
Aldi dan Nurmala meninggalkan ruang pemeriksaan setelah tes darah. Mereka kembali menuju ke ruangan Rasya.
"Assalamualaikum!" sapa Aldi saat masuk ruangan, ada seorang wanita muda berpakaian modis tampak bersama Rasya.
Wanita itu menyalami Aldi dan Nurmala.
"Fitria, saya adik Mas Rasya" ucapnya saat sambil bersalaman. Nurmala tersenyum lega, karena akhirnya ada keluarga Rasya yang datang, malam itu dia tidak harus menginap lagi di rumah sakit.
"Ibu Nurmala?" seorang perawat memanggil. Nurmala mendekat. "Darah anda yang cocok dengan Bapak Rasya, mari ikut saya!"
"Suster!" Aldi menghentikan langkah mereka berdua. "Adik Mas Rasya sudah datang, mungkin darahnya cocok, istri saya sering pusing-pusing, kasihan!"
"Oh ya!" suster itu masuk ke ruang Rasya menemui Fitria.
"Mbak Fitria golongan darahnya apa?" tanya suster.
"A suster, Mas Rasya B!" jawab Fitria, Aldi yang mendengar golongan darah Fitria merasa kecewa, karena dia berharap darah istrinya tidak mengalir di tubuh seorang Pria. Tapi apa boleh buat, untuk sementara dia harus membuang rasa cemburunya.
Akhirnya Nurmala berjalan mengikuti perawat ke ruang donor darah, Aldi memandang kepergian istrinya. "Ikhlaslah Al!" batinnya.
Batin Rasya tersenyum bahagia, darah Nurmala akan mengalir dalam tubuhnya.
"Mbak Fitria datang sendiri saja?" tanya Aldi.
"Iya, Istri mas Rasya sedang ada urusan penting di luar negeri, jadi dia telepon aku untuk kemari" Fitria berusaha menutupi keretakan keluarga Kakaknya. Pada kenyataannya istri Rasya sudah tak ingin lagi bersama dan pulang ke rumah orang tuanya.
Beberapa saat berbincang, Aldi pamit keluar untuk melihat Nurmala. Aldi berjalan cepat di koridor, dari kejauhan tampak dua orang laki-laki dan perempuan yang sangat dia kenal, Aldi memilih untuk menghindar. Mereka adalah orang tua Anisa, Aldi tak ingin mendapatkan banyak pertanyaan.
"Syukurlah keluarga Anisa sudah datang!" gumam Aldi.
Aldi kembali berjalan ke tempat Nurmala.
Tok..tok..tok, "Masuk!" suara perawat dari dalam ruangan, Aldi melihat Nurmala masih dengan selang di tangannya.
"Bagaimana rasanya Nur, sakit?" tanya Aldi
"Biasa saja Kang, tidak sakit kok!"
"Setelah ini kita pulang!" ucap Aldi.
"Kita tidak menunggu operasi Rasya?"
"Kan sudah ada Fitria?!"
__ADS_1
"Tapi dia sendirian Kang!" Aldi terdiam mendengar alasan Nurmala. Dalam hati dia tidak ingin terlalu lama berada di rumah sakit, pekerjaan di rumah sudah menunggunya.
"Ya sudah, setelah operasi baru kita pulang!" Aldi memberi keputusan.
"Permisi Pak, donor sudah cukup!" kata perawat. Selang dilepaskan dari tangan Nurmala.
"Minum ini Mbak, supaya cepat pulih!" perawat memberi tablet penambah darah dan beberapa buah-buahan.
"Pusing?" tanya perawat saat Nurmala bangkit dari tidurnya. Nurmala menggeleng. Aldi mengambil air mineral dari meja, kemudian membukanya untuk Nurmala.
"Kita pamit yuk!" Aldi mengajak Nurmala pulang.
Mereka berdua berjalan beriringan di koridor rumah sakit menuju kamar Rasya.
"Aldi?!" seseorang memanggilnya dari arah belakang, Aldi dan Nurmala berbalik.
Deg
Jantung Aldi berdetak kencang, seseorang yang dia hindari kini memanggilnya untuk datang. Ibu Anisa mendekat menemui Aldi dan Nurmala. Merekapun bersalaman.
"Ini istri kamu Al? cantik!" ucap ibu Anisa. Aldi hanya bisa tersenyum simpul. Nurmala tersipu di samping suaminya.
"Perban Anisa sudah dibuka Al, dia bilang kamu datang menjenguknya, terima kasih ya. Jika tidak ada Kamu, mungkin kami tidak tahu jika Anisa kecelakaan dan dirawat di sini!" Ucapan ibu Anisa membuat hati Aldi berdesir, sesuatu yang ingin dia rahasiakan kini terbongkar di depan mata.
"Jadi, Anisa kecelakaan dan dirawat di sini? Akang kok nggak cerita?"
"Permisi Buk, Kami ada urusan lain, teman saya akan operasi pagi ini!" Aldi pamit ibu Anisa.
"Oh ya silahkan, sekali lagi terima kasih Al!"
Tanpa menjawab ucapan ibu Anisa, Aldi menarik tangan Nurmala meninggalkan koridor menuju ruangan Rasya.
"Kang, jangan tarik tanganku, sakit!" keluh Nurmala saat Aldi menggenggam dan menariknya sambil berjalan cepat.
"Mengapa Akang nggak cerita kalau Anisa di sini sih, Akang ingin menyembunyikan sesuatu dariku?! Untuk apa Kang?!" Nurmala memberondong Aldi dengan pertanyaan.
"Nanti saja aku ceritakan di rumah Nur, waktunya tidak tepat!" Nurmala terdiam mendengar nada tinggi suaminya, dia mencoba untuk mengerti situasi ramai di sekelilingnya, tidak etis rasanya jika membuat pertengkaran dan kegaduhan di rumah sakit.
Sesampainya di ruangan Rasya.
Dua orang perawat sudah mendorong tubuh Rasya berpakaian operasi.
"Sebentar Suster!" Rasya menghentikan perawat.
__ADS_1
"Nurmala!" panggil Rasya. Nurmala mendekat.
"Terima kasih Nur, darahmu akan mengalir bersama dengan darahku!" ucap Rasya. Nurmala tersenyum sambil mengangguk pelan. Aldi meremas jemarinya, perasaan cemburu menyelinap begitu saja dalam batinnya.
"Mari Pak, dokter sudah menunggu!" perawat kembali mendorong dipan Rasya menuju ruang operasi. Beberapa saat kemudian lampu ruang operasi menyala merah.
"Ayo kita pulang sekarang Nur!" pinta Aldi.
"Kita menunggu selesai operasi Rasya dulu Kang!?"
"Nggak usah, kita pulang sekarang!" Kata Aldi dengan wajahnya yang memerah, aura cemburu dan kekesalan tampak jelas dari wajahnya.
"Pulanglah Mbak, aku nggak apa-apa di sini sendirian!' Fitria merasa tidak nyaman dengan sikap Aldi.
"Baiklah, jika ada apa-apa kabari kami Fitria!" pinta Nurmala, Fitria tersenyum dan mengangguk setuju dengan permintaan Nurmala. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil.
Sepanjang perjalanan mereka tampak kurang rileks dengan perasaan masing-masing.
"Sejak kapan Anisa dirawat?" Nurmala membuka pembicaraan.
"Baru kemarin siang , eh sore!"
"Kemarin sore?? Akang menyimpan kabar itu sendirian dan nggak mau cerita!? Apakah ketika aku menunggu lama Kang Aldi nggak kunjung datang itu karena Akang bersama Anisa?" Nurmala memberondong pertanyaan dengan emosinya.
Aldi memilih diam.
"Kang, jawab! Apakah saat itu Akang bersama Anisa?" Nurmala mengulangi pertanyaannya.
"Iya, aku menjenguknya, kasihan dia sendirian dengan kondisi luka parah di bagian wajah dan kepala" jawab Aldi dengan intonasi rendah.
"Hemmh, mengapa Akang tidak bilang dari awal, aku tidak ada masalah dengan Anisa, tapi kebohongan Akang membuatku kecewa!" Nurmala mendengus kesal, Aldi terdiam dengan perasaan bersalah.
Mobil Aldi terus melaju, Nurmala memilih diam sambil meredam emosi bergejolak dalam jiwanya. Dia tidak mengerti mengapa suaminya menyembunyikan hubungannya dengan Anisa.
"Ada apa sebenarnya di masa lalu mereka berdua, benarkah hanya sekedar mantan biasa atau lebih dari itu?" Jika mantan biasa, mengapa Aldi sangat ingin menghindarinya?" batin Nurmala.
Mobil berbelok di halaman rumah, tampak beberapa karyawan Aldi sudah bekerja. Mereka berdua turun tanpa kata. Aldi bergegas ke ruang produksi mengontrol pekerjaan, sedangkan Nurmala menuju kamar memilih tidur dan mengunci kamarnya.
Satu jam berlalu Aldi bersama karyawan, dia masuk kamar tapi terkunci rapat.
Tok..tok..tok! "Nurmala, buka pintunya Nur aku mau ganti baju, gerah nih!"
Tok..tok..tok, Aldi kembali mengetuk pintu kamar, tapi tak terdengar suara atau tanda-tanda pintu terbuka.
__ADS_1