Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Misi Restu Camer


__ADS_3

Mobil yang Rizal kemudikan terus melaju. Menjelang tengah hari mereka memasuki pedesaan perkebunan teh. Kijang putih milik Rizal mencolok berkelok-kelok diantara warna hijau yang terhampar. Aldi mendekap kopernya erat-erat di pangkuan. Rudi terkulai di sandaran jok belakang dengan lelap.


"Masih jauh Al?" tanya Rizal


"Sekitar tiga kilo lagi, capek ya Zal?"


"Sedikit pegal, tapi tak masalah"


Mobil terus melaju, kini sudah melewati perkampungan yang cukup besar.


"Rudi, Rud! sudah sampai rumah mertuamu!" teriak Aldi membangunkan Rudi.


"Oh, iya siap!" Rudi mengusap wajahnya, segera menyisir rambutnya dan memegang buket bunga yang sudah dia beli untuk Nihaya. Aldi dan Rizal tertawa geli.


"Kok nggak berhenti?" Rudi heran.


"Hahaha, belum Rud, kita ke rumah Nurmala baru ke rumah Nihaya!" kata Aldi. Rudi kembali menghempaskan tubuhnya di jok, "Yaah, tidur lagi ah!"


Belum sampai Rudi terlelap, mobil Rizal sudah berbelok dan berhenti di sebuah rumah yang banyak tanaman singkong dan buah buahan, inilah rumah Pak Samsudin.


Mereka bertiga merapikan penampilan, Aldi dan Rudi tak lupa mengeluarkan kacamata hitamnya. Mereka berbaris, "Sebentar!" kata Rizal sambil mengambil kacamata hitam Aldi.


"Kamu di depan, kami berdua di belakang!" pinta Rizal. Mereka bertiga berjalan mendekati pintu. Aldi menenteng kopernya penuh percaya diri.


"Assalamualaikum!" seru Aldi. Beberapa saat menunggu tak ada suara jawaban, kemudian


Ceklek!


"Waalikum salam! Kang Aldi??" Samsudin terlihat sangat gembira melihat kedatangan Aldi yang memang sudah dia nantikan. "Mari, silahkan masuk!" Mereka bertiga duduk, Samira muncul ke ruang tamu.


"Dimana Nurmala?" tanya Samira.


"Dia tidak ikut Buk, Nurmala tinggal di rumah teman, kami kesini ingin mengantarkan uang yang Ibuk minta!, izinkan Saya menikahi Nurmala!" papar Aldi pelan dan tenang.

__ADS_1


"Benarkah kamu bawa uangnya?" Samira belum percaya dengan ucapan Aldi. Dengan penuh percaya diri Aldi meletakkan koper di atas meja kemudian membukanya.


"Lihatlah Buk, ini uangnya!" Aldi menunjuk koper dengan sepuluh jarinya. Pupil mata Samira terlihat melebar tak percaya. Samira mengambil satu ikat lalu mengimbas-ibaskan uang itu di depan wajahnya sambil tersenyum.


"Sebelumnya aku tak percaya kamu bisa mendapatkan uang yang aku minta Aldi, tapi ternyata kamu bisa memenuhi permintaanku!" kata Samira sambil mengambil koper dari atas meja ke pangkuannya.


"Aldi sudah bekerja keras untuk uang itu Pak, Buk, selain kerja di pabrik dia juga ngojek sampai malam, kadang juga ikut jahit borongan demi Nurmala, jadi tolong jangan kembali dipersulit pernikahan mereka!" Rizal menambahkan.


"Saya sangat berterima kasih padamu Kang Aldi, aku yakin tidak ada pria yang mencintai Nurmala sebesar cinta Kang Aldi!" Samsudin tampak berkaca-kaca. Samira diam terpaku sambil mengelus koper uangnya.


"Kapan kamu akan menikahi Nurmala?" sambung Samira.


"Secepatnya Buk, jika diperkenankan sebelum lebaran haji kami sudah menikah."


"Bagaimana Pak?" Samira minta persetujuan suaminya, Samsudin mengangguk setuju. Aldi, Rudi dan Rizal tersenyum lega, misi mencari restu orang tua tahap pertama lancar tanpa halangan.


"Buk, mana minumnya ini?" tegur Samsudin. Samira tergagap, langsung berdiri menuju ruangan belakang mengeluarkan camilan, dan tak tak lama kemudian menyusul empat cangkir kopi. Mereka makan camilan sambil berbincang. Rudi yang misinya belum tersampaikan menyenggol lengan Aldi agar segera berpamitan.


"Pak, Buk kiranya sampai di sini pertemuan kali ini, untuk selanjutnya Saya akan datang kemari untuk menikahi Nurmala!" pamit Aldi. Samsudin dan Samira tak banyak kata, selain mengiyakan kata-kata Aldi.


Rudi tidak segera turun, dia masih sibuk merapikan penampilannya. Dia menarik nafasnya dalam kemudian baru turun dengan buket bunganya.


"Aldi, bawakan hadiahnya!" pinta Rudi. Mereka bertiga beriringan. Nihaya tampak terkejut dengan kehadiran Rudi ke rumahnya.


"Rudi??" Nihaya segera mengelap tangannya yang basah dengan handuk. Rudi tersenyum ketika mata Nihaya tampak tertuju pada dirinya.


"Ini untukmu Niha!" Rudi menyerahkan bunga dan bungkusannya. Pipi Nihaya memerah, senyum haru tersipu terkulum di bibirnya.


"Siapa tamunya Niha?" seorang wanita setengah baya mirip Nihaya keluar dari dalam kamar. " Mari, silahkan masuk Kang!" Ibu Nihaya mempersilahkan mereka masuk.


Mereka bertiga duduk.


"Darimana Rudi?" tanya Nihaya

__ADS_1


"Dari rumah Nurmala dulu terus kesini!" Rudi menjawabnya dengan sedikit gugup


"Mengantarkan uang ya Rud, waaah manis sekali kisah cinta mereka, semoga bisa cepat menikah!" Nihaya tersenyum dengan pipi memerah.


"Kita juga bisa seperti mereka kok Niha!" kata Rudi tersipu.


"Bisa apa?"


"Bisa menikah! Aku kesini dalam rangka meminta restu orang tuamu Niha, apakah kamu setuju?" Rudi tampak serius, ekspresi Nihaya masih penuh tanda tanya. Selama dekat dengannya Rudi tak pernah berbicara tentang hubungan serius meskipun memiliki rasa suka, kata-kata Rudi kali membuat Nurmala tak percaya.


"Kamu serius Rud?"


"Aku dua rius Nihaya, dimana ibumu tadi Niha kok nggak keluar lagi?"


"Ibuk masih menyiapkan minuman" Papar Nihaya, kemudian ibunya muncul dari ruang belakang dengan empat cangkir teh dan satu piring singkong goreng. Nihaya membantu ibunya menyajikan di depan tamu.


"Bapak kemana Buk?" tanya Nihaya, tanpa dipanggil tiba-tiba bapaknya muncul dari ruang belakang, bersalaman dengan tamunya, kemudian ikut duduk menjamu tamu dengan berbincang dan berkenalan satu sama lain.


Rudi menyenggol tangan Aldi untuk berbicara tujuan mereka, tapi Aldi menyenggol lengan Rizal agar menjadi punggawa. Mereka saling pandang memberi kode, akhirnya Rizal angkat suara.


"Ehem, begini Pak, maksud kedatangan kami kesini....jika diizinkan, kami meminta Nihaya untuk teman saya Rudi Pak?!" kata Rizal sambil menunjuk ke arah Rudi yang tertunduk menunggu jawaban.


"Eee, ternyata anakmu sudah ada yang mau Pak!" cletuk ibu Nihaya.


"Emmm, sebentar saya tanya anak saya dulu Mas! Bagaimana Neng, apakah kamu mau menikah dengan Kang Rudi? Bapak Nihaya meminta persetujuan. Nihaya tersipu dengan pertanyaan bapaknya sambil melirik ke arah Rudi. Semua menunggu jawabannya.


Tanpa kata Nihaya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"YESS!!" keluar dari mulut Rudi dengan tangan mengepal, yang berakibat sodokan dari siku Aldi, memperingatkan agar Rudi tidak berekspresi berlebihan di depan orang tua Nihaya.


"Alhamdulillah!" kata Aldi dan Rizal diikuti Rudi. Mereka sangat lega karena orang tua Nihaya lebih demokratis dibandingkan ibu Nurmala.


"Mari, silahkan singkong gorengnya Kang!" pinta ibu Nihaya.

__ADS_1


Perbincangan ringan mereka lanjutkan, kemudian mereka diminta untuk ke ruang makan dengan sajian sederhana rumah Nihaya.


__ADS_2