
Keesokan harinya Aldi mengajak Nurmala ke showroom mobil, memilih warna, type, merk keluaran terbaru dengan menyesuaikan kantong yang mereka miliki.
"Kamu yakin memilih yang ini Nur!?" tanya Aldi yang berada di depan kemudi mobil Kijang LX warna biru tua. Nurmala duduk di sampingnya sambil memeriksa bagian interiornya.
"Aku mantap yang ini Kang daripada warna abu-abu, atau merah" Kata Nurmala memantapkan pilihan sekaligus memberi keyakinan Aldi untuk membayarnya.
Semua sudah Aldi bereskan, pelan-pelan Aldi mengemudikannya mobil barunya menapaki jalan raya, meski sudah bisa menyetir tapi dia butuh jam terbang lebih jauh.
"Kok mati Kang!" kata Nurmala terkejut karena saat di tikungan mobil barunya mati.
"Santai Nur, belum terbiasa, koplingnya belum balance!" kata Aldi sambil menyalakan kembali mobilnya. Klakson mobil di belakang mereka bersautan meminta agar tidak menghalangi jalan.
Sesaat kemudian Aldi kembali melaju, keringat bercucuran di dahinya. Pelan tapi pasti dia kembali melaju di jalan raya, dan akhirnya sampai di depan kontrakan Nihaya.
Tin..tiin, Aldi sengaja membunyikan klakson agar Rudi dan Nihaya keluar rumah.
"Ee...ada bude Nur!" kata Nihaya saat keluar bersama Asti dalam gendongannya.
"Assalamualaikum Asti?!" sapa Nurmala kepada baby Asti dalam gendongan Nihaya. Gadis mungil yang berusia 5 bulan itu tertawa-tawa saat menatap wajah Nurmala.
Mulut kecil yang belum tumbuh gigi itu sangat menggemaskan saat terpingkal-pingkal dengan gurauan Nurmala.
"Mobil baru ya Al?" tanya Rudi sambil mendekati mobil Aldi yang terparkir di depan kontrakannya.
"Iya Rud, mempermudah pengiriman barang ke luar kota, kalau pakai motor capek dan tidak muat banyak!" papar Aldi.
"Keren, keren!" puji Rudi sambil mengelus bagian body mobil. Aldi tampak tersenyum bangga dengan pencapaiannya.
"Masuk yuk!" Rudi mengajak Aldi mengikuti istrinya masuk dalam rumah. Nurmala tampak sangat senang menggendong Asti sambil bergoyang dan bernyanyi agar baby itu bisa tertawa gembira. Nihaya menyiapkan minuman di dapur.
"Asti...Ciluuk...ba!... Ciluuk ba!" Aldi mengajak komunikasi Asti yang sedang dalam gendongan Nurmala. Dia terkekeh mendengar gurauan Pakde nya itu.
Sesaat kemudian Nihaya keluar dari ruang belakang dengan dua buah cangkir teh hangat.
"Kamu sudah periksa lagi Nur?" tanya Niha.
"Periksa apa, aku sehat-sehat saja kok!" jawab Nurmala santai.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin segera memiliki anak lucu dan menggemaskan seperti Asti? permata hati pelipur lara" tanya Rudi.
,Aldi hanya terdiam, dalam hatinya sangat ingin memiliki anak, tapi bagaimana lagi jika belum diberikan juga.
"Ah, dibuat santai sajalah Rud, nanti kalau memang sudah waktunya kami juga akan memiliki anak!" jawab Nurmala, semua terdiam.
"Eh iya, aku lupa, tadi aku membeli sesuatu untuk Asti!" Nurmala menyerahkan Asti pada ibunya, kemudian dia bergegas membuka pintu mobil untuk mengambil sebuah bungkusan.
"Ini untuk kamu cantik!" kata Nurmala memperlihatkan bungkusan di depan wajah mungil Asti, baby itu segera meraihnya.
"Aih pinternya, udah ngerti!" Nurmala sambil mencubit gemas pipi chubby Asti. Gadis mungil itu merengek meminta gendong Nurmala. Nihaya membuka bungkusan hadiah dari Nurmala.
"Cakep pisan bajunya Nur!" kata Niha dengan gembira.
"Itu sebagai rasa terima kasihku karena ikut membantu promosi tas baby aku Niha!" Nurmala tersenyum gembira.
"Aku ke kamar mandi dulu Asti sayang!" kata Nurmala sambil mengelus rambut Asti. Dia bergegas ke ruang belakang kontrakan Niha.
Ting..tung..tung..Ting.. tung..tung
"Ponselmu Nur!" teriak Aldi kepada Nurmala.
Akhirnya Aldi mengambil ponsel Nurmala.
"Rasya? Assalamualaikum mas Rasya, bagaimana kabarnya?" sapa Aldi saat menyambung telepon Rasya.
"Ada barang baru dan bagus Mas!" Aldi mempromosikan produk barunya, Rasya berjanji akan datang melihat jika ada kesempatan datang ke Bandung. Rasya kemudian menutup teleponnya.
"Siapa Kang?" tanya Nurmala saat dia melihat Aldi berbicara di ponselnya. Nurmala hanya diam saat tahu dari Rasya.
"Kita pulang Nur, kita harus bersiap!"
"Bersiap kamana?" tanya Nihaya.
"Besok pagi Kami ke Blitar!" Nurmala berdiri sambil menylempangkan tasnya. "Bude pulang dulu Asti" katanya sambil mengecup pipi Asti yang tertidur dalam gendongan Nihaya.
Aldi dan Nurmala melambaikan tangan, kemudian meninggalkan halaman kontrakan Nihaya. Sesampainya di rumah, Nurmala langsung mempersiapkan barang dan bekal yang akan dibutuhkan dalam perjalanan perdananya ke kota kelahiran Aldi.
__ADS_1
Ada rasa berdebar, sekaligus haru dalam hati Nurmala saat membayangkan pertemuannya dengan keluarga Aldi, terutama Lila adik perempuan Aldi yang sangat ingin bertemu dengannya.
Pagi buta Aldi dan Nurmala sudah bersiap mengunci rumah dan ruang produksi yang untuk dua hari ke depan mereka liburkan.
"Bismillah, berangkat!" bisik mulut Aldi saat mulai membuka start mobilnya.
Mobil baru itu tampak mengkilat saat sinar matahari pagi mulai menerpa punggungnya yang bergerak diatas jalanan. Lalu lintas yang semula lengang kini sudah ramai dengan kendaraan bermotor. Aldi memacu mobilnya dengan hati-hati.
Menjelang tengah hari mereka sudah memasuki gerbang kota. " Kita istirahat dulu Nur!" kata Aldi sambil mencari posisi parkir di sebuah rest area. Mereka keluar kemudian mencari posisi duduk yang nyaman.
"Mas Aldi ya?" seorang wanita menyapa Aldi.
"Anisa?" balas Aldi sedikit terkejut, karena tak menyangka akan bertemu dengan mantannya di tempat itu.
"Anisa, ini Nurmala, istriku!" Aldi menunjuk ke tempat Nurmala berdiri. Anisa mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan disambut hangat oleh tangan Nurmala.
"Anisa temanku waktu masih di SMA Nur!" papar Aldi, Nurmala hanya tersenyum ramah.
"Kamu sendirian saja Anisa?" tanya Nurmala saat tak melihat siapapun yang bersama Anisa. Tapi setelah beberapa lama berbincang muncul seorang laki-laki bersama dengan seorang anak laki-laki, yang Anisa sebut suami dan anaknya.
"Anisa, ini kartu namaku. Jika butuh tas atau berbisnis tas, silahkan hubungi nomorku!" kata Aldi sambil mengulurkan card dari dompetnya. Anisa tersenyum, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi anehnya dia naik motor sendirian, meninggalkan orang yang dia sebut suami dan anaknya itu.
"Mereka berdua beneran keluarga Anisa?" tanya Nurmala heran.
"Kata dia begitu, tapi sudahlah! itu urusan dia Nur, kita makan dulu yuk, perutku lapar!" Aldi meminta Nurmala mengeluarkan bekalnya.
Beberapa lama beristirahat, rasa lelah sudah tidak lagi bersama, Aldi kembali mengemudikan mobil menuju kampungnya.
"Kang Aldi dulu akrab dengan Anisa?" Nurmala masih memikirkan teman SMA Aldi itu.
"Ya lumayan, tapi nggak terlalu mengerti kehidupannya sekarang. Ah sudahlah Nur, mengapa kamu terus ingin membicarakan Anisa sih?" Aldi merasa tak nyaman jika harus mengingat kembali masa lalunya.
"Aku merasa ada sesuatu gitu Kang!" Nurmala mengikuti firasatnya.
"Aah, nggak ada! Lihat Nur itu dulu sekolahku! banyak sekali kenangan di sini" kata Aldi sambil tersenyum saat melewati sebuah gedung sekolah SMA. Aldi menghentikan mobilnya sejenak, bangunan itu tampak sepi.
"Hehehe, pasti Akang dulu punya pacar di sini ya?" ledek Nurmala. Aldi hanya tertawa mengenang masa itu.
__ADS_1
"Yaa, itu kan masa lalu, masa depanku adalah kamu Nur!"