
Mega merah sudah tak tampak lagi di ufuk barat ketika Aldi dan Nurmala datang ke klinik dokter Fahri.
"Bapak Aldi, silahkan masuk!" panggil resepsionis. Mereka berdua masuk
"Bagaimana kabar Anda Mas Aldi dan Mbak Nurmala, sehat ya hari ini? sapa Dokter Fahri.
"Alhamdulillah Dokter, kami sehat wal afiat. Ini hasil pemeriksaan dari Dokter Andrologi Dok!" Aldi menyerahkan amplop, dokter Fahri mulai mengenakan kacamata bacanya.
Dokter setengah baya itu dengan teliti mengamati keterangan hasil pemeriksaan Aldi sambil sesekali mengangguk.
"Emm, ya dari pemeriksaan ini sangat jelas kalau benih Anda kurang berkualitas Mas Aldi" kata dokter Fahri.
"Maksudnya Dokter?" Aldi heran bercampur terkejut.
"Dari hasil pemeriksaan laboratorium, jumlah cairan yang Anda keluarkan kurang banyak dari seharusnya, dan hanya dua puluh lima persen saja yang bergerak aktif, sisanya pasif untuk berjuang menemukan indung telur" papar dokter Fahri.
Melihat ekspresi dua orang di depannya, Dokter Fahri bisa menebak kalau mereka berdua belum paham seratus persen. Kemudian Dokter memutar sebuah video. Dari sinilah mereka baru benar-benar mengerti.
"Apakah ini bisa disembuhkan Dokter?" tanya Aldi kemudian.
"Bisa, kemungkinan ini hanya disebabkan oleh kecapekan, setres dan kurangnya makanan bergizi saja. Nanti saya kasih resep obat untuk memperbaiki kualitas benih Anda Mas Aldi, satu Minggu lagi kita cek hasilnya"
"Periksa di sini saja ya Dok, isinya saja kan? biarkan saya keluarkan sendiri dari rumah bersama istri, dokter tidak perlu menunggu!" kata Aldi bersemangat.
"Hehe, perjalanan anda ke tempat ini butuh waktu hampir satu jam Mas, keburu mati bibitnya, bagaimana kami bisa menilai kualitasnya?!" Dokter Fahri tersenyum geli. Aldi terdiam, tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Bagaimana Mas Aldi, Anda siap bukan?" Tanya Dokter Fahri, Aldi menjawabnya dengan kata siap. Mereka pun kembali pulang.
Nurmala harus telaten mengingatkan dan mengajak Aldi untuk meminum obatnya, jika tidak, maka suaminya itu akan lupa. Satu Minggu berlalu, Aldi sudah melakukan apa yang disarankan dokter. Pemeriksaan kembali di lakukan.
"Cukup banyak perkembangan, 75% aktif! selamat Mas Aldi! Jaga kondisi tubuh agar tetap bugar, jangan sampai kelelahan saat ingin kualitas bibit anda sempurna" Ucap dokter, Aldi dan Nurmala tersenyum lega.
"Apakah saya bisa memiliki anak Dokter?" tanya Aldi bersemangat.
"Sabar Mas, bukan Saya yang memberi anak. Kami hanya berusaha membantu, ada tahapan berikutnya yang harus Mas dan Mbak Nurmala jalani, yaitu tes pembuahan. Bibit Anda yang masuk, apakah bisa sampai ke indung telur atau tidak. Lakukan hubungan di pagi hari di masa subur, setelah itu langsung datang ke tempat ini!"
"Masa subur?" Nurmala bingung.
"Emm, satu Minggu setelah datang bulan!" papar Dokter.
"Oh ya, saya mengerti!" kata Nurmala. Setelah mendengar beberapa penjelasan, Aldi dan Nurmala pamit pulang. Dijadwalkan tiga Minggu lagi mereka harus kembali ke dokter.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
"Huuh, capek aku Nur, bosan rasanya bolak-balik ke dokter!" keluh Aldi sesampainya di rumah.
"Ya bagaimana lagi Kang, prosesnya bertahap!" Nurmala menguatkan. Aldi tersenyum mendengar kata-kata istrinya.
"Baiklah sayang, kita akan terus berjuang!" ucap Aldi sambil merangkul pundak Nurmala.
Dua Minggu berlalu.
"Aku kok belum dapet ya Kang?"
"Dapet apa?"
"Iiih Akang! maksudnya sudah satu Minggu aku belum menstruasi!" ucap Nurmala bersama cubitannya.
"Ow..ow..ow! jangan-jangan kamu hamil Nur!' kata Aldi bersemangat.
"Apa Iyya??" Nurmala kaget sekaligus bersemangat.
"Kita tunggu dulu deh Kang, aku takut kecewa!" Nurmala harap-harap cemas, juga ada rasa takut kembali gagal.
Satu hari, dua hari mereka menunggu. Tiga kali sehari Aldi menelepon ke toko untuk bertanya.
"Kamu sudah dapet nggak Nur?" ucapnya lewat telepon.
"Kita mampir ke bidan!" kata Aldi saat menjemput Nurmala.
"Untuk apa?"
"Periksa Nur, memastikan kalau kamu hamil!" ucap Aldi saat berada diatas motor.
"Periksanya pagi Kang, bukan sore hari begini" papar Nurmala. Aldi terdiam dengan rasa tak sabar.
Aldi menyerah, motornya terus melaju melewati sejuknya angin sepoi-sepoi kota Bandung ikut mengantarkan mereka kembali ke rumah.
"Aku mandi duluan ya, perutku mulas!" ucap Nurmala saat masuk rumah, dia bergegas lari ke kamar mandi. Aldi memarkir motornya,
"Kaaaang, hu..uuu!" teriak Nurmala dari dalam kamar mandi. Aldi segera mendekat.
Tok..tok.. tok "Ada apa Nur?!" Aldi mengetuk dan memanggil Nurmala
"Hu..hu..uuuu!" suara tangis Nurmala.
"Nur, ada apa?! Buka pintunya!"
__ADS_1
KLEK
"Aku menstruasi Kang, Huhuhu., kamu nggak jadi punya anak!" ucap Nurmala sambil menangis tersedu di dada Aldi.
"Hemmmh kirain ada apa Nur, sudahlah! nggak apa-apa sayang, masih banyak kesempatan! Dokter Fahri masih siap membantu kita kan?!" kata Aldi menguatkan, tangannya mengelus punggung Nurmala yang masih terisak di dadanya.
"Kamu jadi mandi tidak? ayo mandi sana, keburu asharnya habis" pelan-pelan Nurmala melepas pelukannya, sambil menghapus air mata dia masuk kembali ke kamar mandi.
Usai sholat Maghrib mereka duduk santai di ruang tengah. Aldi membaca buku, Nurmala bermain ponselnya.
"Assalamualaikum Buk!" Nurmala menelepon Bu Samira, dia menceritakan kalau sore tadi ternyata dia datang bulan.
"Terus kapan ibu punya cucu Nur? Mpok Naya sudah 2, Mang Kodir mau 3, lha ibuk satu saja nggak jadi! Kamu mungkin terlalu lelah Nur, orang hamil itu nggak boleh banyak tingkah!" omel Bu Samira, Nurmala hanya bisa menelan ludah dan menebalkan kupingnya.
"Minta doanya Buk, semoga program kami berhasil" ucap Nurmala kemudian.
"Program apa itu, pulang nanti aku antar kamu pijit di Mpok Leha, biar dibenerin posisi perut kamu itu!"
"Baik Ibuk, Assalamualaikum!" Nurmala mengakhiri pembicaraan dengan ibunya.
"Hemmmh!" Desah berat Nurmala.
"Kenapa? Ibuk ngomel-ngomel lagi ya?" tanya Aldi yang duduk di depan Nurmala.
"Ya begitulah Kang, aku cerita pinginnya dapet dukungan, malah diomelin!" keluh Nurmala.
"Mengomel itu tandanya Ibuk masih sehat, kalau berhenti mengomel malah dipertanyakan Nur. Hehehe...!" ucap Aldi menghibur. Nurmala bisa tersenyum karenanya.
"Kita makan di luar saja yuk!" ajak Aldi.
"Masakan aku bagaimana Kang?"
"Biarkan saja, kalau masih enak kita makan besok pagi, jika tidak ya buang saja!" ucap Aldi sambil turun dari kursinya.
"Sayang Kang, mubadzir!"
"Sekali-kali saja, memberi rezeki pada ayam kan sama saja!"
"Hemmmh, baiklah!" Nurmala mengikuti keinginan suaminya jalan-jalan cari makan sambil melupakan kekecewaan, dan omelan ibu Samira.
"Nggak pakai motor saja Kang?" tanya Nurmala saat Aldi membawa kunci mobil.
"Udaranya dingin, aku takut kamu masuk angin sayang, kamu harus tetap sehat!" ucap Aldi dengan merangkul pinggang Nurmala berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
__ADS_1