
Aldi masih menatap Rasya emosional.
"Tunggu dulu Al, dengarkan penjelasanku! Aku memang menyukai Nurmala, bahkan mencintai dan ingin memilikinya. Dan itu sejak pertama kali bertemu. Tapi Nurmala hanya menganggap aku sebagai teman dan Kakak Al, dia milikmu!"
"Jika demikian, mengapa Mas mengajak pertemuan di tempat ini?!" Aldi masih dengan cemburunya.
"Assalamualaikum Kak Rasya, wah yang lebih tua sudah datang duluan!" dua orang laki-laki dan perempuan menyapa. Rasya tersenyum menyambut uluran tangan mereka.
"Ini teman-teman group pedagang tas Al, Nurmala termasuk di dalamnya, aku menelepon tadi pagi adalah untuk kegiatan ini" ungkap Rasya. Aldi memandangi orang-orang yang mulai bermunculan dengan menelan ludahnya yang terasa pahit oleh rasa malu.
"Percayalah pada istrimu Al, dia perempuan yang setia, aku iri padamu. Jika bukan istrimu, mungkin aku sudah merebutnya dengan segala caraku. Karena Aku merasa berhutang Budi pada kalian. yah... maafkan aku jika kamu berfikir telah menganggu rumah tanggamu" kata Rasya.
Aldi tertegun, ternyata dia salah menilai ada hubungan Rasya dan Nurmala. "Lalu, siapa yang membuat dia sibuk dengan ponselnya?" tanya batin Aldi.
"Mas Rasya, ayo dimulai acaranya!" panggil salah seorang dari mereka.
"Oke Mas, maafkan aku jika sudah salah sangka, bilang pada mereka Nurmala berhalangan untuk datang!" ucap Aldi sambil bersalaman, kemudian berjalan keluar.
Aldi merasa sangat malu dengan sikapnya. Sepanjang jalan dia merutuki diri atas pemikiran sempitnya, Aldi merasa bersalah pada Nurmala.
"Assalamualaikum! beli tas Mbak!" goda Aldi di depan etalase toko.
"Waalikum salam... Iih Akang!" Nurmala tertawa melihat Aldi yang datang.
"Kok tumben datang lagi kemari?" tanya Nurmala.
"Ini untukmu istriku tersayang!" Aldi mengulurkan buket bunga mawar. Nurmala terkejut karena selama menikah, Aldi belum pernah memberikan hadiah bunga untuknya.
"Wow, ada apa ini Kang, kok tumben sekali!?" kata Nurmala saat menerima bunga dari tangan suaminya. Aldi tersenyum tipis sambil memandang mesra istrinya. Dia baru menyadari kalau dirinya memiliki banyak salah pada Nurmala.
"Maafin Akang ya Nur?" ucap Aldi
"Maaf kenapa sih Kang, hari ini aneh banget deh tingkah Akang!" Aldi clingukan tak mau mengatakan kejadian yang dia alami.
"Kaaang? Pandang Aku!" Nurmala menyentuh dagu Aldi yang tak mau memandang wajah istrinya. Nurmala mencari sesuatu yang Aldi sembunyikan dari balik pandangan matanya.
__ADS_1
"Ada apa Kang, katakan padaku!"
"Apakah semua hal harus aku katakan padamu Nur, jika itu akan membuatmu marah atau sedih?"
"Kaang, aku istrimu, Akang bilang belahan jiwamu, masak tidak boleh mengetahui segala tentang mu?" kata Nurmala sambil menggelayut kan tangan di pundak. Aldi membalasnya dengan memeluk pinggang.
"Hoy...mesra mesraan di tempat umum!" Aldi dan Nurmala terkejut dan menoleh ke arah suara, mereka tak mendengar kedatangan Rudi yang tiba-tiba sudah berada di depan etalase.
Aldi langsung melepas pelukannya begitu juga Nurmala. "Kamu Rud?" tanya Aldi.
"Iya, aku tadi ke rumahmu, karyawan bilang kamu di toko, jadi aku kemari, ee nyampek sini melihat kalian begitu, ada apa sih? seperti tak puas berbuat di rumah saja!"
"Eehhh jangan ngiri kamu Rud, inginnya itu di sini, bukan di rumah! ada apa, tumben kemari?" tanya Rudi.
"Nggak ada apa-apa sih, cuma mau curhat! Aku pingin cari kerja lain Al, anak hampir dua tapi penghasilan aku nggak ada peningkatan!"
"Nihaya hamil lagi??" Nurmala terkejut.
"Iya, telat satu bulan! padahal programku punya anak kalau Asti sudah sekolah SD, tapi mau bagaimana lagi kalau udah jadi sekarang!" kata Rudi sambil menekuk wajahnya
"Iya, aku bersyukur juga sih, tapi pusing, biaya hidup pasti bertambah! Carikan pekerjaan lain dong Al" keluh Rudi.
"Emmm, aku buka otlet baru, kalau kamu sanggup, silahkan kelola! bagaimana?"
"Oke..oke, aku mau Al, aku ingin belajar bisnis!" kata Rudi bersemangat, selanjutnya mereka membicarakan teknik bagi hasil dan sistem bisnis yang akan dikelola Rudi.
"Baiklah Al, terima kasih banyak, aku pulang dulu, Niha bisa ngomel kalau lama tak pulang-pulang!" kata Rudi pamit meninggalkan Aldi dan Nurmala. Matahari sudah bergeser meninggalkan siang. Nurmala menutup bedak tokonya.
Motor Aldi meliuk melewati jalanan, tangan Nurmala menggelayut di pinggang, tanpa kata bahasa cinta tampak dari gerak tubuh mereka.
❤️💙❤️💙❤️
"Akang tadi pagi mau mengatakan sesuatu ke aku kan? ayo sekarang aku sudah siap mendengarkan!" kata Nurmala, saat mereka duduk santai sambil menonton TV.
Sejenak Aldi mencerna maksud Nurmala. Menatap wajah Istrinya tercinta.
__ADS_1
"Kamu sudah janji tak akan marah?" Nurmala mengangguk dengan senyumnya. Kemudian satu persatu Aldi menceritakan kejadian itu kepada Nurmala.
"Haah, Akang terlalu!"
"Hei..hey..kamu sudah janji padaku tidak akan marah bukan?"
"Hemmmh, aku tidak marah, tapi kasihan pada Akang yang menderita karena terbakar rasa cemburu, pakai nangis di alun-alun lagi! Ooh Akang sayangku, sebegitu cinta kah kamu kepadaku?" tangan Nurmala mencubit kedua pipi suaminya dengan gemes.
Aldi mengangkat tubuh Nurmala di pangkuan, dan mengecupnya lembut. "I Love you full!"
Nurmala tersenyum sambil mengelus pipi Nurmala.
"Kang, Nihaya sudah hampir dua anak, kita kapan ya?" kata Nurmala lembut.
"Kamu mau buat anak sekarang?"
"Iiih, bukan begitu maksud aku Kang!" kata Nurmala sambil bangkit dari pangkuan Aldi.
"Maksudnya, aku juga ingin punya anak dari pernikahan ini, Kita sudah punya semuanya tapi anak belum punya, kapan ya ada sesuatu yang hidup di perut ini Kang?" Nurmala sambil menggelembungkan perutnya.
Aldi mendekatkan kepala ke perut Nurmala, sambil mendengarkan sesuatu.
"Sudah ada kok sayang?"
"Apa?"
"Cacing!"
Plak..plak. Nurmala memukuli punggung Aldi."Aaah, Akang ini, geli kalau ingat kata cacing dalam perut!"
"Hehehe, sabar ya sayang, Tuhan belum memberi kepercayaan untuk kita memiliki momongan!"
"Bagaimana kalau kita besok kembali ke dokter kandungan, lalu ikut program sekalian?"
"Emm, boleh!"
__ADS_1