
Mereka berdua terdiam saat semua makanan telah habis. Aldi kembali menyeruput minumannya yang tinggal beberapa tetes.
SROOOT SROOOT
Nurmala mengeluarkan ponselnya.
"Selamat malam Nur?" sebuah pesan dari Rasya, tapi Nurmala tak ingin membalasnya. Dia masukkan kembali ponsel ke dalam tas, Nurmala melirik Aldi yang masih canggung memulai cerita.
"Anisa masuk kelas SMA Akang sebagai anak pindahan?" Nurmala membuka cerita agar Aldi melanjutkan kisah masa lalunya. Aldi mengangguk.
FLASH BACK ON.....
Seorang gadis setinggi 160 cm berambut ikal dengan rok selutut, masuk bersama Kepala Sekolah ke kelasku II Bio.
"Anak-anak kenalkan, ini teman baru kalian, kenalkan dirimu Nak!" pinta guru.
Gadis itu berdiri terpaku menunduk ke lantai, suara riuh bersorak dari teman-teman, terutama dari teman cowok. Gadis itu semakin grogi.
"Hey, dengarkan dia kawan!" teriakku lantang, gadis itu mendongak mencari arah suaraku.
"Namaku Anisa Triana Sari, panggil saja Anisa!" ucapnya seakan memperkenalkan diri padaku. Tepuk tangan terdengar riuh saat mereka bisa mendengar suara Anisa yang lembut. Guru meminta Anisa duduk, dia mendapatkan duduk tepat berada di depanku, bersama Dewi. Sebelum duduk dia mengangguk dengan senyuman dan berkata "Terima kasih!"
Aku membalas anggukannya, dia gadis yang tidak jelek bahkan sangat cantik, tapi cenderung pendiam, dari sorot matanya seperti ada sebuah duka yang dia sembunyikan. Untuk pertama kalinya aku merasa berdebar bertatapan dengan seorang gadis.
Saat istirahat tiba, dia memilih untuk tidak keluar kelas meskipun Dewi mengajaknya.
"Kamu tidak ikut keluar Anisa?" tanyaku saat ingin keluar bersama Kosim.
Dia menggeleng "Aku di sini saja, banyak pelajaran yang harus aku kejar!" ucapnya sambil membuka-buka buku. Kami pun membiarkan Anisa belajar, hingga bel sekolah masuk dia masih duduk di sana, menulis dan menatap baris demi baris huruf-huruf yang tersusun.
Dua hari dia melakukan hal yang sama, saat istirahat dia duduk dan menulis, hari ke-tiga saat aku dan Kosim masuk dalam kelas, Anisa di kelilingi tiga orang anak laki-laki.
__ADS_1
"Anak baru rajin amat!" Joni, Boy dan Panjul duduk mengelilingi Anisa sambil tertawa-tawa menggoda. Trio Bengal sekolah Kami.
"Anisa, kamu dipanggil Dewi!" panggilku di depan pintu agar dia bisa pergi dari Tiga begundal itu, Anisa berdiri, tapi Joni menariknya untuk duduk kembali.
"Di sini saja cantik!" Anisa tampak tak berdaya.
"Boy, biarkan dia pergi!" pintaku
"Siapa kamu? pacarnya? Wa ha..ha..ha!" dua orang temannya ikut tertawa senang. Aku berlari dari arah pintu, mengepalkan tanganku ke mulut Boy yang masih terbahak.
Joni dan Panjul menyerangku, terjadilah perkelahian di dalam kelas, tiga begundal itu mengeroyokku, untunglah Kosim dan teman-teman lain melerai. Tapi mukaku sudah terkena tiga kepalan tinju mereka. Anisa menangis ketakutan.
Kami berlima dipanggil guru BP, Trio Bengal mendapatkan hukuman membersihkan kamar mandi siswa dan guru selama seminggu, sedangkan aku hanya diminta membuat pernyataan 'tidak akan mengulangi lagi' sebanyak seratus kata.
Sejak peristiwa itu aku dan Anisa menjadi dekat. Suatu pagi saat berangkat ke sekolah aku mampir di rumah untuk menjemputnya. Aku mendengar pertengkaran antara ibu dan ayah Anisa, dia keluar dengan mata sembab dan luka membiru di bagian pelipisnya.
"Mengapa pelipismu Anisa?" tanyaku padanya, tapi dia tak mau berterus terang.
"Nggak ada apa-apa, hanya terbentur pintu kamar mandi, berangkat yuk!" ucapnya sambil menggeraikan rambut hingga menutupi luka.
Aku kayuh cepat sepedaku, jalanan tak rata membuat Anisa harus berpegangan erat di bawah sadelku. Nafasku yang memburu saat jalanan menanjak seperti menjadi sebuah tantangan meningkatkan adrenalinku, aku semakin berusaha untuk sampai ke atas.
"Capek Al?" tanyanya saat aku hampir saja tak kuat mengayuh.
"Santai saja, masih kuat!" jawabku bersemangat.
Setelah melewati dua pertigaan, tiga tanjakan, dua pasar, sampailah kami di sekolah. Bajuku basah oleh keringat, tapi aku tak mengerti, semangatku menjadi dua kali lipat untuk belajar.
Tak terasa bel istirahat sudah berbunyi,
"Ke kantin Al?!" ajak Kosim.
__ADS_1
"Kamu duluan Sim!" pintaku saat itu, karena aku ingin mengajak Anisa.
"Ayo Anisa ke kantin?!" pintaku, tapi Anisa menolak, dan memintaku pergi.
"Ayolah Anisa, aku ingin mentraktir kamu sekali ini saja, mau kan?" bujukku, akhirnya dia mau pergi. Beberapa lama berselang, aku baru tahu kalau dia tidak pernah ingin pergi ke kantin karena memang tidak diberi uang jajan.
Dia tampak senang, karena tempat itu ramai dengan semua siswa dari berbagai kelas. Dia menikmati es teh dan gorengan yang aku pesankan. "Tadi aku ajak bareng nggak mau, rupanya ingin jalan bareng pacar ya?" cletuk salah seorang teman cewek di kelasku. Anisa hanya bisa tersenyum simpul.
"Pacar?" tiba-tiba pertanyaan muncul dalam benakku, "Apakah mereka berfikir aku berpacaran dengan Anisa, pacaran saja aku nggak ngerti!" gumamku pada Kosim yang duduk di sampingku.
"Apakah kau ingin bersamanya selalu?" bisik Kosim.
"Emmm, sepertinya iya sih!" jawabku sambil berbisik.
"Ya itulah pacaran!" bisik Kosim mendekatkan mulutnya ke telingaku. Aku terdiam mencerna ucapan Kosim. Bel masuk sekolah berbunyi, Kami bergegas kembali ke kelas. Entah siapa yang menyebarkan gosip, saat masuk kelas suara riuh teman-teman mengucapkan selamat, menurut mereka aku memiliki pacar adalah sebuah pencapaian hebat, karena selama ini aku dikenal sebagai cowok pendiam.
Anisa tengak-tengok tak mengerti, dia bertanya padaku dengan bahasa isyarat, aku jawab dengan gelengan kepala tanda tak mengerti. Tapi diam-diam perasaan hatiku senang dengan tuduhan mereka terhadapku.
"Memiliki pacar, memiliki kekasih, perasaan senang apa ini, aku tak mengerti!" gejolak batinku gelisah, senyum Anisa selalu terbayang di benakku.
Saat bersama, diam-diam aku tatap wajahnya, meski kadang aku harus menyembunyikan rasa malu saat terpergok memperhatikannya.
Suatu hari aku melihat ada rombongan pasar malam sedang bersiap di alun-alun. Dalam hati aku ingin mengajak mengunjunginya. Aku berjanji akan menjemputnya saat malam minggu.
Tok..tok..tok.."Anisa!" aku memanggil, pintu pun terbuka, tapi bukan Anisa yang keluar, melainkan seorang pemuda sebayaku.
"Anisa tak boleh keluar!" ucapnya di depan pintu. Tapi Anisa muncul dari pintu samping.
"Ayo Al!" teriaknya mengajakku pergi, pemuda itu mendengus kesal.
"Siapa dia Anisa? Aku belum pernah melihatnya!" tanyaku sambil berjalan menuju alun-alun.
__ADS_1
"Dia kakak tiriku, anak ayahku!" Kata Anisa, kemudian dia menceritakan bahwa ayah kandungnya telah meninggal dunia sejak duduk di kelas 1 SMP. Tiga tahun kemudian ibunya menikah lagi dengan duda beranak satu.
Semula mereka tinggal di Surabaya, karena sebuah kebangkrutan akhirnya mereka kembali ke desa, di rumah induk yang sudah ditinggalkan kedua orang tua ibunya.