldi hanya bilang "Iya, iya terima kasih informasinya Niha!" pembicaraan telepon mereka akhiri.


"Ada apa Al?" Rizal heran dengan ekspresi Aldi yang terlihat tidak bahagia. Aldi kemudian mengeluarkan surat yang diberikan Nurmala, kemudian Aldi juga menceritakan telepon dari Nihaya.

__ADS_1


__ADS_2