
Aldi dan Pak Sardi masih terus berbincang sementara Lila menyiapkan makan malam. Ayah banyak memberikan kritikan kadang suaranya terdengar keras memarahi Aldi, jika sudah demikian Aldi memilih untuk diam mendengarkan.
Anak dan Bapak ini dari dulu memang tidak terlalu cocok dalam hal pemikiran, Aldi lebih dekat dengan ibunya. Salah satu hal yang membuat Aldi pergi tanpa pamit adalah larangan ayahnya merantau. Aldi diminta menggarap sawahnya sedangkan dia lebih suka berbisnis.
"Makanan sudah siap Pak, mari Mas, kita makan!" pinta Lila setelah menata masakannya diatas meja makan.
Aldi membimbing ayahnya menuju ruang makan. Makanan sederhana sudah tersaji, Aldi yang merasa sangat lapar segera menyantap makanannya.
"Kapan Kamu kembali ke Bandung?" tanya Pak Sardi di sela makannya.
"Bapak, Mas Aldi kan baru datang sudah ditanya kapan pulangnya?" sanggah Lila.
"Bukan apa-apa, Aku cuma kasihan istrinya kalau harus menunggu lama" kata Pak Sardi sambil mengambil lauk yang ada di depannya. Aldi terdiam, ada rasa rindu di hatinya ketika mengingat Nurmala. Rasa hatinya ingin segera pulang, bayangan senyum Nurmala tiba-tiba melintas di benaknya. Aldi hanya terdiam menyiasati hatinya.
Malam itu Aldi tidur dalam kamar yang dulu menjadi tempatnya. Tak ada yang berubah, bahkan tempelan poster Bob Marley miliknya masih terpampang. Aldi merebahkan tubuh, rasa getir merambat di relung hatinya, tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain merelakan hancurnya harapan melihat senyum seorang ibu yang sangat mencintai dirinya.
Keesokan paginya Aldi meminta Lila mengantarkan berziarah ke makam. Melalui jalan setapak dua kakak beradik itu berjalan menuju makam sambil menenteng bunga, air kendi dan sebuah tikar kecil.
Aldi dan Lila menggelar tikar, sambil membaca doa ziarah Aldi menaburkan bunga dan menyiram pusara. Kemudian mereka duduk bersila membaca surat Yasin. Cukup lama Aldi duduk, bercakap-cakap dengan perasaannya, berharap dosa kepada ibunya bisa termaafkan. Aldi seperti tak ingin beranjak dari sisi ibunya.
"Mas, mari kita pulang, kasihan Bapak menunggu lama!" pinta Lila. Aldi tergagap teringat Bapaknya sendirian di rumah. Dia segera berdiri.
"Mak, kami pamit! Assalamualaikum ya ahli kubur" ucap Aldi sebelum meninggalkan pemakaman.
Mereka kembali berjalan.
"Mbak Aku cantik nggak Mas?" tanya Lila, membuat Aldi tersenyum mendengarnya.
"Hehe, ya cantik lah Masmu kan ganteng!"
"Yeee pede sekali! aku pingin banget ketemu Mbak, siapa namanya Mas?"
"Nurmala!"
"Emmm, nama yang cantik!" kata Lila sambil mengayunkan kendi di tangannya. Lila terus saja bertanya tentang Nurmala. Rupanya dia sangat penasaran dengan cerita Aldi yang rela mencari uang lima juta (Lima puluh juta uang sekarang) untuk ibu Nurmala.
"Seberapa menariknya dia, hingga Masku segitu tergila-gila?!" gumam Lila, Aldi tertawa mendengar celoteh adiknya.
"Cinta itu bukan hanya karena fisik Lila, kadang ada sebuah kekuatan yang tidak bisa kamu kendalikan dengan logika!" kata Aldi.
"Oh ya?? sebegitu indahnya?" cletuk Lila yang sedang duduk di kelas dua SMA. Aldi mengangguk, tersenyum sambil mengelus rambut adiknya.
__ADS_1
Mereka sampai di rumah, Aldi mencuci kaki dan tangan lalu masuk rumah menemui Bapaknya yang tengah duduk di kursi ruang tengah sambil menonton berita di TV hitam putihnya.
"Assalamualaikum!" Aldi menyapa, Pak Sardi menjawab sambil tersenyum.
"Waalikum salam, Bagaimana kabar ibumu?"
"Makamnya bersih Pak!"
"Semalam Emakmu datang!"
"Datang? Dimana Pak?" Aldi heran dengan ucapan Bapaknya, pikirannya terbayang ibunya muncul sebagai penampakan.
"Dalam mimpi, tapi itu sudah membuat rindu bapak terobati Al, Bapak bahagia!" senyum Pak Sardi mengembang, wajah mendung yang semalam Aldi lihat kini berubah ceria, beliau tampak begitu segar.
"Apa kata Emak Pak?"
"Ibumu tidak berkata apa-apa hanya memberikan sebuah cincin yang dulu menjadi hadiah ulang tahun pernikahan kami yang pertama!"
Hati aldi berdesir, karena cincin itu adalah perhiasan yang pernah Aldi curi dari Ibunya. Aldi berfikir bahwa cincin itu harus diserahkan kepada bapaknya. Aldi masuk dalam kamar mengambil ketiga cincin itu dari dalam tasnya.
"Ini cincinnya Pak!" Aldi meletakkan di atas meja.
"Kok ada tiga Al, bukankah cincin Ibumu cuma satu?"
'"Baiklah terima kasih, semoga usahamu bertambah lancar Al!"
"Amin Pak, InsyaAllah nanti sore saya balik Pak!"
"Emmm, ya! Kapan kamu akan mengenalkan istrimu pada keluarga ini?"
"Jika tidak ada halangan secepatnya akan membawa Nurmala kemari!"
Pak Sardi manggut-manggut mendengar perkataan putranya.
❤️❤️❤️❤️
Semenjak itu Nihaya yang menemani Nurmala sedikit kebingungan karena Nurmala muntah-muntah di kamar mandi, dia terhuyung keluar dari kamar mandi.
"Apakah kamu hamil ya Nur?" tanya Nihaya.
"Aku nggak tahu Niha!" jawab Nurmala lirih sambil berjalan menuju kamar.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku buatkan air hangat!" pinta Nihaya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Nurmala mengangguk. Nihaya bergegas menghangatkan air diatas kompor.
"Assalamualaikum!" suara seorang wanita terdengar mengucap salam dari depan pintu. Nihaya bergegas membukanya.
"Waalikum salam! Pakde, bude kok nggak kasih kabar-kabar dulu mau datang?" Samsudin dan Samira datang ke rumah Nurmala.
"Kemana Nurmala dan Aldi, kok Kamu yang disini Niha?" tanya Samira sambil menenteng tasnya. Samsudin membawa singkong masuk ke dapur Nurmala.
"Nurmala di kamar Bude, lagi tidak enak badan!" Kata Nihaya, yang kemudian Nurmala muncul dari balik kelambu kamar, wajahnya terlihat pucat. Nurmala duduk di ruang tamu bergabung dengan orang tuanya, Nihaya kembali ke belakang.
"Kamu muntah-muntah? kepala pusing, badanmu lemes? mungkin kamu hamil Nur!" Samira memberondong Nurmala dengan pertanyaan dengan ekspresinya yang excited.
"Nggak tahu lah buk, seminggu lalu nur baru dapet kok!" jawab Nurmala sambil memegangi kepalanya.
"Yaah, siapa tahu, periksa ke bidan Nur!" perintah Bu Samira. Nurmala hanya diam tak menjawab perkataan Ibunya, dia hanya menyandarkan tubuhnya yang lemah.
Nihaya keluar dengan empat cangkir teh.
"Lihat Nur, Nihaya sudah hamil!, sudah berapa bulan Niha?" tanya Samira.
"Enam bulan Bude!" jawabnya sambil menurunkan cangkirnya.
"Katanya Ibuk belum mau dipanggil nenek?" Cletuk Samsudin.
"Ya, iya sih cuma kalau yang lain punya cucu masak aku tidak Pak, tapi nanti aku nggak mau dipanggil Mbah, atau nenek!" kata Samira yang ditanggapi lucu oleh orang di sekitarnya.
"Hehehe, terus dipanggil siapa Bude?" Nihaya penasaran.
"Ya, bisa Emak atau Oma gitu Niha!" Samira tersenyum percaya diri, Nurmala yang tersandar di kursi tersenyum melihat tingkah ibunya yang masih kemayu.
"Kamu istirahat saja di kamar Nur, biar aku temani Bude di sini!" pinta Nihaya. Kemudian Nurmala berdiri dengan bimbingan Bapaknya menuju kamar.
"Aldi kemana Niha?" tanya Samira.
"Masih pulang ke Kediri Bude!"
"Ke Kediri? istrinya kok malah tidak diajak?" Samira heran dengan sikap Aldi. Selama ini bapak dan ibu Nurmala tak mengerti dengan masa lalu Aldi.
*********
Tolong bantu author wahai para reader dengan like dan vote ya!
__ADS_1
Terima kasih, semoga rezeki kalian lancar.