
Nihaya terdiam mendengar pertanyaan Bu Samira. Dia ingin menjawab tapi takut salah, karena masalah cincin itu masalah pribadi Aldi.
"Ada apa Niha, kok bengong?" pertanyaan Samira membuyarkan lamunan Nihaya.
"Eh, tidak apa-apa bude, cuma teringat mas Rudi biasanya jam segini sudah pulang kerja!" Nihaya mengalihkan pembicaraan. Bu Samira manggut-manggut.
Sementara Samsudin tampak kelelahan sehingga terlelap di kursi panjang "Tidur di kamar Pakde!" pinta Nihaya, tapi Samsudin menggeleng, akhirnya Nihaya mengambilkan bantal dari salah satu kamar Nurmala.
"Bude nggak ingin istirahat?" tanya Nihaya kepada Samira.
"Iya, aku masih gerah, nyalakan kipas anginnya Niha!" pinta Samira. Nihaya mengikuti permintaan Budenya. Angin berhembus lembut, membuat Nihaya juga ingin membaringkan diri.
Matahari bergeser mendekati sore, kontrak Nurmala masih sepi. Penghuninya masih belum tampak keluar.
Tok..tok..tok.."Assalamualaikum, Niha?!" Rudi datang dari tempat kerja. Samsudin membuka pintu.
"Lho, kok Pakde yang membukakan?" sapa Rudi sungkan.
"Nggak apa-apa, Niha masih beristirahat" kata Samsudin sambil kembali duduk di kursi panjang. Sejenak mereka berbincang, Niha kemudian keluar, ikut duduk bergabung.
"Kamu sehat sayang?" tangan Rudi mengelus perut Nihaya.
"Dia baik-baik saja!" sahut Niha sambil memindahkan tangan Rudi dari perutnya, merasa malu dengan Samsudin yang berada di depannya. Nihaya, Samira pun keluar kamar.
"Kita pulang yuk Niha, di sini kan sudah orang tua Nurmala, Pakde Bude menginap di sini kan? jadi sudah waktunya kita kembali" Kata Rudi
"Waah, suamimu sepertinya sudah kangen itu Niha, ikuti suamimu! biar Kami yang menemani Nurmala, Aldi besok pagi mungkin sudah datang " kata Samsudin, Rudi terkekeh mendengar gurauan Pakde nya.
Nihaya menurut, Nurmala masih tampak lesu. Hanya tersenyum tanpa kata. Dia bahagia melihat Nihaya tapi juga ada rasa iri dengan perutnya yang semakin membuncit. Malam itu Nurmala bersama dengan orang tuanya.
Dengan segelas jahe hangat dan madu, mual muntahnya menghilang, makannya juga bisa lahap. "Nanti kamu jadi periksa kan Nur?" tanya Samira di sela sarapan Nurmala.
"Nur sudah sehat kok Buk!" jawab Nurmala.
"Tapi kan memastikan Nur, hamil atau tidak begitu lho!"
"Kayaknya cuma masuk angin saja Buk!"
"Haaah, ibuk masih penasaran! pokoknya periksa saja untuk jaga kesehatan"
"Iya, iya! tunggu Kang Aldi datang!" jawab Nurmala sedikit sewot dengan desakan ibunya. Pukul delapan pegawai Aldi sebagian sudah datang dan langsung mengerjakan tugasnya.
Matahari semakin meninggi, Nurmala tampak gelisah menengok ke pintu depan.
"Ibuk Kapan akan pulang?" tanya Nurmala.
__ADS_1
"Setelah dhuhur, biar nggak kemalaman!' kata Samsudin yang disetujui Samira. Tak lama kemudian Aldi datang.
"Assalamualaikum!" sapanya di depan pintu.
"Kang Aldi?!" Nurmala tampak lega dan senang.
Setelah bersalaman Aldi meletakkan tasnya ke dalam kamar.
"Aldi!" panggi Samira, Aldi bergegas datang.
"Nurmala muntah-muntah, periksakan coba! jangan-jangan dia hamil Al'
"Oh ya? Benarkah itu Nur?" Aldi sumringah, bayangan menjadi seorang ayah menggelayut manis dalam benaknya. Nurmala hanya menjawab dengan mengangkat bahu dan tangannya. Berargumentasi tidak ada gunanya, karena yang diinginkan ibunya sebuah kepastian dari dokter atau bidan.
Aldi bergegas mengeluarkan motor.
"Kamu nggak capek Kang? nanti setelah istirahat kan bisa?" kata Nurmala sambil melihat Aldi yang bersiap dengan helmnya.
"Nggak apa-apa, ayo cepat!" Aldi juga tidak sabar melihat hasilnya. Nurmala hanya bisa menurut naik ke boncengan suaminya. Samira dan Samsudin memandang sambil tersenyum dari dalam rumah.
Aldi memboceng Nurmala menuju sebuah klinik bersalin. Nurmala mendaftarkan diri dan diminta menunggu giliran. Aldi sabar menemani. "Kalau hasilnya negatif bagaimana Kang?" tanya Nurmala galau.
"Nggak masalah Nur, masih banyak kesempatan!" kata Aldi sambil mengelus tangan istrinya.
Nurmala masuk tapi dia kembali keluar dengan sebuah wadah.
"Kok keluar lagi?" tanya Aldi penasaran.
"Aku diminta kencing di sini Kang!" jawab Nurmala polos. Aldi mengangguk dan mengisyaratkan agar Nurmala segera melakukan perintah dokter.
Nurmala duduk di depan dokter menunggu hasil tes packnya.
"Suaminya ikut juga Mbak?" tanya Dokter, Nurmala kemudian memanggil Aldi ikut masuk duduk di depan dokter.
"Sudah berapa lama menikah?" tanya Dokter
"Setahun lebih Dok!" jawab Nurmala.
"Ingin cepat punya momongan ya?" Dokter kembali bertanya, Aldi dan Nurmala mengangguk secara bersamaan. Kemudian Dokter memberikan tips-tips dan waktu yang tepat untuk berhubungan.
Beberapa lama berkonsultasi, akhirnya mereka keluar ruangan dokter dengan hasil di tangan. Dengan santai mereka pulang dengan bekal tehnik dari Dokter. Samira tampak menunggu duduk di ruang tamu dengan pakaian yang sudah bersiap untuk pulang.
Melihat Aldi datang beliau langsung berdiri.
"Bagaimana Nur?" tanyanya antusias.
__ADS_1
"Belum Buk, negatif!"
"Yaah, Nggak apalah memang belum saatnya!" gumam Samira dengan perasaan sedikit kecewa.
"Santai saja Al, jangan terburu-buru, nikmati pengantin baru lebih lama lagi!" Saran Samsudin sambil bersiap dengan tasnya. Aldi mengangguk setuju.
"Kami pulang dulu yah!" pamit Samira.
"Oh iya Buk, ini buat naik Bus!" Aldi mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Nggak usah Al, Bapak masih ada kok!" kata Samsudin.
"Aaah, nggak apa-apa, aku saja yang bawa!" Samira menyambar uang dari tangan Aldi. Samsudin hanya bisa geleng-geleng melihat ganasnya tangan Samira ketika melihat uang.
Aldi bersama seorang karyawan mengantarkan mertuanya menuju terminal.
Tiga puluh menit kemudian dia sudah kembali masuk rumah. "Bagaimana kabar keluarga Kang?" tanya Nurmala. Aldi kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarganya.
"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun Kang! sabar ya, ikhlaskan Emak Kang!" kata Nurmala sambil memegang dan menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Aldi tersenyum getir, rasanya ingin menumpahkan semua penyesalannya, tapi tak berdaya.
Aldi melanjutkan cerita tentang Bapak dan adiknya. "Seberapa tinggi Lila Kang?"
"Mungkin setinggi Kamu, cuma lebih manis!"
"Iiih, aku nggak manis ya!" sebuah cubitan mendarat di lengan Aldi.
"Awww, kamu nggak manis sayang tapi cantik, dan kamulah wanita paling cantik di rumah ini!"
"Iiih, ya iyalah kita kan cuma berdua, awas kalau Akang main-main dengan wanita cantik diluar!"
Nurmala cemberut dengan godaan suaminya.
"Hahaha, aku suka sekali melihatmu cemburu Niha, waktu di Kediri aku pingin cepat-cepat pulang, ingin memelukmu Nur!, sini sayang!" Aldi meraih bahu istrinya, memeluk dan mengecupi pipinya.
"Iiih, malu Kang ada orang-orang!"
"Kalau begitu kita ke kamar saja, biar lebih bebas tanpa hambatan!" Aldi berdiri dan menggendong tubuh istrinya masuk kamar.
Kring...Kring..kring, telepon rumah berbunyi.
"Angkat Kang!" bisik Nurmala.
"Nanti saja aku telepon balik, aku kangen banget sama kamu Nur!" bisik Aldi di telinga Nurmala.
Satu jam berlalu, kemudian Aldi keluar kamar dan menelepon balik orang yang tadi menelepon.
__ADS_1