
Aldi resah, dia kembali menelepon ponsel Nurmala, tapi jawaban operator masihlah lama.
Dia mencoba menelepon Nihaya, nada sambung berbunyi, tapi buru-buru dia matikan, karena takut mengganggu.
Aldi melempar ponselnya di atas kasur.
"Hemmmh!" rambut yang tak bersalah dia acak-acak sesuka hatinya.
Drrrt...drrrt, Aldi segera menyambar saat tahu teleponnya berbunyi.
"Hallo Rudi, kamu masih hidup?"
"Maksud Lo, aku dikabarkan mati?"
"Ehhe, maksudku kamu belum tidur?"
"Belum, Asti lagi rewel, ada apa kamu malam-malam begini menelepon Al? Seperti tak ada hari esok saja!" gerutu Rudi
"Rud, apakah Nurmala ada di rumahmu?"
"Nggak ada, aneh-aneh saja kamu kan suaminya mengapa mencari di rumahku?"
"Emmm, gak ada ya! Ya sudah kalau begitu!" Aldi menutup teleponnya.
"Siapa Mas?" tanya Nihaya.
"Aldi, mencari Nurmala"
"Jam segini mencari Nurmala? Kemana dia, mengapa tidak balik ke rumah?" Nihaya terkejut mendengar informasi suaminya, wajahnya tampak hawatir.
"Sudahlah sayang, biarkan saja. Nurmala sudah dewasa, pasti tahu jalan pulang!" kata Rudi santai.
"Iya Mas, tapi ada apa kok tumben sekali hingga jam segini Nurmala tidak pulang ke rumahnya, jangan-jangan??!"
"Aaaah, kau ini mikirnya jangan yang aneh-aneh, paling-paling dia pulang ke rumah emaknya!"
"Iya juga sih!" Nihaya menyerah, Asti yang sejak tadi rewel sudah pulas, Nihaya pun ingin ikut berisitirahat di sisi putrinya.
Aldi tampak masih terjaga, pandangan matanya menatap langit-langit kamar. Bayangan pertengkaran dirinya dan Nurmala kembali muncul. Dia pandangi telapak tangan kanannya.
__ADS_1
"Uuh, untung saja kau tidak melukai istriku!" Aldi memukul tangan kanannya sendiri dengan tangan kirinya.
"Nurmala, kemana kamu sayang? semoga kamu baik-baik saja!" gumamnya lirih. Tubuh lelahnya tak mampu lagi menahan pikiran pemiliknya yang masih ingin berkelana, dan akhirnya Aldi tertidur tanpa berganti pakaian.
❤️❤️❤️❤️
Pagi tiba, Nurmala menikmati berjalan-jalan ke pasar tradisional bersama ibunya. Wajahnya terlihat segar tapi kadang hatinya masih terasa sakit jika mengingat kejadian kemarin.
"Kamu beneran nggak ada masalah dengan suamimu Neng? cerita napa, jangan dipendam sendirian!" tanya Samira saat akan menaiki motor di parkiran. Tapi Nurmala tak menjawab.
"Ayo Buk, bicaranya di rumah saja!" katanya sambil membunyikan start motor. Samira bergegas memasang pantatnya di boncengan, sejurus kemudian motor Samsudin meliuk-liuk di jalanan pasar yang ramai.
Sepanjang jalan Nurmala memilih diam menikmati sejuknya udara dan hijaunya pepohonan teh perkebunan. Pemandangan yang tidak dia temukan ketika di Bandung. Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Samsudin muncul dari balik pintu.
"Nurmala, tadi handphone kamu berbunyi, Aldi menelepon!" kata Samsudin.
"Lalu Bapak bilang apa sama Kang Aldi?" Nurmala hawatir Aldi bicara masalah mereka kepada orang tuanya.
"Dia tanya kamu, ya aku bilang ke pasar sama ibumu, terus dia tutup!" jawab Samsudin, Nurmala merasa lega karena dia ingin orang tua tidak usah mengetahui masalahnya. Setelah memarkir motor, Nurmala bergegas mengambil ponselnya yang masih diisi daya.
"Tadi ada telepon juga dari Sya..Sya..siapa ya namanya?Oh ya Rasya, katanya teman kamu!" papar Samsudin.
"Hemmmh!" Nurmala menghembuskan nafas beratnya, kemudian diam mematung. Hatinya kembali resah.
"Ada apa Nur?" tanya Samira yang sejak kemarin terus saja mengawasi tingkah laku putrinya.
"Nggak ada Buk!" Nurmala kembali menghindar, masuk dalam kamar, melepas jaket kemudian memilih menyusul Bapaknya ke halaman belakang sambil menggendong si Blacky.
"Petik cabenya Nur, sudah merah-merah!" pinta Samsudin saat melihat Nurmala datang.
Nurmala mengikuti perintah Bapaknya, mengambil satu persatu buah cabe dan masukkannya dalam bakul. Dia menikmati, rasanya seperti kembali pada masa-masa remaja dan masih sekolah, saat libur dia memilih ikut berkebun.
Matahari semakin naik ke atas kepala, panasnya semakin terik, keringat bercucuran dari kening dan tubuh Nurmala maupun Bapaknya. "Pulang yuk Pak!" ajak Nurmala. Mereka berjalan beriringan mengikuti jalan setapak.
Belum sampai Nurmala masuk rumah, sebuah mobil kijang berwarna biru berbelok dan parkir di halaman. Aldi turun dari mobilnya.
"Assalamualaikum Pak?!" sapanya pada Bapak mertua, Nurmala hanya terdiam memandang.
Samsung melirik ekspresi wajah Aldi dan Nurmala, mereka berdua tampak canggung.
__ADS_1
"Tadi kamu di telepon nggak bilang mau kesini Al, tiba-tiba sudah sampai?" tanya Samsudin memecah kekakuan, mereka bertiga masuk rumah.
"Hehehe, lupa Pak!"
"Kamu naik mobil sendirian?"
"Nggak Pak, tadi bersama Rudi dan Nihaya, mereka turun di halaman rumahnya!" Samsudin mengangguk mendengar paparan Aldi, Nurmala masih belum mau bicara.
"Bikinkan teh suamimu Nur, kok malah bengong?!"
Nurmala berdiri bergegas menuju dapur, tak lama kemudian dia muncul kembali dengan dua cangkir teh untuk ayahnya dan Aldi.
"Ayo silahkan tehnya Al" perintah Samsudin sambil mengangkat cangkirnya diikuti Aldi.
"Ups!" Aldi langsung mendelik saat meminum tehnya. Nurmala menambahkan satu sendok garam di dalamnya. Nurmala tersenyum puas melihat ekspresi suaminya.
"Rasain Lo!" batinnya.
"Kenapa Al?" tanya Samsudin.
"Nggak ada Pak, cuma tersedak!" ucap Aldi sambil menelan ludahnya yang masih terasa sangat asin. Dia buru-buru mengambil kue yang tersaji di meja.
"Uhuk...uhuk..uhuk!" saat ini dia benar-benar tersedak, Aldi berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. Suaranya hingga terdengar Samira yang sedang memasak.
"Kenapa laki mu Nur?"
"Masuk angin kali Buk!"
Beberapa lama saat di dalam kamar mandi akhirnya Aldi keluar, Nurmala sudah menyambutnya dengan segelas air putih.
"Ampun deh Nur, maafin Akang ya!?" Aldi memelas sambil meringis memegangi perutnya. Nurmala bisa tersenyum, rasanya iba melihat wajah tampan Aldi yang terlihat pucat.
"Nanti malam makan di luar yuk!"
"Kemana Kang? ini desa pinggiran, bukan kota Bandung!" ucap Nurmala, hati Aldi seperti tersiram es saat bisa mendengar kembali suara Nurmala.
"Kemana sajalah, yang penting jalan-jalan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!"
"Emmm, baiklah! aku ikut saja!"
__ADS_1