
Aldi terus mengemudikan mobil melewati tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa lalunya. Sesekali dia tersenyum tipis, namun dia sembunyikan dalam konsentrasi memandang jalanan. Nurmala menikmati pemandangan desa kelahiran suaminya.
"Bangunan rumah di sini bagus-bagus ya Kang? berarti rakyatnya makmur!" kata Nurmala sambil melihat deret rumah yang berjajar sepanjang perjalanan.
"Ya, pertanian di sini sudah sangat maju!" papar Aldi. Beberapa lama setelah bergoyang-goyang di jalanan yang tak rata, akhirnya Aldi berbelok ke rumah bercat hijau, itulah rumah mertua Nurmala.
"Ini rumah Akang?" tanya Nurmala sambil membelalakkan matanya. Aldi mengangguk.
"Seperti inilah rumahku Nur!" Aldi membuka lock pintu, mereka berdua turun.
Lila menghambur ke halaman ketika mengetahui kakaknya datang.
"Kak Nurmala?" Lila memeluk kakak iparnya itu erat-erat. "Kak Nur lebih cantik dari yang aku bayangkan!" ucap Lila sambil memegang tangan Nurmala.
"Hehehe, bisa aja kamu Lila!" Nurmala tersipu dengan pujian adiknya. Mereka masuk rumah, Pak Sardi duduk menunggu di ruang tamu.
"Assalamualaikum Pak?!" Aldi bersalaman dengan mencium punggung tangan ayahnya.
"Pak, ini istri saya, Nurmala!" Aldi memperkenalkan pasangannya. Pak Sardi tersenyum memandang Nurmala. Pandangan matanya tak lepas dari wajah dan perawakan Nurmala.
"Sepertinya aku tidak asing dengan kamu Nduk, mirip dengan seseorang!" kata Pak Sardi dengan mengerutkan dahi, matanya menerawang mengingat seseorang di masa lalunya.
"Silahkan duduk Nduk! Lila buatkan minuman!" pinta Pak Sardi.
Aldi dan Nurmala duduk menunggu orang tuanya bicara, tapi Pak Sardi masih terdiam, dia masih menghubungkan masa lalunya dengan realitas di depan matanya.
"Bapak Sehat?" tanya Aldi memecah kekakuan.
"Alhamdulillah sehat! Aku ingin bertanya padamu Nur, Apakah ibumu bernama Samira?" Pertanyaan Pak Sardi membuat Aldi dan Nurmala terkejut.
"Benar Pak, Bapak kenal ibu Nurmala?" tanya Aldi penuh keheranan. Mata Nurmala membola.
"Ternyata dunia ini begitu sempit!" kata Pak Sardi menjawab pertanyaan Aldi. Beliau bercerita kalau memiliki teman di Jawa Barat, dan pernah 2 tahun bekerja di sana.
"Lalu bagaimana bapak bisa kenal ibu Samira?" Aldi semakin penasaran. Tapi Pak Sardi memilih untuk diam tak ingin menceritakan masa lalunya. Kemudian Lila masuk dengan tiga cangkir teh.
"Ayo diminum Kak Nur!" kata Lila sambil menggelayut manja duduk di samping Nurmala.
__ADS_1
"Menginap lama di sini kan Kak?" tanya Lila penuh harap bisa lebih dekat dengan Nurmala.
"Kami banyak pekerjaan Lila, mungkin hanya dua malam saja!" kata Nurmala sambil mengelus tangan adik iparnya yang berada di lengannya. Aldi dan Nurmala mengambil cangkir teh diatas meja, tapi dia kembali meletakkannya.
"Terlalu panas ya Kak?" tanya Lila.
"Aku suka yang seperti ini Lila, tapi biar sedikit lebih dingin saja" Nurmala mencoba menghalau rasa sungkan Lila. Sementara, tanpa kata, sesekali Pak Sardi memandang Nurmala. "Wajahnya sangat mirip ibunya" batin Pak Sardi.
Aldi berdiri "Aku ke kamar mandi dulu!"
"Ayo Kak, aku tunjukkan kamarnya, pasti Kak Nur sangat lelah" kata Lila sambil memegang tangan Nurmala. Lila membantu membawa barang kakaknya masuk kamar.
"Permisi Pak, saya ke kamar dulu!" Nurmala pamit mertuanya. Pak Sardi mengangguk dengan satu kata "Ya!"
Dia masuk ruangan yang biasa menjadi kamar Aldi. Suasananya masih sama, Bob Marley masih terpampang di temboknya. Mata Nurmala menyapu seluruh ruangan kamar. "Semua terlihat usang, tapi masih terawat" batin Nurmala.
Dia Membuka-buka almari yang berdiri kokoh di pojok kamar, pintunya tidak terkunci, ada sebuah foto kecil hitam putih setengah badan tertempel di bagian dalamnya.
Seperti ada sebuah magnet, mata Nurmala langsung tertuju pada gambar wanita di samping Aldi. "Bukankah ini Anisa?" Nurmala mengernyitkan dahinya. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Nurmala tentang hubungan mereka berdua.
Ceklek, pintu kamar terbuka, Aldi masuk setelah selesai dari kamar mandi.
"Mana? hehehe...iya, kami memang teman akrab, jadi aku sayang membuangnya!" kata Aldi clingukan.
"Dia mantan Kang Aldi?" tanya Nurmala.
"Iya, cuma mantan bukan? sini biar aku buang fotonya!" Aldi meraih kasar foto yang tertempel di pintu almari, lalu melemparnya ke tong sampah.
"Kok dibuang sih Kang, sayang kan foto kenangan!?" Nurmala menyayangkan sikap Aldi
"Kata orang 'buanglah mantan pada tempatnya' jadi lebih baik aku buang saja foto itu! sekarang kamulah satu-satunya Nur" kata Aldi sambil mengikatkan tangannya ke pinggang Nurmala yang masih berdiri di dekat almari.
Aldi mendekatkan bibirnya ke wajah Nurmala,
"Aku akan mencintaimu sampai akhir hayatku Nurmala, sayangku" bisik Aldi sambil memeluk dan menciumi istrinya.
"Iiih, lepas Kang! gerah!" Nurmala menjauhkan wajahnya dari muka Aldi. Pelan-pelan Aldi melepas pelukannya. Nurmala kembali membuka koper mencari pakaian ganti.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu Kang, dimana tempatnya?"
"Ikut aku!" Aldi melangkah keluar kamar diikuti Nurmala menuju bagian belakang rumah. Aldi menunjuk sebuah bangunan kecil yang berada di samping dapur.
"Aku tinggal ke depan!" kata Aldi kepada Nurmala yang sudah berada dalam kamar mandi. Aldi mendatangi ayahnya di ruang tengah.
"Pak, kalau boleh tahu, bagaimana bapak mengenal ibu Nurmala?" tanya Aldi saat sudah duduk di samping ayahnya. Pak Sardi tidak langsung menjawab pertanyaan putranya. Matanya masih tertuju ke televisi, tapi pikirannya melayang pada masa mudanya.
Samira, gadis cantik bermata lentik, dengan alis tebal, anak seorang mandor tempat dia bekerja di pabrik teh. Sardi muda sudah yatim, ikut seorang tetangga bekerja untuk mencari pengalaman setelah tamat SMP.
"Pak?!" pertanyaan Aldi membuyarkan lamunan Pak Sardi.
"Eh, iya Al, kamu tadi bicara sama Bapak?" Pak Sardi berlagak tak mendengar pertanyaan Aldi sebelumnya. Belum sempat menjawab, Nurmala memanggilnya dari dalam kamar. Aldi bergegas menghampiri Nurmala.
"Akang nggak mandi?"
"Sebentar Nur, masih gerah!"
"Justru mandi biar seger Kang!"
"Iya, tapi nanti dulu lah!"
"Yah, terserah deh, aku taruh baju Akang di sini ya!?" Nurmala meletakkan pakaian ganti Aldi diatas koper. Aldi kembali keluar kamar, berjalan ke halaman mencari udara sejuk sambil melihat-lihat tanaman bunga Lila.
Saat Aldi berdiri menikmati udara sejuk di samping rumah, seorang pemuda sebaya mendekat dan menyapa.
"Aldi ya?!" tanyanya saat mendekat. Aldi tersenyum dan membenarkan pertanyaan orang tersebut.
"Kosim? apa kabarmu?" Aldi menjabat erat kawan lamanya itu. Dia teman Aldi saat duduk di bangku SMA.
"Kamu sudah menikah?" tanya Kosim. Aldi tersenyum dan menceritakan perihal istrinya.
"Aku pikir kamu dulu benar-benar akan menikahi Anisa Al!" ledek Kosim, yang ditanggapi Aldi dengan meletakkan telunjuk ke mulutnya sambil melirik kanan kiri, dia tidak ingin banyak pertanyaan tentang Anisa jika Nurmala mendengar pembicaraan Aldi dan temannya.
"Ini mobil kamu Al, hebat, keren!" puji Kosim saat melihat mobil baru Aldi yang terparkir di halaman. Aldi bisa tersenyum lebar.
"Biasa saja Sim, siapa yang bekerja keras akan mencapai hasilnya!"
__ADS_1
"Ayo, kita ke dalam Sim, minum kopi bersama Bapak!" Aldi menawarkan jamuan. Tapi Kosim menolak dengan alasan ada kepentingan lain. Sepeninggal Kosim Aldi bergegas menuju kamar mandi.