
Aku Nurmala binti Samsudin, gadis dari kampung kecil di Jawa Barat. Aku anak sulung dari empat bersaudara yang tidak kaya. Orang tuaku bilang, "Sudah untung kamu bisa tamat SMA!" kata beliau saat aku menceritakan teman-temanku yang kuliah. Jadi, selesai sekolah tujuanku mencari kerja.
Nihaya, sepupu jauh yang sudah dua tahun berada di kota, mengajakku melamar di tempat dia bekerja, sebuah perusahaan garment di Bandung. Berbekal sertifikat kursus menjahit dan ijazah SMA, aku diterima.
Aku tinggal di sebuah mes kontrakan bareng Nihaya. "Nur, di tempatmu kerja nanti pengawasnya tegas, disiplin tinggi. Masih muda, tapi ampun galak kayak duda berkali-kali karena diselingkuhi istri!, hati-hati ya!" kata Nihaya saat tahu aku masuk di bagian produksi.
Aku takut, tapi juga penasaran sama pengawas yang dimaksudkan Nihaya.
Perusahaan punya peraturan, kalau semua karyawan harus sudah mengikuti apel pukul 07:30 WIB, tak boleh ada yang terlambat.
Pukul tujuh kurang seperempat kami sudah meninggalkan kamar. Niha sudah memiliki langganan angkot yang akan membunyikan klakson saat sudah sampai di depan kontrakan.
Pagi buta aku sudah bersiap, berusaha tidak terlambat di hari pertama masuk kerja. Orang bilang "Pamali!" baru masuk udah telat.
"Ayo Berangkat Nur!" seru Niha saat aku masih berada di dalam kamar, aku cepat-cepat keluar dan mengunci pintu, berlari menyusul Niha.
Kami butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke pabrik. Sebelum apel dimulai kami harus sudah sampai tujuan.
Karyawan yang didominasi kaum perempuan sudah ramai berkumpul di halaman pabrik, mereka menunggu atasan datang.
Bel akan dibunyikan seperti anak sekolah. Kepala bagian, dan semua pengawas berdiri di depan. Kami berjajar membentuk barisan. Wejangan semangat dan kedisiplinan setiap pagi di kumandangkan. Dan Ini hari baruku.
Apel selesai, semua karyawan masuk ke tempatnya masing-masing. Perasaan takut salah membuatku kurang rileks ketika bekerja.
Tapi aku tetap harus mencoba, "Jangan begitu memasangnya!" suara seorang laki-laki menegurku, suara itu seperti sangat familiar di telingaku, Aku menoleh, dia bertanya. "Siapa namamu, anak baru ya?!" aku menjawabnya dengan gugup.
Uuuh, rasanya jantungku mau copot, mungkin ini yang disebut-sebut pengawas galak itu. Yang bikin aku lebih kaget lagi, dia mirip sekali dengan mantanku, seseorang yang pernah aku cintai tapi sekaligus paling aku benci.
Oh Tuhan, mengapa aku bertemu lagi dengan sosok yang mirip sekali dengan dia?. Tapi dia mengajariku cara yang benar menjahit, jadi menurutku tidak terlalu menyeramkan. Tapi aku tak ingin melihat wajah itu, sekilas hidungnya, senyumnya mirip sekali dengan orang yang ingin aku lupakan.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Aku akui menggunakan ilmu Pak Aldi hasilnya lebih rapi dan halus.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu tak ada masalah. Pak Aldi hanya mengawasiku dari kejauhan, kadang berdiri di dekat mejaku, lalu pergi lagi berkeliling ke tempat lain. Aku cukup gembira dengan hasil pekerjaanku.
Sampai suatu malam pukul sepuluh, saat mataku ingin terpejam tiba-tiba pemadaman listrik. "Mati aku!" dan ternyata Nihaya juga tidak punya lilin ataupun lampu senter. Gelap adalah salah satu traumaku, Aku tidak bisa tidur jika gelap gulita.
"Niha!, Niha!" aku meraba tubuh Nihaya.
"Iya, tidur saja Nur, aku ngantuk!"
Aku terdiam, tak tega mengganggu Nihaya yang baru saja terlelap. Aku terus memejamkan mata, tapi tetap tak bisa terlelap.
Aku gelisah, membolak-balik tubuh seperti ikan panggang. "Kapan sih hidupnya?" gerutuku lirih, tapi tetap saja lampunya tak kunjung menyala. Bunyi jam di masjid menunjukkan pukul dua, "Ya Tuhan, aku kapan tidurnya?"
Tak lama kemudian lampu menyala "Alhamdulillah!" akhirnya aku bisa memejamkan mata.
Pukul lima aku mendengar Nihaya membangunkan aku , tapi mataku masih lengket tak bisa terbuka. Hingga pukul enam aku belum juga bisa terbangun.
"Nurmala, cantiiik!!, ayo kamu kerja tidak!?" Aku segera melompat ke kamar mandi, tapi perutku mules, jadi ketika angkot datang aku belum juga keluar dari kamar, akhirnya aku ditinggal.
Akhirnya ada angkot mendekat, "Ayo Pak, cepat Pak, aku telat nih!" pintaku ke sopir.
"Sabar Mbak, telat ya telat saja!" jawab ketus sopir angkot. Hatiku semakin gelisah, angkot terus melaju dan akhirnya aku sampai di pabrik.
Semua sudah berdiri berjajar.
Aku mendengar kata-kata dari kepala bagian yang sepertinya sudah hampir penutup, aku menyelinap di barisan belakang. Tapi sepertinya Pak Aldi sudah melihatku.
Apel selesai, semua menuju mesin, aku mendengar Pak Aldi memanggilku.
"Nurmala, ke kantorku sebentar!" Hatiku menciut, pasti akan kena marah.
Aku melangkah pelan masuk sebuah ruangan yang tidak besar bertuliskan "Ruang Pengawas"
__ADS_1
Aku tertunduk, karena aku mengaku salah.
"Mengapa kamu terlambat?" sekali lagi aku mengingat suara mantanku. Tapi aku harus menjawab pertanyaan ini. Dan aku ceritakan kejadian sebenarnya tentang ketakutanku pada kegelapan.
Sekilas Aku melihat wajah pak Aldi yang katanya galak itu seperti melembut, ada senyum di bibirnya yang berkumis tipis.
"Kembali ke pekerjaanmu, besok jangan telat lagi", kata-kata itu membuatku sangat lega.
Aku kembali ke mesinku, saat baru saja duduk, Soni datang memberondongku dengan pertanyaan. "Ada apa Nurmala?, Apakah Pak Aldi memarahimu?" Dia tampak bersimpati.
Saat aku bercerita, Pak Aldi keluar dari ruangannya, mendekati Soni. Wajah galaknya keluar "Soni, kembali ke pekerjaanmu!"
Soni clingukan seperti maling tertangkap basah, Soni bergegas menuju mesinnya.
Saat naik angkot, ternyata Pak Aldi juga ikut naik, aku merasa kikuk dan grogi melihat wajahnya, jadi aku lebih banyak diam memandang keluar jendela. Bayangan masa lalu mampir di pikiranku, membuatku semakin menikmati rasa yang sendiri. Angkot berhenti saat sampai di depan kontrakan, Kami pun turun.
Minggu kami libur, Soni menyusul mengajakku jalan-jalan menikmati pagi, aku mengajak Nihaya ikut serta. Beberapa lama kami jalan-jalan lalu duduk santai di alun-alun. Disana aku melihat Pak Aldi berjalan dengan temannya, pandangannya sesaat tertuju padaku.
"Pulang yuk!, aku bosan di sini" kataku pada Soni dan Niha. Akhirnya Kami berjalan di tempat lain, dan pulangnya naik angkot.
Ketika angkot melewati alun-alun, Pak Aldi juga ikut naik. Sekali lagi, melihat wajahnya teringat rasa sakit hati pada mantanku. Mereka berbincang-bincang banyak hal, seperti biasa aku lebih suka memandang ke luar jendela.
Sekilas aku memandang Pak Aldi sedang memperhatikanku, cepat-cepat aku palingkan pandanganku kembali keluar jendela angkot. Aku mendengar jelas suaranya. Dan oh, benar-benar mirip dengan mantanku.
Angkot berhenti saat Nihaya memintanya, aku pun ikut turun dan kembali ke kontrakan. Sepanjang hari wajah mantan dan wajah Pak Aldi terus berputar-putar dalam benakku.
Visualisasi Nihaya dan Nurmala
Biru : Nihaya
__ADS_1
Pink: Nurmala