Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Mendatangi Dokter


__ADS_3

Sore mulai datang saat Nurmala pulang ke rumahnya. Ruang produksi juga sudah tampak sepi tak ada seorangpun yang masih bekerja.


"Akang mandi duluan saja!" kata Nurmala setelah masuk rumah.


Aldi bergegas meletakkan atributnya kemudian menuju kamar mandi. Nurmala duduk di kursi tengah sambil memainkan ponselnya.


"Giliran kamu!" sapa Aldi saat keluar kamar mandi.


" Malam kita jadi ke dokter Fahri?" tanya Nurmala sambil mengambil handuk dari almari.


"Emm, bolehlah!" jawab Aldi.


Setelah Maghrib mereka berangkat ke dokter Fahri, seorang spesialis kandungan.


"Ada yang bisa Saya bantu?" tanya dokter Fahri ramah. Aldi memaparkan tujuannya, yakni ingin secepatnya memiliki keturunan.


"Berapa usia pernikahan kalian?"


"Emm, hampir delapan tahun Dok!" jawab Nurmala ragu.


"Cukup lama, tapi bukan berarti kalian tidak bisa memiliki anak, masih banyak keajaiban dan harapan karena semua Tuhan yang mengatur. Baiklah, kita periksa dulu masalahnya. Silahkan Mbak Nurmala mengikuti Suster ke ruang pemeriksaan!" Dokter menunjuk seorang suster yang sudah menunggu.


Dari petunjuk suster, Nurmala berbaring diatas dalam posisi siap untuk menjalani pemeriksaan. Dokter masuk, dengan Ultrasonografi (USG) dokter mencoba memeriksa bagian perut Nurmala.


"Emm, ada sesuatu disini. Suster siapkan camera dalam!"


Dokter Fahri kembali keluar ruangan, Nurmala diminta pindah posisi di tempat berbeda, sebuah ruangan yang lebih tertutup.


"Maaf Bu Nur, silahkan buka celana!" pinta suster.


"Saya mau diapain ini suster?"


"Ada sesuatu di saluran indung telur Anda Bu, dokter ingin memastikan jenisnya saja" Kata suster, dengan rasa gusar dan bingung Nurmala mengikuti permintaan suster.


"Silahkan naik Bu!" Nurmala diminta untuk berbaring ke sebuah ranjang.


"Permisi Bu!" suster mengangkat kaki Nurmala ke atas tatakan, hingga posisinya mudah untuk pemeriksaan jalan lahir.


"Wadaw, saya mau diapain sih suster?"

__ADS_1


"Rileks saja Bu, rasakan seperti saat berhubungan dengan Bapak!" kata suster sambil memasukkan sebuah alat dari logam dalam mulut ********, Nurmala meringis kesakitan.


"Busyeet, beda dong bendanya!" batin Nurmala mengumpat sambil menahan sakit bercampur nyeri di bagian intimnya.


"Sudah siap dokter!" Ucap Suster, dokter Fahri masuk duduk di depan komputer.


'Oke kita mulai suster!" pinta Dokter Fahri, suster memasukkan sebuah alat, semacam camera di ujung sebuah kabel yang dimasukkan melalui jalan lahir. Suster menggerakkan benda itu, dokter Fahri memberikan instruksi untuk memperjelas analisanya.


"Oke, cukup!" kata Dokter Fahri. Suster melepaskan peralatan itu dari tubuh Nurmala. Dia keluar dari tempat itu sambil meringis menahan nyeri di bagian bawah tubuhnya yang sudah diobok-obok.


Aldi dan Nurmala diminta kembali menghadap dokter. "Setelah dilakukan pemeriksaan, kami menemukan kista dalam tuba falopinya" ucap Dokter Fahri.


"Kista? berbahayakah dokter?" Aldi dan Nurmala terkejut mendengar keterangan dokter.


"Apakah itu artinya saya tidak bisa memiliki anak Dokter?" Nurmala terisak. Aldi mengelus punggung istrinya.


"Kista bukan tergolong penyakit berbahaya, tapi inilah yang selama ini menjadi penghalang"


"Apakah Nurmala harus melakukan operasi dokter?" tanya Aldi sambil memeluk istrinya.


"Emmm, terlalu berisiko, saya hawatir jika dioperasi justru akan merusak jaringan daerah sekitarnya. Kista ini tidak terlalu besar kok, hanya berukuran sekitar 3cm, masih bisa hilang dengan sendirinya dengan terapi dan obat-obatan" papar dokter. Aldi dan Nurmala menyimak dengan penuh perhatian.


"Alhamdulillah, masih bisa hilang sendiri Nur!" kata Aldi memberi support istrinya. Nurmala hanya mengangguk sambil menghapus air matanya. Dokter Fahri tersenyum melihat ekspresi mereka.


"Apanya yang akan di periksa dokter?" tanya Aldi kemudian.


"Saya beri rujukan, kapan terakhir anda berhubungan dengan istri?"


"Hehe...semalam dokter!" jawab Aldi malu-malu, Dokter hanya bisa tersenyum, baginya biasa, tapi bagi Aldi itu sebuah pertanyaan privasi yang memang harus dijawab.


"Oke, dua hari ke depan hindari berhubungan badan, setelah itu datanglah ke Dokter Spesialis Andrologi, di sini saya tuliskan rujukannya" kata dokter sambil menyodorkan sebuah kertas, Aldi mengamati tulisan itu dengan seksama, tapi tetap saja merasa kesulitan membacanya. Aldi memutuskan untuk tidak ingin memahami tulisan itu, tapi mengambil sifat maklum kalau memang begitulah tulisan dokter.


Merekapun pulang. Nurmala sesekali masih meringis menahan nyeri.


"Masih sakit ya Nur?" tanya Aldi.


"Iya Kang, begini amat ya orang pingin punya anak saja!"


"Ya beginilah ujian kita Nur, kita harus tetap berikhtiar semaksimal mungkin!" Nurmala menganggukkan kepala sambil memeluk tubuh Aldi.

__ADS_1


"Jangan dekat-dekat Nur, Dokter memintaku tidak berhubungan denganmu hingga dua hari ke depan!" Aldi berusaha melepaskan pelukan Nurmala.


"Iiih, Akang kalau hanya berpelukan tidak apa-apa kok. Lagian sisa pemeriksaan tadi masih sakit Kang, aku takut!" Nurmala merasa geregetan dengan ekspresi Aldi yang berlebihan.


"Tapi Nur, nanti aku jadi pingin!


"Hadeeeh, kalau begitu Akang tidur saja sendiri, jangan bareng aku!" Aldi cengar-cengir mendengar ucapan Nurmala. Selama ada istrinya, Aldi tak pernah tidur sendirian.


"Baiklah, demi masa depan kita, aku rela berkorban apa saja Nur, sayangku eemmuah!" Aldi memberikan cium jauhnya. Nurmala hanya bis tertawa melihat tingkah suaminya sambil membalas cium jauh dengan tangannya.


Dua malam Aldi berusaha nyaman tidur berjauhan dengan istrinya. Dan keesokan paginya mereka berangkat ke rumah sakit kota. Spesialis Andrologi, istilah asing bagi mereka, yang Aldi tahu itu adalah tempat periksa untuk laki-laki.


Aldi merasa kikuk saat mendapati senyum dan lirikan aneh saat registrasi, tapi dia tidak mengerti. Bersama istrinya, dia duduk menunggu panggilan dari ruang dokter.


Beberapa lama akhirnya giliran Aldi datang. Seorang Dokter memintanya masuk ke sebuah ruang pemeriksaan yang lebih tertutup.


Nurmala duduk di ruang tunggu.


Satu jam berselang akhirnya Aldi keluar dari ruangan Dokter. "Bagaimana Kang?" Nurmala menyambutnya dengan antusiasme tinggi.


"Hemmmh, sedih aku Nur! jawab Aldi.


"Mengapa? kok bisa begitu?"


"Aku kira hanya aku dan kamu saja yang tahu bagian terpentingku. Tapi dokter itu mengotak-atiknya, pakai diukur panjang dan besarnya, bahkan aku suruh mengeluarkan isinya segala Nur!" kata Aldi dengan ekspresi malu diliputi penyesalan.


"Relakan Kang, ini demi pengobatan bukan?" Aldi mengangguk menyetujui pendapat istrinya. Dengan secarik kertas mereka meninggalkan Ruang Andrologi dan kembali ke tempat praktek Dokter Fahri.


Nurmala mencoba membaca hasil uji laboratorium milik Aldi.


"Aah, aku nggak mengerti istilah-istilah ini!"


"Hahaha, ya mestilah, kamu kan jurusan IPS!"


"Hehehe, aku kan anak SMEA!"


Canda gurau akhirnya bisa mereka ciptakan untuk menghilangkan rasa sakit dan sedih di hati mereka berdua.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Teman-teman Author dan pembacaku yang baik hati, karena kesibukan di Riil Life (RL) maaf baru bisa update sekarang.


Tetap dukung aku ya! 🥰🥰


__ADS_2