Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Ada Cinta di Jaketmu


__ADS_3

Senja mulai datang meninggalkan sore, mega merah tampak di langit sebelah barat langit kota Bandung. Nurmala dan Nihaya tengah duduk santai setelah sholat maghrib.


"Bagaimana pendapatmu tentang Mas Aldi Nur?" pertanyaan Nihaya membuat Nurmala tercekat, gadis pendiam dan penurut itu tak bisa berkata-kata.


"Nur, aku bertanya padamu, kok diam?!"


"Hehe, aku nggak tahu mau jawab apa, Pak Aldi baik, bahkan terlalu baik, tapi......" Nurmala kembali terdiam, matanya menerawang.


"Tapi apa Nur???" Nihaya semakin penasaran.


"Tapi wajahnya mirip mantanku, kakak kelasku yang membuatku sakit hati, dia berjanji akan menunggu aku lulus SMA, tapi ternyata dia menikah dengan orang lain!, sakit hatiku Niha, Aku menjalin hubungan sejak kelas satu SMA, dia cinta pertamaku, aku berharap dia juga cinta terakhirku, tapi dia menghianatiku!!" Air mata Nurmala meleleh, ada rasa sesak di dadanya yang tak tertahankan.


"Tapi Mas Aldi bukan dia Nurmala?, dia orang yang berbeda, aku melihat dia serius padamu, tidak seperti mantanmu yang mengobral janji saja!, seandainya mas Aldi suka padaku, aku akan menyambutnya dengan senang hati, tapi dia lebih menyukaimu, kamu saudaraku Nur!, aku yakin Mas Aldi orang baik!" papar Nihaya.


"Iya Niha, beri aku kesempatan berpikir!"


"Iya, iya..aku mengerti perasaanmu, tapi setidaknya lupakan masa lalumu!"


Nurmala kembali terdiam mencerna ucapan Nihaya, di satu sisi benar, di sisi lain Nurmala butuh waktu meyakinkan diri sendiri. Adzan Isya' berkumandang, mereka menunaikan sholat Isya' kemudian bersiap berangkat kerja.


Temaram lampu jalanan, sorot kendaraan bermotor kota Bandung seperti tak pernah lelah untuk terus menggeliat. Saat mereka berdiri di pinggir trotoar menunggu angkot, tiba-tiba dua motor mendekat.


"Ayo, bareng Aku Nur!" ternyata dia Aldi dan motor satunya adalah Rudi, mereka ingin mengantarkan dua gadis itu berangkat kerja.


Nurmala ragu, begitu juga Nihaya tapi dua pemuda itu meyakinkan mereka dengan alasan menghawatirkan keselamatan perjalanan, akhirnya dua gadis itu naik di boncengan.


"Jaketmu ukurannya pas Nur!" Aldi menyinggung jaket yang Nurmala kenakan.


"Iya Pak, terima kasih!" jawab Nurmala sambil sedikit mencondongkan mulutnya ke telinga Aldi aga bisa didengar, Nurmala hawatir deru angin membiaskan suaranya. Aldi tersenyum, keinginannya membonceng Nurmala sudah terkabulkan, dia merasa ini awal baik untuk memulai boncengan selanjutnya.


Nihaya yang berada dalam boncengan Rudi tampak diam saja tanpa kata. Motor terus melaju, sesekali jalan tidak rata membuat gadis itu harus bersentuhan dengan pria yang ada di depannya. Rudi sedikit nakal, ketika sedang melaju dia sengaja menekan remnya agar tubuh Nihaya yang menjauh di boncengan bisa lebih ke depan.

__ADS_1


"Hati-hati Mas!!" teriak Nihaya.


"Maaf, ada kucing lewat!" kata Rudi ngeles.


Motor kembali melaju, Aldi yang berada di depan sudah berbelok ke gerbang pabrik, dan memarkirkan motornya. Rudi hanya berhenti di depan gerbang menurunkan Nihaya.


"Aku pulang dulu Niha!" pamit Rudi.


"Iya terima kasih Mas, besok lagi hati-hati kalau ada kucing, ngerem mendadak bisa bahaya!" Nihaya mengomel, Rudi hanya tertawa sambil cengengesan, lalu dia bergerak pulang bersama motornya.


Lima belas menit lagi pukul sembilan. pekerja sif malam sudah bersiap menata mejanya masing-masing. Nihaya mengawali pekerjaannya dengan membuat secangkir kopi, sedangkan Nurmala merapihkan tumpukan kain yang sudah dipotong.


Dengan jaket coklat muda berbahan kain rajut, lebih tepatnya switer dari Aldi Nurmala terkesan semakin cantik dan anggun berada dibelakang mesin jahit. Aldi hanya memandang dari kejauhan. Dia sembunyikan perasaannya yang membuncah senang, karena melihat jaket Nurmala. "Ada cinta di jaketmu Nur!" batin Aldi.


"Jaket baru Nurmala, cantik sekali!" goda Soni, Nurmala hanya tersenyum ramah, dia memilih untuk tidak menjawab perkataan Soni. Nurmala kembali pada pekerjaannya.


Karyawan terus bekerja, deru mesin jahit, gunting potong, dan juga suara batuk pekerja, beradu memecah kesunyian tengah malam di PT KLAMBIKU yang sedang kejar target pesanan.


Aldi sesekali berkeliling di ruang produksi sambil melirik posisi duduk Nurmala, keluar masuk ruangannya, kadang juga mengobrol bersama satpam di dekat pintu gerbang.


"Ayo Nur, bareng aku saja!" sapa Aldi saat melihat Nurmala berjalan sama Nihaya.


"Nihaya bagaimana Pak!" Nurmala sambil memegang tangan Nihaya.


"Sebentar lagi Rudi datang!"


Memang benar, sesaat kemudian Rudi datang di depan gerbang. Rupanya dua orang pemuda itu sudah punya trik kesepakatan untuk memikat dua gadis itu dengan tumpangan motornya.


Akhirnya Nurmala dan Nihaya kembali dalam boncengan mereka. Meski terlihat diam, tapi hati dan pikiran mereka masing-masing saling bertengkar. Memperdebatkan antara perasaan iya atas dasar kemanusiaan, dan tidak demi idealisme jodoh.


Nurmala memandang Aldi orang baik dan serius, tapi dia tak ingin tersakiti kedua kalinya dalam cinta. Nihaya melihat Rudi sepertinya calon suami yang baik, tapi menurut Nihaya wajah dan fisik Rudi bukanlah tipenya.

__ADS_1


Aldi tak ada rasa ragu untuk bilang kepada dirinya sendiri, bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama, Aldi akan memperjuangkan cintanya. Sedangkan Rudi menyukai Nihaya yang baik hati meskipun mulutnya cerewet dan apa adanya, dia merasa cocok dengan kepribadiannya yang tidak suka dengan orang pendiam.


Motor mereka berhenti di depan kontrakan, Nurmala dan Nihaya turun. Hanya ucapan terima kasih mengiringi kepergian dua pemuda itu kembali kontrakan. Rudi bersiap ke kantor, sedangkan Aldi menata bantal untuk membayar hutang tidurnya semalam.


Satu bulan berjalan, rutinitas mereka hanya seputar pekerjaan pabrik, ganti sif, Nurmala bersama Aldi dan Rudi setia antar jemput Nihaya.


"Hemat di ongkos" kata Nihaya, Nurmala tertawa mendengarnya.


"Hati-hati Niha, kalau kamu tolak cinta dia, totalan ongkos ojek sebulan!"


"Ahaha, tapi aku sudah bisa sedikit cocok sih Nur, aku merasa kepribadian dia sedikit mirip dengan Aku, meski wajahnya bukan tipeku!" Nihaya berkelakar.


"Bagaimana jika Rudi suatu saat menyatakan cintanya Niha, apakah kamu akan menerimanya?"


"Emmm, aku nggak tahu, aku lihat dulu bagaimana cara dia menembak ku, jika tepat sasaran ya kena, jika meleset dia sendiri yang akan mampus!" papar Nihaya sambil tertawa.


"Jahat kamu Nihaya!" kata Nurmala yang diiringi tawa keduanya.


"Lalu, bagaimana kamu dan Mas Aldi Nur?" Nihaya balik bertanya.


"Aku masih menunggu, kita lihat saja perkembangan berikutnya!, Pak Aldi sepertinya serius menyukaiku, tapi aku tidak akan terlalu berharap jika dia belum menikah denganku!"


"Apa kegiatan kita Minggu ini Niha?"


"Entahlah, aku bosan di kontrakan terus, jalan-jalan ke alun-alun yuk!" ajak Nihaya.


"Okelah, aku ikut saja!"


Tak lama kemudian mereka keluar kontrakan dengan kostum olahraga, dari ujung gang Aldi dan Rudi ternyata sudah menunggu.


"Nggak janjian kok bisa kompak!" kata Nihaya.

__ADS_1


"Ini namanya sehati!" cletuk Rudi.


Dua pasang penghuni kontrakan itu berjalan santai menikmati udara segar kota Bandung menuju alun-alun.


__ADS_2