Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Masa Lalu Aldi (4)


__ADS_3

Keesokan harinya aku kembali menengok Anisa sedang duduk santai di kursi, tapi wajahnya masih terlihat pucat, tapi sudah bisa tersenyum saat melihat aku datang.


"Kamu nggak sekolah Al?" tanyanya saat aku masuk dan melihatku masih berseragam.


"Sekolah, tapi pulang lebih pagi, guru sedang ada rapat di kantor kecamatan" jawabku sambil mengambil duduk di kursi sebelah Anisa.


"Bagaimana kondisimu, sudah sehat?" tanyaku kemudian.


"Alhamdulillah sudah enakan!"


"Kok sepi, kemana Ibuk?"


"Ibuk sudah berangkat kerja, Sony masih belum bangun!" ucap Anisa. Aku diam menyimak sambil berfikir heran kepada ibu Anisa yang masih kuat bersama laki-laki dan anaknya yang tidak punya rasa tanggung jawab. Karena Cinta? Kadang itu hanya alasan konyol segelintir orang yang tidak mau ada perubahan.


"Al!!"


"Ehh...iya!" aku dikagetkan panggilan Anisa.


"Melamun?" Tanya Anisa, aku hanya bisa tertawa karena memang sedang melamun.


"Aku pulang dulu Anisa, kamu kan sudah sehat!" aku pamit sambil ingin melangkah pergi.


Krieet..


"Hey kamu Al, jenguk anakmu ya?!" Sony keluar dari kamar dengan rambutnya yang masih acak-acakan. Ingin rasanya membuat mulutnya jontor karena mengejekku, tapi tak ada gunanya meladeni orang tidak waras seperti dia. Aku pun bergegas keluar dan mengayuh cepat sepeda menuju rumah Pak Sardi.


Waktu terus berjalan, Aku selalu mengantarkan Anisa kontrol ke bidan, memastikan ibu dan bayinya dalam kondisi sehat. Aku menempatkan diri tetap sebagai sahabat bagi Anisa, meski kadang hasrat cinta muncul dalam diriku, tapi saat melihat perut buncitnya, perasaan benci, muak dan dendam merasuki jiwaku. Aku kayuh sepeda sejauh-jauhnya hingga serasa putus urat nafasku, kemudian pulang dengan hati yang lebih tenang.


Waktu kelahiran semakin dekat, setiap malam aku meminta kepada Tuhan untuk memberikan keadilan itu untukku, menunjukkan siapa sebenarnya ayah dalam kandungan Anisa. Satu minggu sebelum tanggal perkiraan kelahiran, hampir setiap hari aku datang ke rumah Anisa, menunggu kelahiran dengan perasaan berdebar. Waktu seperti berjalan sangat lambat.


"Hari ini kamu tidur di sini saja Al!" pinta ibu Anisa, hari itu tanggalnya.


Sejak sore hatiku sangat gelisah, hingga mendekati tengah malam mataku tetap tak bisa terpejam, tapi aku belum melihat tanda apa-apa karena Anisa sedang tertidur pulas. Sesekali terbangun untuk ke kamar mandi.


Pukul dua belas aku melihat Anisa terbangun, memegangi pinggangnya berjalan ke kamar mandi. Sesaat kemudian aku mendengar gemericik air yang dia gunakan.

__ADS_1


"Ibuk...ibuk...Aldi!" Anisa berteriak dari kamar mandi. Aku bergegas menghampirinya, Ibuk juga ikut datang.


"Ada cairan yang keluar!" keluh Anisa, aku hanya bingung tak mengerti.


"Itu air ketuban, Al cepat bawa Anisa ke bidan!"


"Sekarang? apa masih buka?" tanyaku bingung, Anisa meringis kesakitan.


"Buka 24 jam!" Bentak ibu panik. Aku menggendong Anisa, menaikkan ke atas motor, secepatnya melaju menuju tempat bidan.


"Uuuh...sakiiit Al, cepaat!" teriak Anisa sambil memukul keras bagian tubuhku. Untungnya jarak bidan hanya dua kilometer dari rumah, dalam 10 menit aku bisa menurunkan Anisa di ranjang bersalin bidan.


Aku memilih duduk di luar, bidan segera menanganinya katanya ketubannya sudah pecah dan keluar sebagian. Ibu Anisa datang kemudian dengan peralatan bayi.


Suara teriakan Anisa dapat aku dengar dari luar kamar, perutku ikut mulas, akhirnya aku memilih untuk keluar mencari warung yang masih buka untuk memesan secangkir kopi.


Dua jam kemudian aku kembali. Suara Anisa sudah tidak lagi terdengar. Aku melongok ke kamar bersalin, pintunya masih tertutup rapat. Aku duduk kembali di ruang tunggu.


Tak lama aku duduk, ibu Anisa keluar dengan bayi dalam dekapan, tapi raut wajahnya tampak tidak bahagia.


Di satu sisi aku sangat gembira karena bayi itu tidak mirip denganku, sehingga aku bisa terbebas dari tuduhan, tapi yang membuat aku sedih adalah miripnya bibir dan hidung itu dengan Sony saudara tiri Anisa.


"Aaaghk!! dasar bajingan!!" aku tinju tembok, darahku seperti mendidih naik ke kepala. Ibu Anisa menangis tertunduk penuh penyesalan.


Tanpa menunggu hari terang, aku tekan gas sekuatnya agar motor bisa sampai ke rumah Anisa secepat kilat.


Braakk.. braakk.. braakk. "Sony, keluar kamu!" Aku gedor pintu dan berteriak memanggil Sony agar keluar. Tapi tak ada respon. Aku buka pintu ternyata tidak terkunci, aku dobrak pintu kamar Sony, ternyata dia sudah tidak di tempatnya.


"Dasar Pengecut!!!" umpatku, aku menduga dia melarikan diri sebelum ketahuan. Aku bergegas kembali ke motor, melaju kencang mencari jejak Sony.


Suasana masih sangat sepi, hanya ada beberapa orang lalu lalang sepeda yang pulang pergi dari pasar. Aku tak tahu kemana harus mencarinya. Aku tidak tahu rumah teman-teman Sony, akhirnya aku berhenti di pangkalan bersama beberapa orang tukang ojek.


Dari mereka aku tahu dimana saja Sony tidur saat dia tidak pulang. Aku mulai mendatangi tempat-tempat itu, tapi tak satupun dari mereka tentang keberadaan Sony.


Matahari sudah meninggi, rasa lapar, kantuk tak tertahankan, lelah mendera seluruh tubuh dan jiwaku. Dengan rasa putus aku kembali ke rumah Anisa, dia baru saja datang dibonceng ibunya.

__ADS_1


Aku membantunya masuk kamar.


"Mengapa kamu tidak bilang jika yang melakukannya si bajingan Sony Anisa?!" Umpatku dengan kesal, tapi Anisa hanya membisu, air matanya menetes perlahan.


"Apakah kamu diancam?" Anisa mengangguk.


"Bukan hanya Sony, tapi juga ayahnya!"


"Jadi Robert tahu kalau Sony yang melakukannya, tapi dia masih memintaku bertanggung jawab? Mengapa kau sembunyikan semua ini Anisa? Sungguh kau sangat kejam dan tega!, apa sebenarnya yang kau inginkan Haaah?!!"


"Hiks..hiks... maafkan aku Al, karena sebenarnya aku sangat mencintaimu, dan takut kehilangan dirimu!" Anisa mengatakan semuanya sambil terisak.


"Kamu egois Anisa! benar-benar egois! Kau hancurkan masa depanku, pendidikanku, semuanya!!"


"Maafkan Aku Al!"


"Aaaghk!!"


BRAAKK...Aku tendang pintu sekuatnya.


"Oeek... oeek... oeek" bayi itu menangis karena mendengar kerasnya pintu yang aku tendang. Anisa diam terpaku, dia tak peduli dengan tangisan bayi itu. Aku bergegas keluar, saat itulah Sony datang bersama ayahnya.


Tanpa basa-basi aku hajar Sony membabi buta, dia membalas, pukulannya yang mengenai tubuhku membuat darahku semakin mendidih.


Robert mencegahku, mengingat kesalahan yang dia perbuat aku menjadi sangat kesal, aku juga menghajarnya habis habisan. Mereka berdua terkapar tak bisa bangkit, aku pun juga bonyok di beberapa tempat, tapi masih bisa pulang mengendarai motor.


Aku tak peduli semua tetangga menonton kepergianku dengan persepsi mereka, tak penting lagi pandangan orang, yang ku tahu dendamku bisa terbalaskan.


Dua hari aku tidak keluar rumah, remuk badanku, hancur hatiku. Tapi aku tak bisa lagi duduk tenang dalam kamar karena Bapak memanggiku untuk segera keluar.


"Ada polisi datang Al!" kata Bapakku dengan tatapan mata takut dan iba.


Aku pun menemui mereka di ruang tamu. Dua orang polisi sudah duduk menunggu.


"Saya membawa surat tugas dari kantor untuk menangkap saudara atas tuduhan penganiayaan!" kata salah satu polisi sambil menunjukkan suratnya.

__ADS_1


Aku baca surat itu, pelapornya Robert.


__ADS_2