Bahtera Cinta Nurmala

Bahtera Cinta Nurmala
Anak Pertama Nihaya


__ADS_3

Aldi dan Nurmala bergegas menuju rumah sakit menemui Nihaya yang akan melahirkan secara Caesar, janinnya sungsang. Kepala di atas dengan kaki tertekuk sebelah. Rudi memperlihatkan foto USG kepada Aldi dan Nurmala.


"Anakmu kayak kamu Rud, banyak tingkah!" cletuk Aldi.


"Iya, iya memang anakku, tapi sekarang bukan waktunya bergurau Al!" Rudi gusar.


"Kapan pelaksanaan operasinya?" tanya Nurmala.


"Rencananya hari ini, nunggu dokter!" papar Nihaya.


"Kuatkan hatimu Niha, InsyaAllah semua lancar" Nurmala menguatkan Nihaya yang sudah terbaring lemah di ruang bersalin. Rudi tampak tampak gelisah, duduknya tidak tenang. Kadang bolak-balik ke kamar mandi. Aldi hanya memandangi temannya itu tanpa kata.


Beberapa lama menunggu akhirnya Dokter datang memeriksa kondisi Nihaya. Dengan beberapa persiapan kemudian Nihaya didorong perawat menuju ruang operasi.


"Kamu pasti kuat Sayang!" bisik Rudi di telinga Nihaya sambil mengikutinya tubuh Niha yang bergerak bersama dipan. Nihaya hanya mengangguk memberi isyarat.


"Maaf Pak, hanya pasien yang diperbolehkan masuk ruang operasi!" perawat meminta Rudi menyingkir dari tubuh Nihaya yang sudah berada di pintu ruang operasi.


"Tenanglah Rud!, kita doakan di sini!" kata Aldi menenangkan Rudi yang semakin gelisah melepaskan Nihaya masuk ruang operasi.


"Ayo, kita berdoa!" Aldi memeluk tubuh Rudi yang masih terus bergerak. Dia mengajak ke musholla yang tidak jauh dari ruang operasi. Beberapa lama sholat dan berdoa mereka kembali keluar. Kini Rudi sudah tampak lebih tenang, dan memilih duduk di depan ruang operasi yang masih menyala lampu merah.


Kling! Pintu ruang operasi terbuka, seorang perawat keluar bersama seorang bayi mungil dalam box. "Anakmu Rud!" senggol Aldi.


Rudi segera berdiri mendekat.


"Alhamdulillah operasi berjalan lancar Pak, Ibu Nihaya masih dalam perawatan dokter!" kata perawat.


"Mbak, aku mau gendong untuk mengumandangkan adzan terlebih dahulu!" pinta Rudi. Suster mengangguk. Nurmala mengambil bayi dari dalam box, dia tersenyum gemes dengan wajah mungil itu, kemudian dia serahkan ke Rudi.


Suara serak Rudi mendayu di telinga mungil itu. Meski terdengar fals, tapi Rudi mengucapkannya dengan penuh penjiwaan seorang ayah. Aldi dan Nurmala ikut terharu dengan pemandangan di depan matanya. Makhluk kecil baru telah lahir ke dunia mereka.


Pintu operasi kembali terbuka, Nihaya masih belum sadarkan diri, didorong menuju ruang perawatan. "Niha, ini anak kita sayang, buka matamu!" Rudi sangat antusias.


"Tenang Pak, jika efek bius habis, nanti ibu akan sadar dengan sendirinya!" pinta perawat. Aldi kembali merangkul tubuh Rudi agar menjadi lebih tenang, supaya Suster bisa menjalankan tugasnya tanpa hambatan.


Rudi mengikuti Suster masuk ke ruang perawatan, begitu juga Aldi dan Nurmala.

__ADS_1


"Cewek apa cowok ya?" Nurmala bertanya-tanya.


"Cewek!" sahut Rudi. Nurmala kembali tersenyum melihat bayi Nihaya, batinnya sungguh gembira jika dia juga bisa memiliki bayi seperti Nihaya.


"Gendong saja biar cepat menular!" kata Rudi. Nurmala dengan kaku dan takut-takut menggendong bayi mungil itu. Sesekali dia ciumi pipinya yang masih merah. Aroma khas bayi menyeruak di kamar itu. Aldi ikut mendekati Nurmala.


"Kamu semakin cantik saat menggendong bayi Nur!" ucap Aldi.


"Hey.. hey...ini rumah sakit, bukan kamar kontrakan Al, main rayu saja!" cletuk Rudi yang masih duduk di samping Nihaya.


"Asti, Asti!" Nihaya tiba-tiba memanggil nama seseorang.


"Siapa Niha?" tanya Rudi.


"Nama anakku, Asti!" sahut Nihaya yang setengah sadar.


"Nama yang bagus!" dukung Nurmala. Mereka bertiga ikut menyukai nama yang Nihaya berikan. Sejenak suasana menjadi lengang, hanya suara tangis bayi dari ruangan sebelah.


"Kami pamit dulu ya Niha, Rudi?" Nurmala berdiri sambil menenteng tasnya. Dia kembali melongok ke box bayi. "Bude pergi dulu Asti!" kecup Nurmala ke pipi mungil anak Nihaya kemudian keluar dari kamar perawatan menyusuri koridor rumah sakit menuju tempat parkir motor.


"Kenapa di perutku belum bisa tumbuh bayi seperti Nihaya ya Kang?" tanya Nurmala mengelus perut dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menggelayut di lengan suaminya.


Matahari sudah semakin condong ke barat saat mereka sampai di rumah. Nurmala memilih duduk di ruang tamu, matanya menerawang, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan.


"Hey..! ada apa Nur, sayangku melamunkan anak ya?" tegur Aldi yang dijawab dengan ekspresi datar Nurmala.


"Nur, apakah kamu masih memikirkan anak?" Aldi kembali bertanya. Nurmala mengangguk.


"Ayo, kita buat lagi!" rayu Aldi sambil mendekatkan wajahnya ke pipi Nurmala. Tapi istrinya hanya diam tak merespon.


"Eemmuah!" Aldi menarik wajah Nurmala kemudian mengecupnya dengan keras.


"Iiih, Akang! membuyarkan lamunanku!"


"Kamu melamun apa sih Nur? panjang banget, diajak bicara sampai nggak menyahut!"


"Aku tidak hanya membayangkan punya bayi Kang, tapi aku punya ide rancangan tas untuk keperluan membawa peralatan bayi. Saat di rumah sakit aku melihat banyak sekali orang ribet dengan bawaan mereka Kang, dari situ aku punya ide untuk membuatkan mereka tas yang praktis sekali angkut, semua barang kebutuhan bisa terbawa tanpa ada kesulitan!" papar Nurmala bersemangat.

__ADS_1


"Wow, eemmuah! cerdas!" sekali lagi Aldi mengecupi pipi istrinya. Aldi berdiri mengambil secarik kertas dan pencil.


"Gambar! nanti aku yang akan menjahitnya" Aldi menyodorkan kertasnya. Nurmala menuangkan goresan idenya diatas kertas. Aldi mengamati sambil merangkul Nurmala.


"Kaang, tangannya!" tegur Nurmala yang merasa terganggu dengan jari-jari Aldi yang bergerilya di bagian-bagian tubuh dan wajah Nurmala.


"Eemmuah!" Aldi kembali mendaratkan ciumannya.


"Nanti dulu Kang, aku kan masih menggambar!" gerutu Nurmala dengan tingkah jahil suaminya.


"Lanjut nanti saja gambarnya, kita ke kamar dulu yuk sayang, aku ingin menjahit sekarang!" Bisik Aldi sambil mengangkat tubuh Nurmala.


Braakk! suara pintu menutup dengan keras kerena dorongan kaki Aldi. Nurmala terkejut dengan ekspresi tubuhnya.


"Ups, maaf sayang!" bisik Aldi.


Satu jam berlalu, akhirnya Nurmala kembali keluar kamar, sambil membawa lipatan handuk bersih Nurmala menuju dapur. Setelah satu gelas teh panas tersaji, dia baru menuju kamar mandi. Tak lama kemudian Aldi juga keluar dari kamarnya, menghampiri cangkir teh dan membawanya duduk santai sambil menunggu Nurmala sambil memandang secarik kertas hasil gambaran tas Nurmala.


Aldi tampak serius membayangkan bahan, corak, aksesoris, taksiran harga, sasaran pasar, promosi berkelebatan dalam pikirannya. Sesekali dia seruput tehnya. Suara guyuran air masih terus terdengar dari kamar mandi.


Aldi mengambil pensil, mencoba menyempurnakan ide Nurmala dengan menambahkan pernak pernik khas anak kecil yang lucu.


Ceklek


Nurmala keluar kamar mandi dan mendapati suaminya yang serius duduk di kursi dapur.


"Lucu Kang!" komentar Nurmala saat melihat gambar baby bear di permukaan tas rancangannya.


"Kita buat sampel pertama untuk Asti!" kata Aldi setelah menyelesaikan gambarnya.


*********


Maaf teman-teman Author dan reader tercinta baru bisa update hari ini, karena sibuk dengan persiapan lebaran dan anjangsana keluarga besar.


Saya ucapkan Minal Aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin buat semuanya.


Maaf jika selama bersama kalian banyak berbuat salah yang tidak disengaja. Misalnya telat balas komentar, lupa feedback, salah komentar, banyak typo dalam menulis, telat update dan lain sebagainya.

__ADS_1


Sekali lagi maafkan lahir dan batin🙏🙏❤️❤️❤️🥰🥰🥰


__ADS_2