Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Surat dari Rumah


__ADS_3

Sudah satu Minggu Aldi sakit dan belum pulih. Rudi juga sudah membawanya kembali ke dokter tapi perubahan kondisinya belum bisa berubah signifikan. Tubuhnya masih lemah dan sering merasa pusing. Badan Aldi semakin kurus karena selera makannya belum bisa pulih, mulutnya masih terasa pahit.


Setiap hari Nurmala menjenguknya, membawakan bubur ataupun makanan yang mungkin boleh dimakan Aldi, tapi Aldi hanya mencicipi sedikit saja.


"Kang ayo dihabiskan!" pinta Nurmala saat menyuapi Aldi, tapi mulut Aldi tertutup rapat, kepalanya menggeleng.


"Sudah Nur, nanti malah muntah!" ucapnya lirih. Nurmala menyerah dan kembali meletakkan piringnya di meja dan meninggalkan Aldi sendiri dalam kamar.


"Bagaimana ya Rud biar Kang Aldi bisa cepat sembuh?" tanya Nurmala dengan nada sedih.


"Caranya sebenarnya mudah, bawakan Aldi uang satu koper pasti sembuh!" ucap Rudi santai.


Plakk!


Sebuah pukulan Nihaya mendarat di pahanya


"Ngaco! Ngomong seenaknya!" bentak Nihaya.


"Aku nggak ngacok, begitulah yang sebenarnya ada dalam pikiran Aldi!" kata Rudi sambil cengengesan.


"Mungkin juga, tapi uang siapa yang mau ditaroh dalam koper Rud!, uang nenekmu?!" Nihaya menimpali ucapan Rudi.


"Kalau itu aku nggak tahu!" jawab Rudi sambil garuk-garuk kepala.


Nihaya dan Nurmala dibuat gemes olehnya.


"Ayo, sekarang antar Kami pulang, aku mau mencuci, mumpung libur!" pinta Nihaya.


Hari itu mereka gunakan untuk bersih-bersih kontrakan. Aldi masih terus terbaring.


Senin pagi sebelum berangkat kerja, seperti biasa Nurmala mampir untuk menjenguk Aldi kemudian diantar Rudi ke pabrik bersama Nihaya.


Hari semakin siang saat pengganti Aldi berkeliling ke ruang produksi. Dia keluar masuk ruangan. "Surat!" teriaknya saat tukang pos datang dan membawakan beberapa lembar surat. Dia panggil nama-nama yang tercantum dalam surat itu salah satunya milik Nurmala.


"Simpan dulu surat kalian, buka nanti saat istirahat!" perintah pengawas itu.


Nurmala segera memasukkan surat itu dalam tas, dia sempat melihat pengirimnya ada ibunya. Nurmala hanya berharap surat itu tidak mempertanyakan keseriusan Aldi meminang dirinya, apalagi saat ini kondisi Aldi sedang sakit. Nurmala kembali bekerja, meskipun pikirannya kadang tidak fokus, tapi dia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.


Pulang kerja Nurmala dan Nihaya menyempatkan diri menjenguk Aldi, kondisinya masih sama. Nurmala menyuapinya beberapa sendok kemudian pamit pulang.


Sesampainya di kontrakan dengan hati tak sabar Nurmala segera membuka surat dari ibunya. Pertama isi surat itu menyenangkan, karena kabar keluarganya sehat. Tapi di akhir membuat Nurmala gerah, karena ibunya memberi ultimatum jika sampai bulan haji Aldi tak datang meminang, maka Nurmala harus mengikuti pilihan ibunya.


Nurmala melipat surat itu kemudian melemparkannya sembarangan ke atas meja.


"Apa kata Mpok Samira?" tanya Nihaya.


"Baca sendiri saja Niha, malas aku mau membahas keinginan Ibuk!"

__ADS_1


Nihaya mengambil surat itu, beberapa saat dia membaca, Nihaya ikut mendesah mengeluarkan rasa resahnya.


"Ibumu semaunya sendiri Nur!" ucap Niha


"Aku malas pulang lebaran ini Niha!, rasanya ingin pergi jauh sejauh-jauhnya!"


"Kalau nggak pulang mau ngapain? kamu di sini sendirian Nurmala!"


"Nggak apa-apa, yang penting bisa menghindari orang-orang itu!"


Dua gadis itu terdiam dalam pikirannya masing-masing.


"Ikut Aku yuk Niha!"


"Kemana?"


"Ikut saja!"


**********


"Assalamualaikum!" suatu sore seorang laki-laki datang ke kontrakan Aldi.


"Waalikum salam" Rudi membukakan pintu dan mempersilahkan orang itu masuk.


"Aldi ada Kang?" tanyanya pada Rudi.


"Oh iya, kenalkan aku Rizal teman Aldi, satu minggu ini aku tidak melihatnya ke rumah, makanya aku ke sini!"


"Oh Mas Rizal, bos tas itu?" Rudi tampak gembira.


"Aaah, bukan bos, pengusaha kecil kok!, saya bisa ke kamarnya?"


"Oh iya Mas mari-mari!" Rudi mengantarkan Rizal masuk kamar Aldi yang terbaring lemah.


"Al, bagaimana kondisimu?" tanya Rizal.


"Beginilah Zal" jawab Aldi lirih.


Rudi kemudian menceritakan hasil pemeriksaan Dokter, sudah diobati tapi belum ada perubahan yang berarti.


"Adikku dulu pernah sakit seperti ini, kalau obat dari dokter saja memang tidak cukup, harus ada obat tradisional yang membantu, besok aku antarkan kemari!"


Aldi tersenyum mendengar perkataan Rizal, seperti ada harapan baru untuk kesembuhan penyakitnya.


"Sabar ya Al, tidak usah terlalu difikirkan masalah kekasihmu itu, kalau jodoh takkan kemana Al!" Rizal menambahkan. Aldi hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Rizal. Karena Aldi merasa masih banyak uang yang harus dia kumpulkan.


Beberapa lama berbincang, Rizal pun minta diri dan dia bilang esok akan kembali dengan ramuan yang dia bicarakan. Belum sampai keluar kontrakan, Nurmala dan Nihaya muncul di pintu. "Assalamualaikum!"

__ADS_1


Nurmala dan Nihaya bersalaman.


"Nurmala?" Rizal menunjuk tangan menebak gadis yang bernama Nurmala. Dan dia menunjuk orang yang benar. Nurmala mengangguk membenarkan tebakan Rizal.


"Tak salah Aldi terpikat padamu Nur!" batin Rizal.


"Mau jenguk Aldi ya?" tanya Rizal kemudian.


"Iya Kang, mengantar makanan!" jawab Nurmala. Rizal kemudian mempersilahkan Nurmala masuk, sembari dia pamit pulang.


Seperti biasa, Nurmala menyuapi Aldi kemudian membantunya minum obat.


"Ke Dokter lagi ya Kang?" tanya Nurmala. Aldi hanya menjawab dengan senyuman sambil berkata pendek "Tidak usah Nur!"


Nurmala terdiam, prihatin dengan kondisi Aldi yang tak kunjung sembuh.


"Sabar ya Nur!" ucap Aldi kemudian. Nurmala mengangguk sambil mengelus tangan Aldi lembut.


"Aku pulang dulu ya Kang?!, semoga lekas diberi kesehatan!"


"Iya, terima kasih Nur!" Nurmala berdiri meninggalkan Aldi dalam kamar, menemui Nihaya dan mengajaknya pulang ke kontrakan.


Sepulang Rizal, dan dua orang gadis itu Rudi kembali mendekati Aldi.


"Aldi, kamu bisa pinjam uang ke Rizal!" usul Rudi yang ditanggapi wajah datar Aldi.


Pikiran pegawai KSP itu menurut Aldi hanya memintanya untuk berhutang saja.


"Al, kamu dengar aku kan?"


"Iya, aku dengar!" ucap Aldi lirih.


"Kamu setuju kan usulku?" Rudi masih ngotot ingin mendengar jawaban Aldi.


"Nggak!!" jawab Aldi pendek sambil menarik selimutnya. Rudi tak ada kata lagi yang bisa dia sampaikan setelah mendengar ucapan Aldi. Rudi memilih keluar kamar dan nonton acara bola.


Keesokan paginya, Rizal datang dengan membawa sebuah botol ramuan berwarna putih kehijauan yang tidak bening.


"Minum ini Al, habiskan, besok aku kesini lagi!" Rizal meminta Aldi menghabiskan minuman yang dia bawakan.


"Apa ini Zal, kok baunya anyir!" kata Aldi.


"Sudahlah, habiskan! kamu ingin cepat sembuh bukan?" tanya Rizal dengan sedikit intimidasi agar Aldi bisa menghabiskan minuman yang terbuat dari sari labu, kunyit dan cacing tanah.


Dengan sedikit memaksakan diri akhirnya Aldi bisa menghabiskan satu gelas ramuan itu tanpa kata protes. Rudi mengupas pisang lalu dia sodorkan ke temannya itu.


"Ini penawarnya Al" Aldi langsung mengunyah makanannya karena tak tahan dengan rasa anyir di tenggorokan.

__ADS_1


"Oke, aku pulang dulu Al, semoga cepat sehat ya, besok aku kesini lagi!" Rizal pamit.


__ADS_2